Berita

Pangdam V/Brawijaya Tinjau EduFarming di Sumenep, Dorong Edukasi Peternakan bagi Generasi Muda

21
×

Pangdam V/Brawijaya Tinjau EduFarming di Sumenep, Dorong Edukasi Peternakan bagi Generasi Muda

Sebarkan artikel ini
Pangdam V/Brawijaya Mayjen TNI Rudy Saladin didampingi penggagas EduFarming Fauzi Mami Muda saat meninjau lokasi pusat pembelajaran peternakan EduFarming di Desa Matanair, Kecamatan Rubaru, Kabupaten Sumenep. Foto/Igusty.

SUMENEP | KLIKTIMES.ID – Pangdam V/Brawijaya Mayjen TNI Rudy Saladin meninjau langsung proyek EduFarming Fauzi Mami Muda di Desa Matanair, Kecamatan Rubaru, Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur, Minggu (8/3/2026).

Kunjungan tersebut menjadi momentum untuk mendorong pengembangan edukasi peternakan sekaligus memperkuat pemberdayaan masyarakat di tingkat desa.

Dalam kunjungan tersebut, Pangdam melihat secara langsung area pengembangan EduFarming yang dirancang sebagai pusat pembelajaran peternakan bagi masyarakat, khususnya generasi muda.

Program EduFarming mengusung konsep pembelajaran yang memadukan teori dan praktik secara langsung di lapangan. Melalui pendekatan ini, masyarakat tidak hanya memperoleh pengetahuan dasar tentang beternak, tetapi juga mempelajari cara mengelola usaha peternakan secara modern, produktif, dan berkelanjutan.

Mayjen TNI Rudy Saladin mengapresiasi inisiatif tersebut. Menurutnya, program seperti EduFarming dapat menjadi sarana edukasi sekaligus pemberdayaan masyarakat di sektor peternakan.

“Program seperti ini sangat positif karena dapat menjadi sarana edukasi sekaligus pemberdayaan masyarakat di sektor peternakan,” ujar Rudy saat meninjau lokasi EduFarming.

Ia menilai penguatan ketahanan pangan tidak hanya bergantung pada kebijakan pemerintah, tetapi juga memerlukan partisipasi aktif masyarakat melalui berbagai inovasi di tingkat lokal.

“Jika masyarakat diberikan ruang belajar seperti ini, mereka bisa memahami bagaimana peternakan dikelola secara baik dan modern. Ini tentu berdampak pada peningkatan ekonomi sekaligus ketahanan pangan,” katanya.

Sementara itu, penggagas EduFarming, Fauzi Mami Muda, menyampaikan bahwa kunjungan Pangdam V/Brawijaya menjadi dukungan moral bagi pengembangan pusat pembelajaran peternakan tersebut.

“Kehadiran Pangdam menjadi motivasi besar bagi kami untuk terus mengembangkan EduFarming agar dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” ujar Fauzi.

Menurutnya, EduFarming di Desa Matanair tidak hanya dirancang sebagai tempat belajar beternak, tetapi juga sebagai ruang kolaborasi antara masyarakat, pemerintah, dan berbagai pihak yang memiliki perhatian terhadap pengembangan sektor peternakan.

“Konsep ini kami bangun sebagai tempat belajar terbuka. Masyarakat dapat memahami peternakan tidak hanya dari sisi teknis, tetapi juga dari sisi manajemen usaha yang modern dan berkelanjutan,” katanya.

Fauzi menilai sektor peternakan memiliki potensi ekonomi besar apabila dikelola dengan pendekatan ilmu pengetahuan, manajemen yang baik, serta dukungan teknologi.

Ia juga berharap keberadaan EduFarming dapat menarik minat generasi muda untuk terjun ke sektor peternakan.

“Kami ingin generasi muda melihat bahwa peternakan bukan pekerjaan yang ketinggalan zaman. Jika dikelola secara modern, sektor ini justru memiliki peluang usaha yang menjanjikan,” ujarnya.

Menurut Fauzi, jika generasi muda mulai tertarik mengembangkan usaha peternakan secara profesional, maka upaya mewujudkan kemandirian pangan di daerah akan semakin kuat.

“Kemandirian pangan harus dimulai dari desa. Jika desa memiliki pusat pembelajaran seperti ini, masyarakat akan lebih siap membangun usaha peternakan secara mandiri,” kata dia.

Kunjungan Pangdam V/Brawijaya tersebut juga mencerminkan sinergi antara TNI dan masyarakat dalam mendukung berbagai program pemberdayaan serta pembangunan di daerah.

Apabila dikelola secara berkelanjutan, EduFarming di Desa Matanair dinilai berpotensi menjadi model pembelajaran peternakan yang tidak hanya meningkatkan kapasitas masyarakat, tetapi juga membuka peluang kemandirian ekonomi sekaligus memperkuat ketahanan pangan di Kabupaten Sumenep.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *