BANYUWANGI | KLIKTIMES.ID – Di balik etalase sederhana sebuah toko kelontong, tersimpan kisah tentang ketekunan yang dirawat diam-diam dan keberanian yang tumbuh perlahan. Moh. Salam bukan sekadar pedagang. Ia menata langkahnya dengan cara berbeda, menjadikan pendidikan sebagai bagian penting dari perjalanan hidupnya.
Di saat sebagian pelaku usaha memilih menancapkan fokus sepenuhnya pada bisnis, Salam justru melangkah ke arah lain. Ia memutuskan melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, bukan untuk sekadar mengejar gelar, melainkan membangun jati diri, sebuah personal branding sebagai pengusaha yang berpijak pada pengalaman sekaligus pengetahuan.
“Usaha memang penting untuk bertahan hidup, tetapi ilmu juga penting untuk berkembang,” ujar Salam saat di wawancarai Kliktimes, Sabtu (2/5/2026).
Hari-harinya tetap sederhana. Ia melayani pelanggan dengan ramah, menata barang di rak-rak toko, dan memastikan usaha kecilnya terus berputar. Namun di sela rutinitas itu, ada satu hal yang tak pernah ia abaikan: keinginan untuk terus belajar.
Langkahnya menempuh pendidikan di Universitas Bakti Indonesia (UBI) Banyuwangi menjadi bagian dari proses merawat mimpi. Bagi Salam, bangku kuliah adalah ruang untuk memperluas cara pandang, memperkuat kepercayaan diri, sekaligus menambah nilai dalam setiap keputusan bisnis yang ia ambil.
Ia memahami, pengalaman berdagang memang mengasah naluri. Namun tanpa ilmu, langkah kerap kehilangan arah. Karena itu, ia memilih menyeimbangkan praktik dengan teori, mendalami manajemen, keuangan, hingga strategi bisnis yang lebih terukur.
“Kalau hanya mengandalkan pengalaman, kadang kita berjalan di tempat. Dengan ilmu, kita bisa lebih terarah dalam mengembangkan usaha,” katanya.
Perjalanan itu tentu tidak selalu mudah. Waktu menjadi tantangan yang harus dijinakkan. Pagi hingga sore ia berdagang, sementara sisa tenaga dan pikirannya ia curahkan untuk belajar. Namun justru dari situlah keteguhan itu terasah bahwa keterbatasan bukan penghalang, melainkan ruang untuk menempa disiplin.
Perlahan, citra dirinya terbentuk. Ia tak lagi sekadar dikenal sebagai pemilik toko kelontong, melainkan sebagai sosok yang terus bertumbuh. Personal branding yang ia bangun hadir tanpa dibuat-buat—lahir dari konsistensi, bukan sekadar pencitraan.
Kisah Salam menghadirkan sudut pandang baru tentang pelaku usaha kecil. Bahwa di balik kesederhanaan, tersimpan tekad besar untuk maju dan beradaptasi dengan perubahan zaman.
Bagi Salam, hidup adalah perjalanan panjang yang tak selalu jelas ujungnya. Namun justru di sanalah maknanya.
“Saya tidak tahu apa yang akan terjadi, tapi saya ingin terus berjalan selamanya,” ucapnya, mengutip pandangan Fuyumi Soryo yang ia jadikan pegangan.
Sebagai alumnus Ponpes Annuqayah, ia berharap langkah kecilnya dapat menjadi cahaya bagi yang lain bahwa belajar tidak mengenal batas, dan mimpi tidak pernah terlalu jauh untuk dikejar.
“Jangan takut belajar, meskipun sudah memiliki usaha. Dengan ilmu, usaha kita bisa berkembang lebih baik,” tuturnya.












