BeritaDaerah

Maharaya Festival 2026 Perkuat Ekosistem Tari Lewat Pertunjukan, Diskusi, dan Apresiasi Karya

3242
×

Maharaya Festival 2026 Perkuat Ekosistem Tari Lewat Pertunjukan, Diskusi, dan Apresiasi Karya

Sebarkan artikel ini

SUMENEP, KLIKTIMES.ID – Maharaya Festival 2026 di Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, tidak hanya menghadirkan pertunjukan tari sebagai hiburan. Festival yang akan berlangsung selama tiga hari, mulai 31 Juli hingga 2 Agustus 2026, dirancang sebagai ruang terpadu yang mempertemukan pertunjukan, proses penciptaan karya, diskusi, hingga apresiasi seni tari.

Mengusung konsep yang memadukan unsur rekreasi dan edukasi, Maharaya Festival diharapkan menjadi wadah untuk memperkuat ekosistem seni tari sekaligus melahirkan gagasan serta karya-karya baru dari para pelaku seni.

Inisiator Maharaya Festival, Nur Khalis, mengatakan konsep tersebut sengaja dirancang agar festival tidak berhenti sebagai tontonan semata. Menurutnya, setiap rangkaian kegiatan saling terhubung untuk membangun ekosistem seni tari yang berkelanjutan.

“Festival ini kami rancang sebagai event yang terintegrasi. Tidak hanya menghadirkan hiburan bagi masyarakat, tetapi juga menyediakan ruang belajar dan bertukar pengetahuan bagi pelaku seni tari,” kata Nur Khalis.

Dari sisi rekreasi, Maharaya Festival menghadirkan Festival Menari yang akan digelar pada 1 Agustus 2026 mulai pukul 08.00 WIB hingga selesai. Pertunjukan sepanjang 1,5 kilometer itu akan melibatkan peserta kategori anak dan dewasa dengan memanfaatkan ruas jalan sebagai panggung utama.

Rangkaian festival kemudian ditutup melalui Puncak Maharaya Chapter Satu pada 2 Agustus 2026 mulai pukul 19.00 WIB. Agenda tersebut menjadi klimaks seluruh rangkaian kegiatan dengan menampilkan karya-karya tari terbaik yang telah dipersiapkan para peserta.

Sementara dari sisi edukasi, Maharaya Festival menghadirkan dua agenda utama. Pertama, Diksi (Diskusi Tari) Maharaya yang berlangsung pada 31 Juli 2026 mulai pukul 08.00 WIB hingga selesai. Forum ini menjadi ruang bertukar gagasan mengenai proses kreatif, konsep penciptaan, hingga perkembangan seni tari.

Agenda kedua adalah Bhakti (Bedah dan Apresiasi Karya Tari) Maharaya yang digelar pada 2 Agustus 2026 mulai pukul 08.00 WIB. Berbeda dari forum diskusi pada umumnya, kegiatan ini tidak hanya menghadirkan akademisi dan pengamat seni, tetapi juga dua koreografer terbaik dari kategori anak dan dewasa pada Festival Menari.

Menurut Nur Khalis, kedua koreografer tersebut akan membagikan pengalaman mengenai proses kreatif, ide penciptaan, hingga perjalanan mereka dalam menghasilkan sebuah karya tari.

“Melalui forum ini, peserta dan masyarakat dapat memahami bahwa sebuah pertunjukan tari lahir melalui proses artistik yang panjang, bukan sekadar hasil akhir yang tampil di atas panggung,” ujarnya.

Ia berharap konsep festival yang mengintegrasikan hiburan dan edukasi tersebut mampu memperkuat budaya diskusi, apresiasi, sekaligus mendorong lahirnya karya-karya tari baru di Kabupaten Sumenep.

“Seluruh rangkaian kegiatan ini saling berkaitan. Rekreasi dan edukasi berjalan bersama dalam satu tema besar, yaitu tari. Kami ingin Maharaya tidak hanya menjadi festival yang meriah, tetapi juga memberi ruang lahirnya gagasan dan karya-karya baru,” pungkas Nur Khalis.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *