BeritaDaerah

Gandeng Tokoh Nasional, GMPI Jatim Gelar Diskusi di Tengah Muktamar NU ke-35

803
×

Gandeng Tokoh Nasional, GMPI Jatim Gelar Diskusi di Tengah Muktamar NU ke-35

Sebarkan artikel ini
Achmad Baidowi bersama narasumber dan peserta NgoPi Ber-NU untuk Kemaslahatan Ummat berfoto bersama usai diskusi di Jombang. Foto/Ist.

JOMBANG, KLIKTIMES.ID – Pimpinan Wilayah Generasi Muda Pembangunan Indonesia (PW GMPI) Jawa Timur bersama Jaringan Santri Nahdlatul Ulama (JAS-NU) menggelar diskusi NgoPi (Ngobrol Pinter) Ber-NU untuk Kemaslahatan Ummat di tengah rangkaian Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU).

Diskusi tersebut digelar di Kedai Viaipi, Jombang, Jumat (28/8/2026). Forum ini mempertemukan kader muda Nahdliyin dari berbagai organisasi kepemudaan, termasuk Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) dan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI).

Sejumlah tokoh dan profesional turut hadir sebagai narasumber. Mereka yakni M. Arwani Thomafi, Komisaris PT PLN Icon Plus; Dr. Achmad Baidowi, S.Sos., M.Si., Komisaris Utama PT ASDP Indonesia Ferry; Arya Sandhiyuda, Ph.D., Direktur Kelembagaan PTPN IV; serta akademisi UNU Surabaya, Mustofa, S.Pd., M.A., Ph.D.

Ketua PW GMPI Jawa Timur, Holik Ferdiansyah, S.Pd., S.H., M.H., mengatakan kegiatan tersebut digelar sebagai bagian dari upaya menyemarakkan Muktamar NU ke-35.

Menurutnya, GMPI memiliki basis kader yang berlatar belakang Nahdliyin. Karena itu, forum dialog dinilai penting untuk mempertemukan gagasan sekaligus membangun perspektif bersama mengenai masa depan NU.

“Meski nampak santai, kami berharap diskusi ini mampu menjadi penopang terhadap keberlanjutan Nahdlatul Ulama yang maju,” ujar Holik.

Holik menilai forum seperti NgoPi dapat menjadi ruang bagi kader muda untuk saling bertukar gagasan dan pengalaman. Selain memperluas perspektif, diskusi tersebut diharapkan melahirkan pemikiran konstruktif bagi perjalanan NU ke depan.

Sementara itu, Dr. Achmad Baidowi menekankan pentingnya menjadikan Muktamar NU ke-35 bukan sekadar momentum pergantian kepemimpinan, tetapi juga sebagai titik tolak untuk memperkuat arah organisasi dan menyiapkan generasi penerus.

“NU ini organisasi besar. Karena itu, keberlanjutan NU tidak cukup hanya berbicara siapa yang memimpin, tetapi juga bagaimana menyiapkan kader yang mampu meneruskan perjuangan, memahami perubahan zaman, dan tetap berpijak pada nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah,” kata Baidowi.

Menurut Baidowi, generasi muda memiliki posisi strategis dalam menjaga kesinambungan organisasi. Perubahan sosial dan perkembangan zaman menuntut kader NU memiliki kapasitas serta wawasan yang memadai tanpa kehilangan pijakan terhadap tradisi dan nilai-nilai yang telah menjadi fondasi organisasi.

“Generasi muda NU harus hadir bukan hanya sebagai penonton, tetapi menjadi bagian dari solusi. Tantangan ke depan semakin kompleks, sehingga kader NU harus punya kapasitas, wawasan, sekaligus komitmen terhadap kemaslahatan umat dan bangsa,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan agar Muktamar NU tidak hanya berorientasi pada siapa yang terpilih memimpin. Menurutnya, yang tidak kalah penting adalah memastikan arah dan keberlanjutan organisasi setelah muktamar selesai.

“Yang paling penting dari sebuah muktamar bukan hanya siapa yang terpilih, tetapi apa yang akan dilakukan setelah itu. Bagaimana NU lima, sepuluh, bahkan dua puluh tahun ke depan tetap menjadi organisasi yang memberikan manfaat dan mampu menjawab kebutuhan masyarakat,” tuturnya.

Senada dengan Baidowi, M. Arwani Thomafi menilai ruang dialog antarkader muda perlu terus dibangun untuk memperkuat masa depan NU.

“Forum seperti ini penting untuk mempertemukan gagasan dan pengalaman. Kader muda perlu terus berdialog agar mampu membaca perubahan zaman sekaligus menjaga nilai-nilai yang menjadi pijakan NU,” ujar Arwani.

Menurut Arwani, kaderisasi tidak semata-mata berkaitan dengan regenerasi kepemimpinan. Lebih dari itu, kaderisasi juga menyangkut kesiapan generasi muda untuk mengambil peran dan memberikan kontribusi bagi organisasi maupun masyarakat.

“Kader muda harus berani mengambil peran. Masa depan NU membutuhkan generasi yang punya kapasitas, terbuka terhadap perubahan, dan tetap berpegang pada nilai-nilai ke-NU-an,” tukasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *