BARU-BARU INI, sebuah pesan singkat masuk ke ponsel saya. Isinya singkat, tapi menusuk: “Pemateri yang profesional membawa perspektif, bukan membawa agenda politik organisasi ke dalam ruang akademik.”
Lalu, kalimat penutupnya yang lebih getir: “Ketika kepentingan organisasi lebih dominan daripada substansi keilmuan, forum akademik kehilangan ruhnya.”
Saya membaca ulang pesan itu beberapa kali. Bukan karena isinya asing, justru sebaliknya, karena ia mengungkapkan sesuatu yang sudah lama terasa di udara, tetapi jarang diucapkan terang-terangan.
Mari kita bicara jujur. Kita semua pernah hadir di seminar, kuliah umum, atau lokakarya yang seharusnya menjadi ruang bertukar pikiran. Namun, di tengah presentasi, ada sesuatu yang mengganjal. Slide demi slide terasa seperti disusun bukan untuk mencerahkan, melainkan untuk meyakinkan. Bukan untuk membuka wawasan, tetapi untuk menggiring opini.
Pembicara yang seharusnya menjadi pembawa perspektif, tiba-tiba berubah menjadi salesman yang menjual narasi yang entah sudah disetujui oleh siapa di balik layar.
Ada bedanya, soal, antara perspektif dan agenda.
Perspektif itu datang dari olah pikir panjang, pengalaman lapangan, serta kajian yang terbuka untuk diuji dan disanggah. Ia hadir sebagai sumbangan, bukan sebagai perintah. Seorang pemateri yang membawa perspektif tahu posisinya: ia di sana untuk mencerahkan, bukan untuk merekrut; untuk membuka ruang tanya, bukan untuk menutupnya.
Agenda? Itu hal lain sama sekali.
Agenda punya target. Ada poin-poin yang harus tercapai, ada sikap yang harus dibentuk, dan ada pilihan yang harus diarahkan. Ketika agenda sebuah organisasi, apa pun namanya, apa pun warnanya, diselipkan ke dalam materi akademik, yang terjadi bukanlah diskusi ilmiah. Yang terjadi adalah pembajakan.
Ruang publik yang seharusnya netral direbut untuk kepentingan privat. Audiens yang seharusnya menjadi pencari ilmu direposisi menjadi target pengaruh.
Saya pernah menyaksikan sendiri bagaimana sebuah diskusi ilmiah berubah suasana. Awalnya semua berjalan normal. Data ditampilkan, argumen disusun. Lalu, tiba-tiba, di pertengahan sesi, nada bicara berubah.
Yang tadinya analisis berubah menjadi ajakan. Yang tadinya fakta dilapisi dengan narasi kepentingan. Peserta yang mencoba mengajukan pertanyaan kritis dipandang sebelah mata, bukan sebagai bagian dari proses belajar, melainkan sebagai gangguan.
Di ruangan ber-AC itu, saya merasa sesuatu yang penting baru saja mati.
Ruh akademik memang sesuatu yang tidak bisa dilihat, tetapi bisa dirasakan ketika ia hilang.
Forum akademik itu rumahnya kebebasan berpikir. Di sinilah dosen, peneliti, praktisi, dan mahasiswa bertemu setara. Argumen diuji bukan berdasarkan siapa yang berbicara, melainkan seberapa kuat bukti dan rasionalitasnya.
Namun, ketika podium dijual untuk kepentingan politik, ruangan itu menjadi dingin. Ia berubah dari tempat pencarian kebenaran menjadi panggung seremonial yang kosong.
Pertanyaan-pertanyaan kritis dianggap perlawanan. Perbedaan pandangan dianggap ancaman. Dan di tengah semua itu, yang paling dirugikan adalah mereka yang datang dengan tulus ingin belajar.
Dampaknya tidak berhenti di ruangan seminar.
Ketika generasi muda terbiasa menerima narasi tertutup tanpa dilatih memverifikasi fakta, kita sedang mencetak lulusan yang patuh tetapi tidak kritis. Ketika masyarakat mulai curiga bahwa apa yang disajikan sebagai ilmu sebenarnya hanya kamuflase politik, kepercayaan terhadap institusi pendidikan akan terus rapuh.
Dan ketika penelitian tidak lagi didorong oleh rasa ingin tahu, melainkan oleh kepatuhan pada garis kebijakan tertentu, peradaban ilmiah kita akan mandek di tempat.
Ini bukan soal siapa yang berpidato. Ini soal apakah ruang itu masih punya nyawa.
Tentu saja, seorang akademisi tidak harus steril dari nilai dan pandangan pribadi. Manusiawi saja untuk punya keberpihakan. Namun, yang membedakan adalah kejujuran.
Kejujuran untuk membedakan mana fakta yang teruji, mana interpretasi yang masih bisa diperdebatkan, dan mana sikap pribadi atau organisasional. Kejujuran untuk memberi ruang bagi audiens menyimpulkan sendiri, tanpa dipaksa menerima satu kebenaran tunggal.
Dan bukan hanya pemateri yang bertanggung jawab. Penyelenggara forum pun punya peran.
Mengundang pembicara yang diketahui membawa agenda tertentu, lalu membiarkannya menggunakan podium untuk hal di luar tujuan akademik, adalah bentuk pengkhianatan terhadap ruang itu sendiri.
Auditorium bukan mimbar kampanye. Laboratorium bukan kantor cabang.
Indonesia punya cita-cita melahirkan generasi yang kritis, mandiri, dan berintegritas. Namun, cita-cita itu akan terus menjadi angan-angan jika kita terus membiarkan ruang akademik dijadikan ladang pengaruh.
Ruh akademik adalah ruh kebebasan dan tanggung jawab bersama. Ia harus dijaga, bukan hanya diperingati.
Jadi, tugas kita bukan sekadar mengkritik, tetapi mulai dari diri sendiri. Bersikap jujur saat berbicara di depan publik. Berani menolak ketika diminta menyampaikan sesuatu yang tidak sesuai fakta dan nalar. Terus mengingatkan bahwa ilmu adalah milik semua orang, bukan alat kekuasaan.
Karena pada akhirnya, yang akan diingat dari sebuah forum akademik bukan siapa yang paling lama berpidato, tetapi apakah ruang itu telah mencerahkan atau justru menggelapkan.
Mari rawat ruh akademik. Di sanalah, entah kita sadari atau tidak, masa depan bangsa sedang dipertaruhkan.
Penulis: Wefiyulloh, Kader HMI Cabang Bangkalan Komisariat Al-Gazali.
















