Berita

Jelang Muktamar NU ke-35, Gus Fahim Sebut Gus Hery Angin Segar untuk Bursa Ketum PBNU

194
×

Jelang Muktamar NU ke-35, Gus Fahim Sebut Gus Hery Angin Segar untuk Bursa Ketum PBNU

Sebarkan artikel ini
KH Fahim Royani menerima kunjungan Gus Hery Haryanto Azumi bersama tokoh dan akademisi NU di Ponpes Al Falah Ploso, Kediri, Jawa Timur. Foto/Ist.

KEDIRI, KLIKTIMES.ID – Dinamika menjelang Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-35 mulai menghangat. Sejumlah nama mulai diperbincangkan sebagai calon Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) periode mendatang.

Di tengah pembahasan tersebut, Pengasuh Pondok Pesantren Al Falah Ploso Kediri, KH Fahim Royani, menyebut kemunculan Gus Hery Haryanto Azumi sebagai angin segar bagi NU.

Pernyataan itu disampaikan Gus Fahim saat menerima kunjungan silaturahim Gus Hery bersama sejumlah tokoh dan akademisi NU di Pesantren Al Falah Ploso, Sabtu (20/6/2026). Pertemuan tersebut menjadi bagian dari rangkaian silaturahim menjelang pelaksanaan Konferensi Besar (Kombes) dan Musyawarah Nasional Ulama yang akan digelar di lingkungan pesantren tersebut.

Dalam pertemuan itu, Gus Fahim mengaku optimistis terhadap langkah Gus Hery yang menyatakan kesiapannya mengikuti kontestasi Ketua Umum PBNU pada Muktamar NU ke-35.

“Saya sangat senang mendengar Gus Hery siap ikut dalam kontestasi Ketua Umum PBNU. Mulai sekarang perbaiki niat, niatkan semata-mata untuk berkhidmat kepada NU dengan ikhlas. Jika niatnya lurus, insyaallah setiap tantangan akan dimudahkan,” ujar Gus Fahim.

Menurutnya, NU membutuhkan figur pemimpin yang tidak hanya memiliki akar kuat dalam tradisi pesantren, tetapi juga mampu memahami tantangan kebangsaan dan perkembangan global.

Ia menilai Gus Hery memiliki kapasitas tersebut. Selain dikenal dekat dengan kalangan kiai dan pesantren, Gus Hery juga dinilai memiliki pengalaman serta jaringan yang dapat menjadi modal untuk membawa NU menghadapi tantangan abad kedua.

“Gus Hery memiliki bekal yang cukup untuk membawa NU memasuki abad kedua dengan lebih percaya diri dan berwibawa,” katanya.

Gus Fahim menegaskan, memimpin NU bukan sekadar soal jabatan organisasi. Lebih dari itu, kepemimpinan di tubuh NU merupakan amanah besar untuk mengabdi kepada umat dan jam’iyah.

Karena itu, seorang pemimpin NU harus memiliki ketulusan, kesabaran, serta kesiapan berkorban demi kemaslahatan warga nahdliyin.

Ia juga menyoroti perhatian Gus Hery terhadap para kiai dan pesantren di berbagai daerah. Menurutnya, karakter tersebut mengingatkan pada sosok KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur yang dikenal memiliki kecintaan besar kepada pesantren dan ulama di seluruh Nusantara.

Sementara itu, Gus Hery mengatakan keputusannya untuk maju dalam kontestasi Ketua Umum PBNU bukanlah keputusan yang muncul secara tiba-tiba.

Ia mengaku terdorong oleh pesan dan nasihat yang pernah disampaikan almarhumah Lily Wahid serta KH Hasyim Wahid (Gus Iim) agar mengabdikan diri secara tulus untuk NU.

“Nasihat itu terus saya simpan dalam hati. Apa yang saya lakukan hari ini semata-mata sebagai ikhtiar menjalankan amanah moral tersebut dan menjawab panggilan untuk mengabdi kepada NU,” ujar Gus Hery.

Silaturahim yang berlangsung dalam suasana penuh keakraban itu ditutup dengan doa bersama. Pada kesempatan tersebut, Gus Fahim turut mendoakan agar Gus Hery diberikan kesehatan, kemudahan, dan kelapangan jalan jika benar-benar berniat mengabdikan diri untuk kemajuan Nahdlatul Ulama.

Pertemuan itu menjadi bagian dari konsolidasi gagasan dan dialog keummatan menjelang Muktamar NU ke-35 yang diharapkan mampu melahirkan kepemimpinan terbaik bagi masa depan organisasi Islam terbesar di Indonesia tersebut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *