BeritaDaerah

7 Tokoh Berebut Kursi Ketum PBNU di Muktamar ke-35, Siapa Paling Berpeluang?

891
×

7 Tokoh Berebut Kursi Ketum PBNU di Muktamar ke-35, Siapa Paling Berpeluang?

Sebarkan artikel ini
Tujuh tokoh masuk bursa calon Ketua Umum PBNU pada Muktamar ke-35. Foto/Kliktimes.

JOMBANG, KLIKTIMES.ID – Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-35 menjadi salah satu momentum penting bagi organisasi kemasyarakatan Islam terbesar di Indonesia. Sejumlah nama mulai mencuat dalam bursa calon Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).

Sedikitnya ada tujuh tokoh yang disebut memiliki peluang untuk bersaing memperebutkan kursi Ketua Umum PBNU. Mereka berasal dari berbagai latar belakang, mulai dari ulama pesantren, pengurus NU, hingga birokrat.

Berikut tujuh tokoh yang masuk dalam bursa calon Ketua Umum PBNU dengan latar belakang, gagasan, dan basis dukungan yang berbeda:

1. KH Yahya Cholil Staquf

KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya lahir pada 16 Februari 1966. Ia merupakan Ketua Umum PBNU petahana.

Gus Yahya secara resmi menyatakan niat untuk kembali memimpin PBNU pada 22 Juli 2026. Dalam pencalonannya, ia membawa gagasan keberlanjutan organisasi dengan penekanan pada kemandirian NU.

Visinya bertumpu pada gagasan “Merawat Jagat, Membangun Peradaban”. Selain itu, ia mendorong penguatan posisi NU dalam diplomasi global serta upaya penyelesaian berbagai konflik internasional.

2. Prof. KH Nasaruddin Umar

Nama berikutnya adalah Prof. KH Nasaruddin Umar. Tokoh yang lahir pada 23 Juni 1959 ini saat ini menjabat sebagai Menteri Agama Republik Indonesia.

Nasaruddin Umar dikenal memiliki pengalaman panjang di bidang keulamaan dan birokrasi. Ia juga dipercaya sebagai Imam Besar Masjid Istiqlal.

Gagasan yang dibawanya banyak menonjolkan narasi harmoni dan persatuan umat. Dukungan dari sejumlah cabang NU di luar Jawa juga membuat namanya dipandang membawa semangat desentralisasi dalam kepemimpinan organisasi.

3. KH Abdul Hakim Mahfudz

Dari lingkungan pesantren, muncul nama KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin. Ia lahir pada 17 Agustus 1958 dan merupakan Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang.

Gus Kikin merepresentasikan salah satu pusat sejarah penting dalam perjalanan NU. Nama besar Tebuireng menjadi salah satu kekuatan tersendiri dalam peta kepemimpinan organisasi.

Ia dinilai membawa karakter pesantren tradisional yang kuat. Otoritas keilmuan serta sejarah panjang Tebuireng membuat sosok Gus Kikin cukup diperhitungkan dalam bursa Ketua Umum PBNU.

4. KH Muhammad Yusuf Chudlori

KH Muhammad Yusuf Chudlori atau Gus Yusuf juga masuk dalam bursa calon Ketua Umum PBNU. Ia merupakan Pengasuh Pondok Pesantren API Tegalrejo.

Gus Yusuf disebut telah menyatakan kesiapan maju setelah memperoleh dukungan dari 23 PCNU di Jawa Tengah.

Ia banyak menyerap aspirasi dari kalangan akar rumput. Isu kesejahteraan warga NU, penguatan ekonomi, serta dakwah kultural menjadi bagian dari gagasan yang dibawanya.

5. KH Abdul Ghaffar Rozin

Nama lainnya adalah KH Abdul Ghaffar Rozin atau Gus Rozin. Ia menyatakan kesiapan maju dalam forum silaturahim ketua PCNU se-Jawa Tengah pada pertengahan Juli 2026.

Gus Rozin menawarkan perhatian besar terhadap sektor pendidikan. Ia mendorong paradigma pendidikan yang lebih adaptif terhadap perkembangan zaman.

Gagasan tersebut berupaya mempertemukan tradisi keilmuan pesantren dengan kebutuhan akademis dan profesionalitas modern.

6. KH Zulfa Mustofa

Dari kelompok regenerasi, muncul nama KH Zulfa Mustofa. Ia lahir pada 7 Agustus 1977 dan saat ini menjabat sebagai Wakil Ketua Umum PBNU.

KH Zulfa dikenal memiliki kemampuan menciptakan syair-syair berbahasa Arab secara spontan. Ia juga memiliki basis keilmuan fikih yang kuat.

Dalam bursa calon Ketua Umum PBNU, ia menawarkan perpaduan antara khazanah keilmuan klasik dan tata kelola organisasi yang lebih dinamis.

7. KH Abdussalam Shohib

Tokoh terakhir adalah KH Abdussalam Shohib atau Gus Salam. Ia merupakan Pengasuh Pondok Pesantren Tambakberas, Jombang.

Gus Salam yang kini berusia 49 tahun dikenal cukup aktif menyuarakan pentingnya keseimbangan dalam pengelolaan organisasi.

Ia mendorong adanya mekanisme check and balance di internal NU. Menurut gagasan yang dibawanya, NU perlu tetap berpijak pada prinsip keadilan dan kemaslahatan umat, terutama bagi warga Nahdliyin.

Tujuh Nama, Beragam Gagasan

Munculnya tujuh nama tersebut menunjukkan bahwa bursa Ketua Umum PBNU memiliki spektrum gagasan yang cukup beragam.

Ada tokoh yang menawarkan kesinambungan kepemimpinan, penguatan pesantren, pembaruan pendidikan, hingga regenerasi organisasi.

Persaingan dalam Muktamar NU ke-35 diperkirakan tidak hanya akan berkaitan dengan figur yang maju, tetapi juga menyangkut arah dan masa depan NU dalam menghadapi berbagai tantangan zaman.

Dengan beragam latar belakang dan basis dukungan yang dimiliki masing-masing tokoh, dinamika menuju Muktamar NU ke-35 dipastikan menjadi perhatian warga Nahdliyin di berbagai daerah.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *