BeritaHukumPendidikan

Kisah Inagatha, Anak Petani Asal Jombang yang Resmi Menjadi Advokat

915
×

Kisah Inagatha, Anak Petani Asal Jombang yang Resmi Menjadi Advokat

Sebarkan artikel ini
INSPIRATIF:Inagatha Setyarahma Pangastuti resmi menyandang profesi advokat usai mengucapkan sumpah di Pengadilan Tinggi Surabaya, Kamis (2/7/2026). Foto/Ist.

SURABAYA, KLIKTIMES.ID – Lahir dari keluarga petani di sebuah desa di Kabupaten Jombang, Inagatha Setyarahma Pangastuti tak pernah membayangkan akan berdiri di ruang sidang Pengadilan Tinggi Surabaya untuk mengucapkan sumpah sebagai advokat.

Momen itu akhirnya datang pada Kamis (2/7/2026). Di hadapan majelis hakim dan puluhan calon advokat lainnya, perempuan yang akrab disapa Aga itu mengucapkan sumpah profesi dengan mata berkaca-kaca.

Air mata yang nyaris jatuh bukan karena gugup menghadapi prosesi yang sakral, melainkan karena ingatannya melayang kepada kedua orang tuanya yang selama ini bekerja sebagai petani di kampung halaman.

Hari itu menjadi titik balik dalam hidupnya. Perjalanan panjang seorang anak desa yang berani merantau demi mengejar pendidikan akhirnya bermuara di ruang sidang. Ia resmi menyandang profesi advokat, profesi yang dulu bahkan tak pernah terlintas dalam angan-angannya.

“Saat mengucapkan sumpah, saya terharu. Saya yang dulu merasa tidak punya banyak pilihan atas hidup saya, sekarang justru akan ikut menentukan arah hidup orang lain melalui profesi ini. Dulu saya belajar berani berbicara untuk diri sendiri, sekarang saya harus berani bersuara untuk orang lain,” ujar Inagatha.

Bagi Inagatha, advokat bukan sekadar profesi yang memberikan hak untuk beracara di pengadilan. Lebih dari itu, profesi tersebut merupakan amanah untuk memperjuangkan keadilan dan menjadi suara bagi masyarakat yang membutuhkan perlindungan hukum.

Tak Pernah Bercita-cita Menjadi Advokat

Jalan menuju profesi advokat tidak dilaluinya dengan mudah. Inagatha mengaku tumbuh sebagai anak yang pendiam dan terbiasa mengikuti keputusan kedua orang tuanya.

“Dulu hidup saya ya ‘apa kata Bapak, apa kata Ibu’. Saya bukan anak yang vokal. Bahkan menjadi advokat sama sekali tidak pernah ada dalam daftar cita-cita saya,” katanya.

Perubahan besar dalam hidupnya dimulai pada 2018. Saat itu ia memutuskan merantau ke Surabaya untuk menempuh pendidikan di Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sunan Ampel Surabaya. Keputusan tersebut sempat membuat kedua orang tuanya khawatir karena harus melepas putri sulung mereka hidup jauh dari rumah.

Namun, kekhawatiran itu perlahan berubah menjadi kebanggaan setelah Inagatha berhasil meraih beasiswa sarjana dari pemerintah. Kesempatan tersebut menjadi pintu yang membawanya keluar dari keterbatasan sekaligus membuka jalan menuju masa depan yang lebih luas.

Setelah menyelesaikan pendidikan sarjana, Inagatha mengikuti program magang di Kementerian Ketenagakerjaan. Dari pengalaman itu, ia mulai mengenal dunia kerja sekaligus memahami praktik hukum secara langsung.

Di sela-sela kesibukan bekerja, ia kembali menantang dirinya dengan mengikuti seleksi LPDP. Hasilnya, ia dinyatakan lolos sebagai awardee dan melanjutkan studi Magister Hukum di Fakultas Hukum Universitas Airlangga.

Selama menempuh pendidikan magister, Inagatha aktif mengikuti berbagai kegiatan akademik. Ia menulis artikel ilmiah, menghadiri seminar, mengikuti pelatihan hukum, hingga menyelesaikan Pendidikan Khusus Profesi Advokat (PKPA). Ia juga dipercaya menjadi pengurus Kelurahan LPDP Universitas Airlangga sebagai bentuk pengabdian kepada negara yang telah membiayai pendidikannya.

Pengalaman magang dan praktik hukum itulah yang mengubah cara pandangnya terhadap profesi advokat.

“Saya mencoba mengikuti magang dan praktik advokat. Ternyata profesi ini sangat menantang. Ada kepuasan tersendiri ketika bisa memperjuangkan kebenaran untuk orang lain. Dari situ saya sadar, ternyata saya ingin berada di jalan ini,” tuturnya.

Perjalanan akademiknya pun berakhir manis. Ia meraih gelar Magister Hukum dari Universitas Airlangga dengan predikat cum laude sebelum akhirnya resmi disumpah sebagai advokat.

Doa Orang Tua Menjadi Kekuatan

Di balik seluruh pencapaian itu, Inagatha menyebut kedua orang tuanya sebagai sosok yang paling berjasa dalam perjalanan hidupnya.

Baginya, momen paling mengharukan bukan hanya ketika menerima ijazah magister atau mengenakan toga advokat. Kebahagiaan terbesar justru saat melihat kedua orang tuanya menyaksikan hasil perjuangan yang selama ini dibangun dengan doa, kerja keras, dan pengorbanan.

“Bapak dan Ibu saya hanya petani. Mereka bukan pejabat dan bukan orang yang punya jabatan besar. Tapi putrinya bisa menjadi lulusan Magister Hukum Universitas Airlangga dengan predikat cum laude, lalu diambil sumpah sebagai advokat. Saya hanya meminta mereka terus mendoakan saya. Ternyata doa itu benar-benar mengantarkan saya sampai sejauh ini,” ungkapnya.

Sebagai anak rantau, ia mengaku banyak belajar tentang kehidupan. Ia harus mengambil keputusan sendiri, menghadapi kegagalan, bangkit setelah terjatuh, hingga menyembuhkan luka tanpa selalu ditemani keluarga.

“Saya merasa berjalan tanpa peta. Kadang jatuh, bangkit lagi. Kadang salah jalan, lalu memutar arah. Tapi mungkin memang beginilah cara Tuhan mendewasakan saya,” katanya.

Sebagai anak pertama, Inagatha memilih tidak menyalahkan kedua orang tuanya atas setiap dinamika yang pernah ia alami. Menurutnya, orang tua juga sedang belajar menjalankan perannya, sebagaimana dirinya belajar menjadi seorang anak.

Kini, setelah resmi menyandang profesi advokat, ia berharap dapat mengabdikan ilmu yang dimiliki untuk memperjuangkan keadilan serta menjadi suara bagi mereka yang tidak mampu memperjuangkan haknya sendiri.

“Saya hanya ingin terus didoakan oleh orang tua, keluarga, dan semua orang yang menyayangi saya. Semoga setelah disumpah menjadi advokat, saya bisa semakin lantang menyuarakan kebenaran,” pungkasnya.

Perjalanan Inagatha membuktikan bahwa latar belakang bukan penghalang untuk meraih mimpi. Berbekal kerja keras, pendidikan, dan doa orang tua, anak petani asal Jombang itu kini mengabdikan dirinya sebagai advokat untuk memperjuangkan keadilan bagi mereka yang membutuhkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *