BeritaDaerah

Bukan Sekadar Dekorasi, Ini Filosofi Keraton-Pendopo di Stan Bappeda Sumenep

890
×

Bukan Sekadar Dekorasi, Ini Filosofi Keraton-Pendopo di Stan Bappeda Sumenep

Sebarkan artikel ini
Bupati Sumenep bersama Kepala Bappeda Sumenep Arif Firmanto dan jajaran berfoto bersama di depan Stan Bappeda dalam Madura Night Vaganza di GOR A. Yani Pangligur, Sumenep. Foto/Ist.

SUMENEP, KLIKTIMES.ID – Nuansa Keraton dan Pendopo Sumenep menjadi wajah stan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Sumenep dalam Madura Night Vaganza di GOR A. Yani Pangligur, Kamis (27/8/2026).

Namun, konsep tersebut bukan sekadar dekorasi untuk mempercantik stan. Bappeda sengaja membawa filosofi Keraton dan Pendopo sebagai pesan tentang identitas daerah, kepemimpinan, musyawarah, hingga bagaimana pembangunan Sumenep direncanakan.

Salah satu elemen yang menjadi perhatian adalah Pendopo Sumenep. Dalam bahasa Madura, pendopo disebut mandapa, yang berasal dari kata mandap yang bermakna rendah.

Filosofi tersebut menggambarkan kerendahan hati, kedekatan, dan kebersamaan pemimpin dengan masyarakat. Secara historis, pendopo juga menjadi ruang pertemuan antara penguasa dan masyarakat untuk berkumpul, bermusyawarah, menyampaikan aspirasi, hingga mencapai kesepakatan.

Nilai tersebut kemudian dikaitkan Bappeda dengan proses perencanaan pembangunan yang membutuhkan partisipasi masyarakat.

Kepala Bappeda Kabupaten Sumenep Dr. Ir. Arif Firmanto, S.TP., M.Si., IPU., ASEAN Eng., mengatakan filosofi mandapa menjadi pengingat bahwa pembangunan tidak cukup hanya dirancang dari balik meja.

“Mandapa memiliki makna rendah. Filosofi ini mengajarkan tentang kerendahan hati, kedekatan dengan masyarakat, dan pentingnya ruang untuk bermusyawarah,” ujar Arif.

Desain stan Bappeda juga mengambil inspirasi dari arsitektur Pendopo Agung Keraton Sumenep. Atap berbentuk limasan sinom serta tiang-tiang utama yang dikenal sebagai soko guru menjadi bagian dari konsep tersebut.

Bagi Bappeda, unsur Keraton merepresentasikan tata nilai, keteraturan, kepemimpinan, dan kesinambungan sejarah. Nilai-nilai tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam peran Bappeda dalam menata arah pembangunan agar memiliki tujuan yang jelas, terukur, dan selaras antarsektor.

“Bagi kami, budaya bukan sekadar ornamen. Budaya adalah identitas dan pijakan dalam membangun daerah,” kata Arif.

Konsep tersebut sekaligus menjadi cara Bappeda memperkenalkan dirinya sebagai “rumah perencanaan pembangunan daerah”. Di tempat itulah gagasan, aspirasi, data, dan arah kebijakan dipertemukan sebelum diterjemahkan menjadi perencanaan pembangunan.

“Bappeda adalah rumah tempat gagasan, aspirasi, data, dan arah kebijakan dipertemukan. Dari sanalah kita menyusun perencanaan untuk menjawab kebutuhan masyarakat dan merancang masa depan Sumenep,” ujarnya.

Melalui konsep Keraton dan Pendopo, Bappeda ingin menyampaikan bahwa pembangunan masa depan tetap harus memiliki pijakan pada akar budaya daerah.

Keraton menjadi simbol jati diri dan sejarah. Pendopo menjadi ruang musyawarah serta pertemuan dengan masyarakat. Sementara Bappeda menjadi penghubung antara nilai-nilai tersebut dengan arah pembangunan Sumenep ke depan.

“Keraton sebagai simbol jati diri, Pendopo sebagai ruang musyawarah, dan Bappeda sebagai rumah perencanaan. Semuanya bermuara pada satu semangat: berpijak pada budaya, menata pembangunan, dan merancang masa depan Sumenep,” pungkas Arif.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *