Opini

Tempo Berjudi di Madura

890
×

Tempo Berjudi di Madura

Sebarkan artikel ini
Fauzi AS, Pengamat Kebijakan Publik. Foto/Ist.

KETIKA Nasib Petani Dijadikan Meja Taruhan

Tempo adalah media besar. Namanya panjang, reputasinya dibangun selama puluhan tahun, dan salah satu kekuatan yang selalu dilekatkan kepadanya adalah keberanian melakukan investigasi.

Karena itu, ketika Tempo berbicara tentang Madura, saya tidak ingin sekadar bertanya: siapa yang diberitakan?
Saya justru ingin bertanya lebih jauh:
Siapa yang tidak diberitakan?

Hari ini 12 September 2026, Tempo kembali mempublikasikan materi yang disebut sebagai hasil investigasi mengenai rokok ilegal dan perdagangan pita cukai. Sebuah isu yang tentu penting.

Saya pun tidak pernah membenarkan rokok ilegal. Saya tidak membenarkan pita cukai palsu. Negara berhak menegakkan hukum dan industri yang bermain di luar aturan memang harus ditindak.

Tetapi jurnalistik tidak berhenti pada pertanyaan siapa yang salah?

Jurnalistik juga harus berani bertanya
Mengapa persoalan itu terjadi?

Siapa yang mendapatkan keuntungan terbesar?

Siapa yang menanggung kerugiannya?

Dan siapa yang selama ini luput dari sorotan?

Di titik inilah saya merasa perlu mengajak Tempo bercermin.

Ketika gudang-gudang besar mengurangi pembelian tembakau, ketika petani mulai cemas karena hasil panennya tidak terserap maksimal, ketika harga tembakau berhadapan dengan mekanisme pasar yang tidak selalu berpihak kepada petani, mengapa kamera investigasi justru terasa lebih tertarik membidik pengusaha lokal?

H. Her dan H. Mukmin adalah dua nama yang kemudian ikut menjadi sorotan.
Sekali lagi, saya tidak sedang mengatakan bahwa seseorang harus kebal terhadap pemeriksaan atau kritik hanya karena ia pengusaha lokal.
Tidak.

Kalau ada pelanggaran hukum, silakan diperiksa. Kalau ada bukti, silakan dibuka. Kalau ada tindak pidana, silakan diproses sesuai hukum.

Tetapi ada satu prinsip yang mestinya juga berlaku dalam kerja jurnalistik:

Jangan membuat satu sisi terlihat sebagai seluruh wajah persoalan.
Madura bukan hanya gudang rokok.
Madura bukan hanya pengusaha tembakau.
Madura bukan hanya rokok polos.

Madura adalah jutaan manusia yang hidup dari tanah, laut, tembakau, garam, perdagangan, pesantren, UMKM dan berbagai usaha kecil yang tumbuh dengan susah payah.

Ketika industri lokal sedang berusaha bertahan, lalu pemberitaan investigasi datang dengan narasi yang berpotensi membuat publik melihat pengusaha lokal sebagai bagian utama dari problem, pertanyaan yang wajar kemudian muncul:

Apakah investigasi sudah melihat seluruh rantai persoalannya?

Atau jangan-jangan kamera hanya diarahkan kepada meja yang paling mudah difoto?

Mari kita bicara lebih serius tentang Madura.
Kalau kemiskinan Madura memang menjadi persoalan struktural, mengapa investigasi besar tidak diarahkan untuk membedah struktur ekonomi yang membuat daerah penghasil berbagai komoditas tetap tertinggal?

Kalau Madura memiliki kekayaan migas, mengapa tidak dibongkar secara mendalam bagaimana manfaat ekonominya mengalir?

Siapa yang paling besar menikmati nilai ekonominya?

Berapa besar nilai yang berputar di Madura?

Berapa yang keluar?

Berapa yang kembali kepada masyarakat?

Apa dampaknya terhadap kesejahteraan rakyat?

Bukankah itu juga investigasi?

Kalau petani tembakau Madura berulang kali berada dalam posisi lemah ketika berhadapan dengan pasar, mengapa kamera investigasi tidak lebih dalam membedah struktur industri tembakau dari hulu sampai hilir?

Siapa yang memiliki kekuatan menentukan pembelian?

Siapa yang memiliki kekuatan menentukan standar?

Siapa yang memiliki jaringan distribusi?

Siapa yang memiliki modal paling besar?

Dan pada akhirnya:
Siapa yang paling besar menikmati keuntungan dari sebatang rokok yang dibuat dari tembakau?

Pertanyaan-pertanyaan semacam ini jauh lebih besar daripada sekadar menemukan siapa yang menjual rokok tanpa pita cukai.
Sebab kalau kita hanya memotret ujung persoalan, kita berisiko menjadikan pelaku kecil sebagai wajah dari sebuah persoalan yang sesungguhnya jauh lebih kompleks.

Saya menggunakan bahasa yang sama dengan bahasa yang sering digunakan dalam pemberitaan investigasi:
Saya menduga.

Saya menduga jangan-jangan perspektif pemberitaan tentang rokok ilegal di Madura berpotensi lebih menguntungkan narasi industri besar daripada menjelaskan secara utuh posisi industri kecil dan petani.

Saya menduga jangan-jangan ada persoalan struktural yang jauh lebih besar tetapi kurang mendapatkan sorotan karena lebih rumit untuk dibongkar oleh Tempo.

Dan saya menduga, sekadar sebagai pertanyaan publik-jangan-jangan ketika industri lokal Madura sedang tertekan, pemberitaan yang hanya menonjolkan sisi ilegalitas industri lokal justru dapat ikut mempersempit ruang hidup UMKM dan pengusaha kecil di Madura.

Apakah Tempo menjadi alat oligarki?

Saya tidak mengatakan demikian.
Saya justru meminta Tempo membuktikan bahwa dugaan semacam itu keliru.
Caranya sederhana:
Buka data. Buka metodologi. Buka rantai kepentingan. Buka semua sisi.

Sebab media yang independen tidak semestinya takut terhadap pertanyaan kritis.

Kalau Tempo meneliti pengusaha lokal, silakan.

Tetapi telitilah pula perusahaan besar.
Kalau Tempo menginvestigasi pita cukai, telusuri pula rantai distribusinya.
Kalau Tempo menginvestigasi rokok ilegal, bongkar pula struktur ekonomi yang membuat rokok ilegal memiliki pasar.

Kalau Tempo berbicara tentang kerugian negara, hitung pula siapa yang memperoleh keuntungan paling besar dari ekosistem industri tersebut.

Jangan sampai rakyat kecil diperiksa dengan mikroskop, sementara struktur besar hanya dilihat dengan teropong.

Saya tidak sedang meminta Madura dibela secara membabi buta.
Saya juga tidak meminta pengusaha lokal ditempatkan di atas hukum.

Yang saya minta justru sederhana:
beritakan Madura secara utuh.
Kalau ada pelanggaran, bongkar.
Kalau ada pengusaha yang salah, ungkap.
Kalau ada cukai palsu, tindak.
Tetapi jangan berhenti di sana.

Bongkar juga struktur yang membuat petani berada dalam posisi tawar yang lemah.
Bongkar pula siapa yang paling besar menguasai pasar.

Bongkar bagaimana keuntungan industri rokok terdistribusi.
Bongkar mengapa petani menghasilkan bahan baku tetapi sering kali tidak menjadi pihak yang paling kuat menentukan harga.

Dan kalau ada perusahaan besar yang melakukan pelanggaran, jangan ragu menyebutnya dengan keberanian yang sama.

Sebab ukuran keberanian jurnalistik bukan seberapa keras media menekan yang lemah.
Ukuran keberanian jurnalistik adalah:
seberapa berani ia menyentuh mereka yang kuat.

Madura tidak membutuhkan belas kasihan media.

Madura membutuhkan keadilan dalam melihat persoalan.
Kami tidak meminta pengusaha lokal diberi kekebalan.
Kami hanya tidak ingin mereka dijadikan kambing hitam dari persoalan industri yang jauh lebih besar.

Dan kami tidak ingin petani Madura hanya muncul di layar ketika panennya menjadi bahan berita, tetapi menghilang ketika mereka membutuhkan pembelaan terhadap struktur pasar yang tidak seimbang.

Kalau investigasi adalah pisau untuk membedah kebenaran, gunakanlah pisau itu sampai ke tulang.

Jangan hanya memotong bagian yang mudah.
Kalau Tempo benar-benar ingin menyelamatkan negara dari rokok ilegal, selamatkan pula petani dari ketidakadilan pasar.

Kalau ingin menyelamatkan penerimaan negara, telusuri seluruh rantai ekonominya.
Kalau ingin menyelamatkan masyarakat, jangan sampai pemberitaan justru membuat industri lokal yang sedang bertahan semakin terpojok tanpa memberikan gambaran lengkap mengenai akar masalahnya.
Karena di balik setiap gudang tembakau ada petani.

Di balik setiap kilogram tembakau ada keluarga. Di balik setiap pemberitaan tentang rokok ada jutaan orang yang kehidupannya ikut bersinggungan dengan industri tersebut.
Maka jangan jadikan nasib mereka sebagai meja taruhan jurnalistik.

Tempo boleh berjudi dengan narasi.

Tetapi jangan biarkan petani Madura berjudi dengan masa depannya.
Dan kalau Tempo merasa tulisan ini tidak adil, silakan jawab dengan data.
Bukan dengan marah.
Bukan dengan label.

Jawab dengan investigasi yang lebih dalam.
Sebab pada akhirnya, pertarungan sebenarnya bukan antara Tempo melawan H. Her.

Bukan pula Tempo melawan H. Mukmin.
Ini bukan tentang siapa yang paling keras suaranya.

Ini tentang satu pertanyaan yang jauh lebih penting:

Ketika uang berputar begitu besar dalam industri tembakau, mengapa petani yang menanamnya justru sering menjadi pihak yang paling lemah?

Itulah pertanyaan yang seharusnya tidak boleh kalah keras daripada suara sebatang rokok yang sedang dibakar.

Madura tidak anti-investigasi.
Madura hanya meminta:
investigasilah dengan adil.
Karena independensi media bukan sekadar keberanian mengungkap kesalahan orang lain.

Independensi adalah keberanian untuk tidak menjadi milik siapa pun-termasuk kepentingan yang tidak terlihat di balik sebuah berita.

*) Penulis: Fauzi AS, Pengamat Kebijakan Publik. 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *