MALANG, KLIKTIMES.ID – Tulisan grafiti bertuliskan “Turunkan Harga Kami Lapar Cok” mendadak viral setelah muncul di sejumlah sudut Kota Malang. Coretan bernada protes tersebut menjadi perhatian warga karena dianggap mewakili keresahan masyarakat di tengah meningkatnya biaya hidup dan harga kebutuhan pokok.
Berdasarkan pantauan di lapangan, grafiti serupa ditemukan di sejumlah titik strategis, mulai kawasan Purwantoro, Tulusrejo, Tungguwulung, Cengger Ayam, Jalan Industri Barat Purwantoro hingga wilayah Kecamatan Klojen.
Tulisan itu tampak menghiasi dinding-dinding yang berada di jalur ramai dan mudah dilihat pengguna jalan. Tak butuh waktu lama, foto-foto grafiti tersebut beredar luas di media sosial dan memicu berbagai tanggapan dari masyarakat.
Banyak warga menilai pesan yang tertulis di tembok itu menggambarkan kondisi yang sedang dirasakan sebagian masyarakat saat ini. Kenaikan harga sejumlah kebutuhan pokok dinilai semakin menambah beban ekonomi rumah tangga.
Dalam beberapa bulan terakhir, harga beras, cabai, minyak goreng, telur, hingga sejumlah kebutuhan harian lainnya menjadi sorotan. Kondisi tersebut juga diperparah oleh meningkatnya biaya transportasi dan distribusi barang.
Seorang pedagang kaki lima di kawasan Pasar Besar Malang mengaku pengeluaran keluarganya terus bertambah seiring naiknya harga kebutuhan pokok.
“Kami kerja setiap hari, tapi uang belanja rasanya makin tidak cukup. Harga kebutuhan naik terus, begitu juga biaya transportasi. Tulisan di tembok itu mungkin mewakili perasaan banyak orang,” ujarnya, Senin (15/6/2026).
Bagi sebagian warga, grafiti tersebut bukan sekadar aksi vandalisme atau coretan biasa. Pesan yang disampaikan dianggap sebagai bentuk ekspresi spontan dari masyarakat yang merasakan tekanan ekonomi secara langsung.
Penggunaan kata “cok“, istilah yang populer dalam percakapan masyarakat Jawa Timur, juga dinilai membuat pesan itu terasa lebih dekat dengan bahasa sehari-hari warga.
Hingga berita ini ditulis, belum diketahui siapa pihak yang membuat grafiti tersebut. Namun keberadaannya telah menjadi bahan diskusi di media sosial maupun di tengah masyarakat.
Di sisi lain, sejumlah grafiti dilaporkan mulai dibersihkan oleh aparat setempat. Meski demikian, pesan yang terlanjur menyebar luas itu sudah lebih dulu menarik perhatian publik.
Aktivis mahasiswa Malang, Rizal, menilai kemunculan grafiti tersebut menunjukkan adanya kegelisahan sosial yang berkembang di tengah masyarakat.
“Fenomena ini menunjukkan bahwa keresahan masyarakat terhadap tekanan ekonomi tidak hanya disampaikan melalui forum-forum resmi, tetapi juga muncul dalam bentuk ekspresi spontan di ruang publik,” kata Rizal.
Menurutnya, kemunculan grafiti di sejumlah titik strategis membuat pesan tersebut mudah dilihat dan cepat menyebar ke ruang publik.
“Ini bisa dibaca sebagai simbol kegelisahan sebagian warga terhadap meningkatnya biaya hidup. Terlepas dari setuju atau tidak dengan caranya, pesan yang muncul menunjukkan ada suara yang ingin didengar,” ujarnya.
Terlepas dari polemik yang muncul, grafiti “Turunkan Harga Kami Lapar Cok” kini menjadi fenomena yang ramai diperbincangkan. Coretan sederhana di tembok-tembok kota itu berubah menjadi simbol protes yang menyuarakan keresahan sebagian masyarakat terhadap kondisi ekonomi yang mereka rasakan saat ini.
















