BeritaDaerah

Sodek Parjuga Jadi Roh Hari Jadi Sumenep ke-758, Simbol Kebijaksanaan dan Semangat Membangun

144
×

Sodek Parjuga Jadi Roh Hari Jadi Sumenep ke-758, Simbol Kebijaksanaan dan Semangat Membangun

Sebarkan artikel ini
"Songennep Sodek Parjuga" menjadi tema Hari Jadi Sumenep ke-758 yang mencerminkan karakter masyarakat yang bijaksana dan berbudaya. Foto/Ist.

SUMENEP, KLIKTIMES.ID – Pemerintah Kabupaten Sumenep resmi meluncurkan logo Hari Jadi ke-758 Kabupaten Sumenep dengan mengusung tema “Songennep Sodek Parjuga”. Peluncuran yang digelar di Pendopo Agung Keraton Sumenep, Sabtu (20/6/2026), itu menjadi penanda dimulainya rangkaian peringatan hari jadi daerah paling timur di Pulau Madura tersebut.

Berbeda dari sekadar identitas visual tahunan, logo Hari Jadi ke-758 kali ini membawa pesan yang lebih dalam. Pemerintah daerah ingin menjadikan semangat Sodek Parjuga sebagai energi kolektif masyarakat dalam melanjutkan pembangunan sekaligus menjaga nilai-nilai budaya yang menjadi jati diri Sumenep.

Bupati Sumenep Achmad Fauzi Wongsojudo mengatakan, logo tersebut bukan hanya simbol seremonial, melainkan representasi perjalanan sejarah, kekayaan budaya, dan optimisme masyarakat dalam menyongsong masa depan.

“Logo ini bukan sekadar gambar. Di dalamnya ada sejarah, budaya, serta harapan masyarakat untuk terus bergerak maju,” kata Fauzi.

Tema Songennep Sodek Parjuga sendiri mencerminkan karakter masyarakat Sumenep yang menjunjung tinggi kebijaksanaan, menjaga keluhuran budaya, dan tetap teguh menghadapi berbagai tantangan zaman. Semangat itulah yang ingin terus dirawat di tengah derasnya perubahan dan pembangunan daerah.

Filosofi tersebut diterjemahkan melalui sejumlah elemen yang terdapat dalam logo karya Choirurrahman.

Tari Sintong menjadi simbol keluhuran budi, keteguhan nilai, dan harmoni antara budaya serta spiritualitas yang telah lama melekat dalam kehidupan masyarakat Sumenep. Sementara keris merepresentasikan kehormatan, keberanian, dan kebijaksanaan yang menguatkan identitas Sumenep sebagai Kota Keris.

Adapun motif batik menggambarkan kekayaan budaya dan kreativitas masyarakat yang diwariskan secara turun-temurun. Sedangkan unsur migas menjadi simbol potensi sumber daya alam yang turut berkontribusi terhadap pembangunan daerah.

Makna serupa juga tercermin dari warna-warna yang digunakan. Merah melambangkan keberanian dan semangat juang, kuning menggambarkan kejayaan dan harapan, sedangkan hijau menjadi simbol kerukunan, kesejukan, dan keharmonisan sosial.

Tak kalah penting, angka 758 yang tersemat dalam logo dimaknai sebagai perjalanan panjang Kabupaten Sumenep yang terus tumbuh dengan berlandaskan budaya, kebijaksanaan, dan semangat kemajuan yang bermartabat.

Bagi Pemerintah Kabupaten Sumenep, semangat Sodek Parjuga bukan hanya slogan peringatan hari jadi. Lebih dari itu, nilai tersebut diharapkan menjadi pengikat kebersamaan masyarakat dalam mendukung pembangunan daerah.

Fauzi menegaskan, berbagai capaian pembangunan yang diraih selama ini tidak terlepas dari kontribusi seluruh elemen masyarakat. Karena itu, kolaborasi dan partisipasi publik harus terus diperkuat agar pembangunan berjalan lebih inklusif dan berkelanjutan.

“Pembangunan akan berhasil jika seluruh elemen masyarakat memiliki komitmen yang sama untuk berkontribusi sesuai kapasitasnya masing-masing,” ujarnya.

Melalui semangat Songennep Sodek Parjuga, Hari Jadi Kabupaten Sumenep ke-758 diharapkan tidak hanya menjadi momentum perayaan, tetapi juga refleksi bersama untuk menjaga warisan budaya, memperkuat kebersamaan, dan melanjutkan pembangunan menuju Sumenep yang lebih maju, mandiri, dan sejahtera.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *