Bappeda
DKPP
RSUD
TANI
BeritaDaerahPendidikan

IBS PKMKK Gandeng Pemdes Lancar Bangun Kawasan Olahraga Sunnah Terintegrasi Berbasis Ekonomi Sirkular

17
×

IBS PKMKK Gandeng Pemdes Lancar Bangun Kawasan Olahraga Sunnah Terintegrasi Berbasis Ekonomi Sirkular

Sebarkan artikel ini
Direktur Utama IBS PKMKK, Prof. Dr. KH. Achmad Muhlis, saat memaparkan rencana pembangunan kawasan olahraga sunnah terintegrasi berbasis pendidikan, wisata, dan ekonomi sirkular bersama Pemdes Lancar. Foto/Kliktimes.

PAMEKASAN, KLIKTIMES.ID – Islamic Boarding School Padepokan Kyai Mudrikah Kembang Kuning (IBS PKMKK) bersama Pemerintah Desa (Pemdes) Lancar, Kabupaten Pamekasan, menjalin kolaborasi strategis untuk membangun kawasan olahraga sunnah terintegrasi yang memadukan pendidikan, wisata edukatif, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat.

Kawasan yang direncanakan berdiri di atas lahan seluas 5 hingga 10 hektare tersebut akan dilengkapi fasilitas memanah, berkuda, dan berenang. Program ini digagas sebagai model pembangunan desa berkelanjutan yang mengintegrasikan nilai pendidikan, keagamaan, lingkungan, dan ekonomi masyarakat.

ADVERTISEMENT Banner

Direktur Utama IBS PKMKK, Prof. Dr. KH. Achmad Muhlis, mengatakan proyek tersebut bukan sekadar pembangunan sarana olahraga, melainkan bagian dari upaya membangun ekosistem peradaban yang tumbuh bersama masyarakat.

“Pesantren tidak dapat tumbuh sebagai pusat peradaban apabila hanya menjadi ruang belajar yang terisolasi dari realitas sosial, ekonomi, budaya, dan lingkungan tempat ia berdiri,” ujar Achmad Muhlis.

Menurutnya, olahraga sunnah yang dipilih memiliki nilai pendidikan karakter yang sangat relevan bagi generasi muda di tengah derasnya arus digitalisasi dan perubahan sosial.

Ia menjelaskan, memanah mengajarkan fokus, kesabaran, dan ketepatan dalam menentukan arah hidup. Berkuda melatih keberanian, kepemimpinan, serta tanggung jawab. Sementara berenang membentuk daya tahan, kemampuan beradaptasi, dan ketangguhan menghadapi tantangan.

“Kawasan ini akan menjadi laboratorium pembelajaran yang hidup. Santri tidak hanya belajar teori, tetapi juga mengembangkan kecerdasan intelektual, emosional, spiritual, hingga ekologis melalui pengalaman nyata,” jelasnya.

Tak hanya berorientasi pada pendidikan, kawasan tersebut juga dirancang terintegrasi dengan pertanian organik, peternakan, perikanan, ruang terbuka hijau, pusat UMKM, hingga area wisata keluarga.

Konsep ekonomi sirkular menjadi salah satu pilar utama dalam pengembangannya. Rumput di sekitar lintasan kuda akan dimanfaatkan sebagai pakan ternak, sedangkan kotoran kuda diolah menjadi pupuk organik untuk mendukung produktivitas perkebunan pesantren. Hasil panen selanjutnya dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan pangan santri maupun pengunjung.

Lebih lanjut Achmad Muhlis menegaskan, masyarakat Desa Lancar akan menjadi aktor utama dalam pengelolaan kawasan tersebut.

“Masyarakat tidak boleh hanya menjadi penonton. Mereka akan terlibat sebagai peternak kuda, pelaku UMKM, penyedia kuliner lokal, hingga instruktur olahraga. Dengan begitu, manfaat ekonomi dapat dirasakan langsung oleh warga desa,” katanya.

Saat ini, IBS PKMKK bersama Pemdes Lancar tengah menyusun master plan sebagai tahap awal pembangunan. Tahapan tersebut meliputi pemetaan lahan, studi kelayakan, pembentukan badan pengelola bersama, hingga penguatan kemitraan dengan berbagai pemangku kepentingan.

Ia optimistis model pembangunan berbasis desa yang mengintegrasikan pendidikan, ekonomi, lingkungan, dan pemberdayaan masyarakat ini dapat menjadi contoh bagi daerah lain di Indonesia.

“Dari Desa Lancar, kita ingin membuktikan bahwa pendidikan tidak boleh dipisahkan dari ekonomi, agama tidak dipisahkan dari lingkungan, dan pembangunan tidak dipisahkan dari kemanusiaan,” tegasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *