Bappeda
DKPP
RSUD
TANI
BeritaDaerahEkonomi

Halaqah Energi Madura: Potensi Migas Melimpah, Kesejahteraan Warga Dinilai Belum Berbanding Lurus

218
×

Halaqah Energi Madura: Potensi Migas Melimpah, Kesejahteraan Warga Dinilai Belum Berbanding Lurus

Sebarkan artikel ini
Narasumber dan peserta berfoto bersama usai Halaqah Energi Madura yang membahas isu migas, sumber daya manusia, dan tambang ilegal di UIN Madura. Foto/Zy.

PAMEKASAN, KLIKTIMES.ID – Pulau Madura memiliki cadangan minyak dan gas bumi (migas) yang cukup besar. Namun, kekayaan sumber daya alam tersebut dinilai belum sepenuhnya berbanding lurus dengan tingkat kesejahteraan masyarakat, khususnya di daerah-daerah penghasil migas.

Persoalan itu mengemuka dalam Halaqah Energi Madura bertema “Kedaulatan Energi Madura: Sinergi Lokal untuk Masa Depan Berkelanjutan” yang digelar di Auditorium Pusat Universitas Islam Negeri (UIN) Madura, Kamis (4/6/2026).

Kegiatan yang diselenggarakan Senat Mahasiswa (SEMA) UIN Madura bekerja sama dengan HCML dan PT POMI/Paiton Energy itu menghadirkan sejumlah akademisi dan praktisi untuk membahas masa depan pengelolaan energi dan sumber daya alam di Madura.

Dosen Universitas Wiraraja Sumenep, Mohammad Hidayaturrahman, mengatakan Madura memiliki potensi migas yang sangat besar, terutama di wilayah Kabupaten Sumenep dan Kabupaten Sampang. Namun, menurutnya, besarnya potensi tersebut belum memberikan dampak signifikan terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Ia mengungkapkan, sejumlah penelitian menunjukkan bahwa daerah yang kaya sumber daya alam tidak selalu identik dengan rendahnya angka kemiskinan atau tingginya tingkat kesejahteraan.

“Potensi migas Madura sangat besar, tetapi angka kemiskinan di beberapa daerah penghasil migas masih relatif tinggi. Artinya, ada faktor lain yang memengaruhi kesejahteraan masyarakat,” ujar Hidayaturrahman.

Menurutnya, persoalan tersebut tidak semata-mata terletak pada ketersediaan sumber daya alam, melainkan lebih berkaitan dengan kebijakan dan tata kelola yang mengatur pemanfaatan hasil sumber daya tersebut.

Karena itu, ia menilai diperlukan kebijakan yang mampu memastikan manfaat ekonomi dari sektor migas benar-benar dirasakan masyarakat lokal secara lebih luas dan berkelanjutan.

“Potensi yang besar harus diikuti tata kelola yang baik. Jika tidak, kekayaan sumber daya alam hanya akan menjadi angka statistik tanpa memberikan perubahan berarti bagi masyarakat,” katanya.

Selain persoalan migas, forum tersebut juga menyoroti tantangan lain yang tidak kalah penting, yakni maraknya aktivitas tambang ilegal yang berpotensi merusak lingkungan di sejumlah wilayah Madura.

Dosen Universitas Annuqayah, Damanhuri, mengatakan Madura memiliki kekayaan sumber daya alam yang mampu menarik investasi. Namun, pengelolaannya masih menghadapi berbagai persoalan mendasar, terutama terkait pengawasan dan penegakan hukum.

Menurutnya, setidaknya terdapat tiga faktor utama yang mendorong maraknya praktik tambang ilegal di Madura.

“Pertama, lemahnya regulasi dan kewenangan. Kedua, lemahnya penegakan hukum. Ketiga, faktor ekonomi dan sosial masyarakat,” kata Damanhuri.

Ia mengingatkan bahwa eksploitasi sumber daya alam yang tidak terkendali berisiko menimbulkan kerusakan lingkungan yang dampaknya akan dirasakan oleh generasi mendatang.

“Bumi akan tetap ada, kitalah yang tidak akan bertahan,” ujarnya.

Menurut Damanhuri, pengelolaan sumber daya alam harus dilakukan secara lebih bijaksana dengan memperkuat regulasi, meningkatkan pengawasan, serta membangun kesadaran bersama mengenai pentingnya menjaga lingkungan.

Ia menegaskan bahwa pembangunan ekonomi tidak boleh mengorbankan keberlanjutan lingkungan. Sebab, kerusakan yang ditimbulkan hari ini bisa menjadi beban besar bagi masyarakat di masa depan.

Sementara itu, perwakilan PT POMI/Paiton Energy, Rochman Hidayat, menekankan bahwa pembangunan Madura tidak hanya bertumpu pada kekayaan sumber daya alam, tetapi juga pada kualitas sumber daya manusianya.

Ia mengatakan generasi muda Madura perlu memiliki keberanian untuk bermimpi besar dan terus meningkatkan kapasitas diri agar mampu bersaing di berbagai bidang.

“Orang Madura juga bisa bermimpi besar. Latar belakang pendidikan tidak selalu menjadi patokan utama dalam karier seseorang,” kata Rochman.

Menurutnya, Madura masih memiliki sejumlah tantangan yang perlu diselesaikan, mulai dari pembangunan infrastruktur, penyempurnaan regulasi, hingga peningkatan kualitas sumber daya manusia.

Karena itu, generasi muda didorong untuk memperkuat literasi, meningkatkan kemampuan berpikir kritis, serta mengasah kemampuan komunikasi sebagai bekal menghadapi persaingan global.

Rochman juga mengajak masyarakat untuk menghapus berbagai stereotipe negatif yang selama ini melekat terhadap orang Madura.

“Kita harus mematahkan stereotipe bahwa orang Madura itu keras. Faktanya, orang Madura mampu berkembang, bersaing, dan berprestasi ketika diberikan kesempatan dan mau berusaha,” tandasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *