BeritaDaerah

KH Miftachul Akhyar Kembali Jadi Rais Aam PBNU 2026-2031, Ini Profil dan Perjalanan Kariernya

248
×

KH Miftachul Akhyar Kembali Jadi Rais Aam PBNU 2026-2031, Ini Profil dan Perjalanan Kariernya

Sebarkan artikel ini
KH Miftachul Akhyar, Rais Aam PBNU. Foto/Ist.

JOMBANG, KLIKTIMES.ID – KH Miftachul Akhyar kembali dipercaya memimpin jajaran Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) sebagai Rais Aam periode 2026-2031.

Penetapan tersebut berlangsung dalam rangkaian Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) yang digelar di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur.

Pemilihan Rais Aam PBNU kali ini menggunakan mekanisme Ahlul Halli wal ‘Aqdi (AHWA). Proses tersebut diawali dengan penjaringan dan tabulasi suara untuk menentukan sembilan anggota AHWA melalui Sidang Pleno IV.

Sembilan anggota AHWA yang terpilih kemudian bermusyawarah untuk menentukan Rais Aam PBNU periode 2026-2031. Hasil musyawarah menetapkan KH Miftachul Akhyar kembali mengemban amanah tersebut.

Keputusan itu diumumkan KH Anwar Iskandar dalam rangkaian persidangan Muktamar ke-35 NU.

Penetapan tersebut sekaligus memperpanjang kiprah Miftachul Akhyar sebagai salah satu ulama sentral dalam kepemimpinan NU di tingkat nasional.

Rais Aam merupakan pimpinan tertinggi dalam struktur Syuriah PBNU. Posisi tersebut memiliki peran strategis dalam memberikan arahan keagamaan, membimbing organisasi, serta mengawasi pelaksanaan kebijakan NU.

Tumbuh dari Tradisi Pesantren

KH Miftachul Akhyar lahir di Surabaya pada 30 Juni 1953. Dia merupakan putra kesembilan dari 13 bersaudara, pasangan KH Abdul Ghani dan Nyai Hj Siti Ashfiyah.

Ayahnya merupakan pengasuh Pondok Pesantren Tahsinul Akhlaq Rangkah, Surabaya. Dari lingkungan keluarga tersebut, Miftachul Akhyar mendapatkan pendidikan agama sekaligus mengenal tradisi keilmuan pesantren sejak usia dini.

Perjalanan pendidikannya kemudian berlanjut ke sejumlah pondok pesantren di Jawa Timur dan Jawa Tengah.

Miftachul Akhyar tercatat pernah menimba ilmu di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas dan Pondok Pesantren Darul Ulum Rejoso, Jombang.

Rihlah keilmuannya juga membawanya ke Pondok Pesantren Sidogiri, Pasuruan. Setelah itu, dia melanjutkan pengembaraan intelektualnya ke Pondok Pesantren Lasem, Jawa Tengah.

Di Lasem, kemampuan keilmuan Miftachul Akhyar mendapat perhatian dari KH Masduqie Allasimy. Dalam perjalanan hidupnya, Miftachul Akhyar kemudian menjadi menantu ulama tersebut.

Dirikan Pesantren di Surabaya

Setelah menyelesaikan pendidikan di berbagai pesantren, Miftachul Akhyar kembali ke Surabaya. Dia kemudian merintis Pondok Pesantren Miftachus Sunnah.

Pesantren tersebut bermula dari pengajian sederhana di kawasan Kedung Tarukan. Kegiatan yang awalnya berlangsung dalam lingkup terbatas itu kemudian berkembang seiring meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap pendidikan dan kajian keagamaan.

Pondok Pesantren Miftachus Sunnah kini menjadi salah satu pusat pendidikan Islam di Surabaya. Lembaga tersebut tetap mempertahankan tradisi keilmuan pesantren di tengah perkembangan kota metropolitan.

Meniti Karier Organisasi NU

Pengabdian Miftachul Akhyar di lingkungan NU juga berlangsung melalui proses panjang.

Dia memulai kiprah struktural di tingkat cabang dengan dipercaya menjadi Rais Syuriyah PCNU Kota Surabaya sekitar 2000-2005.

Kepercayaan tersebut kemudian berlanjut di tingkat Jawa Timur. Miftachul Akhyar dipercaya menjadi Rais Syuriyah PWNU Jawa Timur selama dua periode, yakni 2007-2013 dan 2013-2018.

Kariernya di tingkat nasional dimulai ketika dia dipercaya menjabat Wakil Rais Aam PBNU periode 2015-2020.

Saat KH Ma’ruf Amin maju sebagai calon wakil presiden pada Pemilu 2019, Miftachul Akhyar dipercaya menjalankan tugas sebagai Penjabat Rais Aam PBNU.

Dalam Muktamar ke-34 NU di Lampung, Miftachul Akhyar kemudian ditetapkan sebagai Rais Aam PBNU periode 2021-2026 melalui mekanisme AHWA.

Kini, melalui Muktamar ke-35 NU di Jombang, amanah tersebut kembali diberikan kepadanya untuk periode 2026-2031.

Pernah Pimpin MUI

Selain aktif di NU, Miftachul Akhyar juga pernah dipercaya memimpin Majelis Ulama Indonesia (MUI).

Dia menjabat sebagai Ketua Umum MUI periode 2020-2025.

Namun, amanah tersebut tidak dijalankan bersamaan dengan posisi Rais Aam PBNU. Setelah terpilih sebagai Rais Aam, Miftachul Akhyar memilih melepaskan jabatan di MUI untuk berkonsentrasi menjalankan khidmah di lingkungan NU.

Dengan pengalaman panjang di dunia pesantren dan organisasi keagamaan, KH Miftachul Akhyar kini kembali mengemban amanah sebagai Rais Aam PBNU untuk lima tahun ke depan.

Penetapan tersebut menjadi salah satu bagian penting dari hasil Muktamar ke-35 NU yang berlangsung di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *