MALANG, KLIKTIMES.ID – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi Jawa Timur memperkuat upaya konservasi dan restorasi ekosistem melalui pelibatan masyarakat di Kabupaten Malang.
Program ini diarahkan untuk menjaga kelestarian sumber daya alam, memulihkan fungsi lingkungan, sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pengelolaan lingkungan berkelanjutan.
Upaya tersebut diwujudkan melalui kegiatan Action Learning Pengelolaan Sumber Daya Alam, Konservasi, dan Restorasi Ekosistem yang berlangsung pada 21–23 Oktober 2026 di Desa Mangliawan, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang.
Kegiatan ini melibatkan DLH Provinsi Jawa Timur, DLH Kabupaten Malang, Pemerintah Desa Mangliawan, akademisi Universitas Airlangga (UNAIR), komunitas lingkungan, serta kader lingkungan setempat.
Sejumlah agenda dilaksanakan, mulai dari edukasi konservasi dan pemulihan daerah aliran sungai (DAS), praktik pengolahan sampah organik, penanaman tanaman buah, hingga pembuatan pestisida nabati.
Akademisi Universitas Airlangga, Assoc. Prof. Dr. R. Azizah, S.H., M.Kes., menekankan pentingnya kolaborasi masyarakat dalam menjaga kelestarian lingkungan. Menurutnya, gerakan peduli lingkungan akan memberikan dampak lebih besar apabila dilakukan secara kolektif melalui komunitas.
“Mari bersama-sama kita sehatkan bumi, maka bumi akan menyehatkan kita. Berdasarkan penelitian yang telah kami lakukan, gerakan peduli lingkungan yang memberikan pengaruh besar adalah gerakan yang dilakukan melalui komunitas, bukan hanya secara individu. Karena itu, keterlibatan dan kolaborasi masyarakat menjadi kunci untuk mewujudkan lingkungan yang lestari dan berkelanjutan,” ungkapnya.
Selain edukasi, peserta juga mengikuti praktik pengolahan sampah organik menggunakan komposter portabel skala rumah tangga yang dipandu Ratih Mawar Sari, S.P., Ketua Bank Sampah RW 15 Desa Mangliawan.
Pada hari kedua, kegiatan dilanjutkan dengan penanaman tanaman buah untuk meningkatkan tutupan vegetasi sekaligus mendukung ketahanan pangan dan perekonomian masyarakat.
Peserta juga mendapatkan materi pengelolaan sampah dengan prinsip reduce, reuse, recycle (3R) serta praktik pembuatan pestisida nabati bersama A. Mughis Fathoni R., pendiri Sobat Lingkungan.
Sementara pada hari ketiga, peserta mendapatkan pembelajaran mengenai identifikasi dampak lingkungan, sosial, dan ekonomi serta strategi pengembangan kampung inovasi berbasis komunitas berkelanjutan bersama Bambang Glintung Go Green.
Materi tersebut memperkuat pemahaman bahwa keberhasilan konservasi tidak hanya bergantung pada pemulihan kondisi alam, tetapi juga membutuhkan keterlibatan aktif masyarakat dalam merencanakan, melaksanakan, dan menjaga keberlanjutan program lingkungan.
Kabupaten Malang memiliki bentang alam yang beragam dengan potensi ekologis, sosial, dan ekonomi. Namun, kawasan tersebut juga menghadapi tantangan berupa perubahan penggunaan lahan, berkurangnya tutupan vegetasi, serta pencemaran lingkungan.
Perlindungan DAS dan kawasan resapan air menjadi salah satu perhatian penting. Penurunan kemampuan kawasan dalam menyerap air dapat mengganggu keseimbangan tata air, meningkatkan risiko banjir, serta memengaruhi ketersediaan air pada musim kemarau.
Melalui kegiatan ini, DLH Provinsi Jawa Timur berharap kapasitas masyarakat dalam mengidentifikasi persoalan lingkungan dan menerapkan praktik konservasi semakin meningkat.
Kolaborasi pemerintah, akademisi, komunitas, dan masyarakat juga diharapkan terus berlanjut agar upaya konservasi dan restorasi tidak berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi menjadi gerakan nyata dalam menjaga kelestarian lingkungan.
DLH Jatim mengajak masyarakat memulai kepedulian lingkungan dari hal sederhana, seperti mengelola sampah rumah tangga, menanam dan merawat pohon, serta berpartisipasi dalam kegiatan konservasi di lingkungan masing-masing.
















