Opini

Kado Pernikahan Ahmad Daifi Al-farrozi: Menyemai Cinta, Menegakkan Amanah, dan Menapaki Jalan Kenabian

890
×

Kado Pernikahan Ahmad Daifi Al-farrozi: Menyemai Cinta, Menegakkan Amanah, dan Menapaki Jalan Kenabian

Sebarkan artikel ini
Achmad Muhlis. Foto/Ist.

UNGKAPAN syukur atas dipertemukannya dua perjalanan hidup sekaligus menjadi penanda bahwa sejak hari itu, cinta tidak lagi hanya menjadi rasa, tetapi berubah menjadi tanggung jawab.

Di dalamnya terdapat doa, harapan, silaturahmi, dan kesaksian sosial bahwa dua manusia telah memilih untuk berjalan bersama, bukan hanya ketika jalan kehidupan dipenuhi bunga, tetapi juga ketika harus melewati kerikil, hujan, dan lorong-lorong panjang yang tidak selalu mudah.

Pernikahan adalah seni menyatukan dua dunia tanpa menghilangkan keunikan masing-masing. Dua pribadi datang membawa masa lalu, pengalaman, kebiasaan, impian, dan cara pandang yang tidak selalu sama.

Karena itu, rumah tangga bukan tempat untuk mencari manusia yang sempurna, melainkan ruang untuk belajar menjadi manusia yang lebih baik dalam mencintai, memahami, memaafkan, dan bertanggung jawab.

Di sanalah cinta menemukan bentuknya yang paling dewasa. Bukan sekadar berkata, “Aku mencintaimu,” tetapi mampu berkata, “Aku akan menjagamu ketika engkau lemah, menghormatimu ketika kita berbeda, dan tetap menggenggam tanganmu ketika kehidupan tidak berjalan sebagaimana yang kita harapkan.”

Empat sifat kenabian, yakni ṣiddīq, amānah, tablīgh, dan faṭānah, dapat menjadi kompas etik bagi pasangan dalam meniti bahtera keluarga.

Ṣiddīq mengajarkan bahwa rumah tangga harus dibangun di atas kejujuran. Cinta tanpa kejujuran mudah berubah menjadi kecurigaan, sedangkan kejujuran memberikan ruang bagi lahirnya kepercayaan. Suami dan istri tidak hanya dituntut jujur dalam perkataan, tetapi juga dalam niat, sikap, harapan, dan tanggung jawab.

Sebab, rumah yang paling kokoh bukanlah rumah yang tidak pernah memiliki masalah, melainkan rumah yang penghuninya tidak saling menyembunyikan kebenaran. Kejujuran adalah cahaya yang membuat dua hati mampu melihat satu sama lain tanpa topeng.

Amānah mengajarkan bahwa pasangan bukan sekadar seseorang yang dicintai, tetapi seseorang yang dipercayakan Allah untuk dijaga kehormatan, perasaan, keselamatan, dan masa depannya. Pernikahan adalah amanah yang jauh lebih dalam daripada sekadar status sosial.

Ada hati yang harus dijaga agar tidak terluka, ada kehormatan yang harus dipelihara, ada anak-anak yang kelak mungkin lahir dan membutuhkan keteladanan, serta ada keluarga besar yang berharap agar ikatan tersebut menjadi jalan menuju kemaslahatan.

Maka, menjadi pasangan berarti belajar menjaga apa yang dipercayakan Allah, bahkan ketika tidak ada seorang pun yang melihat.

Tablīgh mengajarkan pentingnya menyampaikan kebenaran dan kebaikan dengan cara yang bijaksana. Banyak rumah tangga tidak runtuh karena tidak memiliki cinta, tetapi karena kehilangan komunikasi.

Perasaan yang tidak disampaikan berubah menjadi prasangka, masalah yang tidak dibicarakan berubah menjadi jarak, dan kekecewaan yang terus disimpan perlahan menjadi dinding di antara dua hati.

Karena itu, pasangan harus belajar berbicara bukan untuk memenangkan pertengkaran, tetapi untuk menemukan pengertian. Berkomunikasi bukan sekadar menyampaikan kata-kata, melainkan menghadirkan hati agar yang berbicara dan yang mendengar sama-sama merasa dihargai.

Sementara faṭānah mengajarkan kecerdasan dalam menjalani kehidupan. Rumah tangga membutuhkan kecerdasan emosional untuk memahami perasaan, kecerdasan spiritual untuk menerima ketentuan Allah, kecerdasan sosial untuk membangun hubungan dengan keluarga dan masyarakat, serta kecerdasan praktis untuk mengelola ekonomi, pendidikan anak, dan berbagai persoalan kehidupan.

Cinta membutuhkan kebijaksanaan agar tidak menjadi egoisme. Ketegasan membutuhkan kelembutan agar tidak berubah menjadi kekerasan. Perbedaan membutuhkan kecerdasan agar tidak berubah menjadi permusuhan.

Pernikahan bukan tentang dua manusia yang berjanji bahwa hidup akan selalu mudah.

Pernikahan adalah keberanian dua insan untuk mengatakan bahwa dalam keadaan mudah maupun sulit, mereka akan berusaha tetap menjadi tempat pulang bagi satu sama lain.

Sebab, rumah yang sesungguhnya bukan sekadar bangunan yang memiliki pintu dan jendela, tetapi hati yang di dalamnya seseorang merasa diterima, dihargai, dimengerti, dan didoakan.

Pernikahan juga menjadi ruang untuk mengingat bahwa setelah pesta usai, kehidupan yang sebenarnya justru dimulai. Musik akan berhenti, para tamu akan pulang, pelaminan akan dibongkar, pakaian indah akan disimpan, dan lampu-lampu perayaan akan padam.

Namun, setelah semuanya selesai, yang tersisa adalah dua insan yang harus belajar menjaga janji dalam sunyi kehidupan sehari-hari.

Ketika cinta tidak lagi berbentuk bunga, tetapi berbentuk kesabaran. Ketika kasih sayang tidak lagi hanya berupa kata-kata, tetapi berupa pengorbanan. Ketika kebahagiaan tidak selalu hadir dalam kemewahan, tetapi ditemukan dalam kesederhanaan secangkir kopi, percakapan selepas lelah, doa yang diam-diam dipanjatkan, dan tangan yang tetap menggenggam ketika dunia terasa berat.

Maka, semoga pernikahan ini menjadi perjalanan menuju keluarga yang ṣiddīq dalam kejujuran, amānah dalam tanggung jawab, tablīgh dalam komunikasi dan keteladanan, serta faṭānah dalam menghadapi setiap persoalan kehidupan.

Semoga cinta keduanya tidak hanya tumbuh karena pertemuan, tetapi bertahan karena kesetiaan. Tidak hanya indah ketika dipandang manusia, tetapi juga bernilai ketika dipandang Allah.

Selamat menempuh kehidupan baru.

Semoga cinta menjadi ibadah, kesetiaan menjadi akhlak, rumah menjadi madrasah, keluarga menjadi sumber keberkahan, dan setiap langkah bersama menjadi jalan menuju rida Allah SWT.

*) Penulis: Achmad Muhlis. 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Opini

Dan merdeka adalah ketika masyarakat memiliki keberanian untuk menentukan arah pembangunan daerahnya sendiri secara demokratis dan konstitusional.

Madura tidak membutuhkan romantisme kosong tentang perjuangan. Madura membutuhkan kesadaran baru.

Opini

Kemerdekaan seharusnya bukan sekadar kemampuan mengibarkan bendera tanpa takut ditembak penjajah. Kemerdekaan adalah ketika seorang petani dapat hidup layak dari tanahnya, nelayan tidak terus-menerus menjadi korban kebijakan, pedagang kecil mendapatkan perlindungan, anak-anak memperoleh pendidikan yang baik, dan masyarakat dapat menyampaikan kritik tanpa harus merasa menjadi musuh negara.