SURABAYA | KLIKTIMES.ID – PT Garam mulai menjajaki pola kemitraan baru dengan sektor swasta sebagai upaya memperkuat industri garam nasional sekaligus menjaga stabilitas harga garam rakyat. Langkah itu ditandai melalui pertemuan strategis yang digelar di Surabaya, Selasa (5/5/2026), bersama Achsanul Qosasi dan pengusaha H. Khairul Umam beserta tim pendamping.
Pertemuan tersebut menjadi bagian dari strategi PT Garam dalam membangun ekosistem industri garam yang melibatkan negara, pelaku usaha, dan petani sebagai satu rantai produksi yang saling terhubung. Dalam skema yang tengah dibahas, PT Garam diposisikan sebagai representasi negara dan penyedia sistem, sementara pihak swasta menjalankan operasional penyerapan serta pengolahan garam rakyat.
Direktur Utama PT Garam, Abraham Mose, mengatakan kerja sama tersebut merupakan bagian dari transformasi perusahaan dalam menciptakan nilai tambah bagi industri garam nasional.
Menurut dia, PT Garam tidak hanya berorientasi pada bisnis, tetapi juga memiliki tanggung jawab menjaga keberlangsungan ekonomi petani garam, khususnya di wilayah Madura.
“PT Garam hadir bukan hanya sebagai entitas bisnis, tetapi sebagai perpanjangan tangan negara untuk memastikan garam rakyat terserap dengan baik, memiliki nilai tambah, dan harga di tingkat petani tetap stabil,” ujar Abraham.
Ia menilai pola kemitraan dengan sektor swasta menjadi langkah konkret untuk memperkuat tata niaga garam nasional yang selama ini kerap menghadapi persoalan harga dan serapan hasil produksi petani.
“Kemitraan ini menjadi langkah konkret untuk meningkatkan kesejahteraan petani garam, khususnya di Madura,” katanya.
Dalam skema yang tengah dibangun, mitra usaha akan menyerap garam langsung dari petani untuk kemudian diolah melalui fasilitas pengolahan, termasuk pabrik milik PT Garam di wilayah Camplong.
Abraham menjelaskan, model tersebut diharapkan mampu meningkatkan kualitas dan nilai jual garam rakyat sehingga tidak lagi dijual sebatas bahan baku dengan harga rendah.
“Proses pengolahan memungkinkan peningkatan kualitas dan nilai jual garam yang berpotensi mencapai harga lebih tinggi dibandingkan garam bahan baku,” ujarnya.
Ia menambahkan, PT Garam dalam kerja sama itu akan berperan sebagai fasilitator melalui penyediaan aset dan sistem produksi. Sementara mitra swasta menjalankan operasional penyerapan dan pengolahan garam di lapangan.
Menurut Abraham, pola tersebut juga membuka peluang penerapan model maklun maupun optimalisasi aset perusahaan agar lebih produktif dan berdampak langsung terhadap ekonomi masyarakat.
Sementara itu, keterlibatan H. Khairul Umam dalam penjajakan kerja sama tersebut dinilai menjadi sinyal masuknya dukungan sektor swasta terhadap penguatan industri garam nasional. Kehadiran pelaku usaha dalam rantai distribusi dan pengolahan disebut dapat memperluas pasar sekaligus mempercepat penyerapan hasil produksi petani.
Ke depan, kerja sama tersebut direncanakan diformalkan melalui mekanisme resmi perusahaan dan diproyeksikan menjadi pilot project stabilisasi harga garam rakyat secara berkelanjutan.
Melalui inisiatif itu, PT Garam menegaskan komitmennya membangun industri garam nasional yang lebih kuat, berdaya saing, dan berpihak pada kesejahteraan petani.












