BeritaDaerahPendidikan

IBS PKMKK Pamekasan Bangun Peradaban Literasi, Ratusan Karya Santri Berhasil Terbit

20
×

IBS PKMKK Pamekasan Bangun Peradaban Literasi, Ratusan Karya Santri Berhasil Terbit

Sebarkan artikel ini
Foto bersama santri IBS PKMKK Pamekasan di depan Padepokan Kyai Mudrikah Kembang Kuning. Foto/Ist.

PAMEKASAN | KLIKTIMES.ID – Islamic Boarding School Padepokan Kyai Mudrikah Kembang Kuning (IBS PKMKK) Pamekasan terus menunjukkan perkembangan budaya literasi di lingkungan pesantren. Dalam kurun empat tahun terakhir, pesantren tersebut berhasil menerbitkan 206 karya santri ber-ISBN, termasuk 26 karya berbahasa Inggris.

Terbaru, pada awal Mei 2026, IBS PKMKK kembali merilis sembilan karya baru santri dengan beragam tema dan sudut pandang. Capaian itu dinilai menjadi penanda tumbuhnya budaya intelektual baru sekaligus penguatan peradaban literasi di lingkungan pesantren.

Dosen Pascasarjana UIN Madura, Heni Listiana mengatakan, fenomena tersebut menunjukkan santri kini tidak lagi hanya menjadi pembaca, tetapi juga mulai tampil sebagai pencipta karya dan produsen gagasan literasi.

“Santri tidak lagi hanya menjadi pembaca teks, tetapi juga pencipta teks,” ujarnya.

Menurut Heni, budaya literasi di IBS PKMKK dibangun melalui ekosistem pendidikan yang mendorong santri untuk berpikir kritis, membaca realitas sosial, lalu menuangkannya dalam bentuk tulisan.

Ia menilai, pesantren saat ini tidak hanya menjadi ruang transfer ilmu keagamaan, tetapi juga ruang produksi pengetahuan. Tradisi membaca kitab tetap dipertahankan, namun diperluas dengan kemampuan membaca fenomena sosial dan mengartikulasikannya dalam karya tulis.

Salah satu karya yang mencuri perhatian ialah novel berbahasa Inggris Moonstruck With You karya ketiga Naurah Resa Alana dengan nama pena Sang Kinasih. Kehadiran karya tersebut dinilai menunjukkan bahwa literasi santri mulai bergerak menuju ruang global.

Selain itu, delapan karya lain yang turut dirilis yakni Masa Depan karya Moh Farel Ardan, Siapa yang Mencuri Bayanganku karya Balqis Firdaus, Uncovering The Secrets of Death karya Akvi Karomatin Aini, serta Fiat Justitia “Runtuhnya Langit Kono” karya kedua Sherin Safitri.

Ada pula Gema Tanpa Suara karya Syifatul Fajariyah, Sunya-Arka karya kedua Tria Fahira Nuramaja, Gema Sunyi di Langit Anantara karya Hilya Zariratu Ilmina, dan A Whistle Blower karya Tuhfah el Zaheera Rambe.

Heni menjelaskan, ratusan karya yang lahir dari santri tersebut tidak dapat dipahami sekadar sebagai keberhasilan individu menulis buku. Menurutnya, capaian itu merupakan hasil dari budaya literasi yang dibangun secara sistematis di lingkungan pesantren.

“Ini bukan sekadar angka statistik, tetapi tanda transformasi budaya pendidikan,” katanya.

Ia menambahkan, karya-karya santri juga merefleksikan dinamika psikologis dan sosial generasi muda saat ini. Sejumlah judul mengangkat tema pencarian identitas, kesunyian, hingga kritik terhadap keadilan sosial.

Menurutnya, keberhasilan tersebut tidak lepas dari lingkungan pendidikan yang memberi ruang aman bagi santri untuk berekspresi dan mengembangkan kreativitas intelektual.

“Ketika santri diberi ruang untuk bereksperimen dan berkembang tanpa takut dihakimi, maka potensi intelektual mereka akan muncul secara alami,” ungkapnya.

Heni menilai, fenomena 206 karya santri itu menunjukkan bahwa pesantren mampu bertransformasi tanpa kehilangan akar tradisinya. Kehadiran 26 karya berbahasa Inggris juga dinilai menjadi tanda bahwa santri mulai membangun kesadaran global tanpa meninggalkan identitas lokal.

Fenomena tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa pesantren kini tidak hanya berfungsi sebagai penjaga tradisi, tetapi juga menjadi ruang lahirnya generasi muda kreatif dan produktif dalam membangun peradaban literasi.

“Jika selama ini pesantren dipersepsikan hanya menjaga tradisi, maka IBS PKMKK memperlihatkan wajah lain, bahwa pesantren juga menjadi ruang penciptaan peradaban literasi,” tegasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *