Opini

Harkitnas dan Reformasi 2026: Menjaga Api Kebangkitan di Tengah Krisis Zaman

1071
×

Harkitnas dan Reformasi 2026: Menjaga Api Kebangkitan di Tengah Krisis Zaman

Sebarkan artikel ini
Junaidi, Ketua Aliansi BEM Pamekasan. Foto/Ist.

OPINI | KLIKTIMES.ID – Hari Kebangkitan Nasional dan Hari Reformasi seharusnya tidak hanya dipahami sebagai peringatan sejarah yang berhenti pada seremoni tahunan. Dua momentum itu merupakan cermin perjalanan bangsa Indonesia dalam mencari jati diri, memperjuangkan keadilan, dan membangun peradaban yang lebih bermartabat.

Harkitnas lahir dari kesadaran kaum terdidik pribumi pada awal abad ke-20 bahwa penjajahan tidak hanya merampas tanah dan kekayaan, tetapi juga merampas martabat manusia. Sementara Reformasi 1998 lahir dari keberanian rakyat dan mahasiswa dalam melawan kekuasaan yang dianggap gagal menjaga demokrasi dan keadilan sosial.

Namun setelah lebih dari satu abad Kebangkitan Nasional dan hampir tiga dekade Reformasi berjalan, pertanyaan penting yang harus kita renungkan adalah: apakah bangsa ini benar-benar telah bangkit secara utuh?

Indonesia hari ini memang tumbuh menjadi negara besar dengan berbagai capaian yang patut diapresiasi. Infrastruktur berkembang pesat, transformasi digital semakin luas, dan ekonomi nasional tetap bertahan di tengah ketidakpastian global. Pemerintah juga terus mendorong pembangunan sumber daya manusia sebagai fondasi menuju Indonesia Emas 2045.

Tetapi di balik optimisme itu, bangsa ini masih menghadapi tantangan besar yang tidak bisa diabaikan. Laporan berbagai lembaga internasional menunjukkan kualitas literasi masyarakat Indonesia masih rendah.

Budaya membaca belum tumbuh kuat, sementara media sosial justru lebih mendominasi pola konsumsi informasi publik. Fenomena hoaks, polarisasi politik, ujaran kebencian, hingga menurunnya etika ruang publik menunjukkan bahwa kemajuan teknologi belum sepenuhnya diiringi kedewasaan sosial.

Kita hidup di era banjir informasi, tetapi sekaligus mengalami krisis kebijaksanaan. Sosiolog asal Polandia, Zygmunt Bauman, menyebut kondisi modern saat ini sebagai liquid modernity, artinya masyarakat cair yang mudah berubah, rapuh, dan kehilangan pegangan nilai. Dalam masyarakat seperti itu, manusia sering terjebak pada budaya instan, kehilangan kedalaman berpikir, dan mudah terombang-ambing arus opini.

Realitas itu terasa nyata di Indonesia hari ini, anak muda semakin akrab dengan dunia digital, tetapi tidak semuanya memiliki kemampuan literasi yang memadai untuk memilah informasi. Demokrasi berkembang, tetapi ruang diskusi publik sering dipenuhi kemarahan dan saling menjatuhkan. Pendidikan meluas, tetapi belum sepenuhnya berhasil melahirkan generasi yang kritis dan berintegritas.

Padahal Bung Hatta pernah mengingatkan bahwa tujuan pendidikan bukan hanya mencerdaskan otak, tetapi juga membentuk karakter dan tanggung jawab sosial. Pendidikan yang kehilangan moralitas hanya akan melahirkan manusia pintar tanpa arah kebangsaan.

Di sinilah makna Harkitnas dan Reformasi menjadi sangat relevan. Kebangkitan nasional hari ini tidak lagi hanya berbicara tentang melawan penjajahan fisik, tetapi melawan kemiskinan intelektual, intoleransi, korupsi, serta melemahnya solidaritas sosial. Reformasi juga tidak cukup dimaknai sebagai pergantian sistem politik, melainkan harus terus dijaga sebagai semangat memperbaiki negara secara berkelanjutan.

Antonio Gramsci pernah mengatakan bahwa krisis terjadi ketika “yang lama belum mati dan yang baru belum lahir.” Indonesia saat ini sedang berada dalam fase itu. Kita sedang bergerak menuju negara maju, tetapi masih dibayangi berbagai persoalan lama: ketimpangan pendidikan, korupsi, lemahnya literasi, hingga rendahnya kepercayaan publik terhadap sebagian institusi.

Namun di tengah tantangan tersebut, harapan tetap ada. Bangsa ini memiliki generasi muda yang kreatif, adaptif, dan berani berinovasi. Pemerintah juga mulai memberi perhatian serius terhadap penguatan pendidikan, transformasi digital, hilirisasi ekonomi, serta pembangunan sumber daya manusia. Semua itu adalah modal besar untuk membawa Indonesia keluar dari jebakan negara berkembang.

Karena itu, momentum Harkitnas dan Reformasi 2026 seharusnya menjadi titik penguatan kolaborasi, bukan saling melemahkan. Kritik tetap penting dalam demokrasi, tetapi kritik harus diarahkan untuk memperbaiki, bukan sekadar membangun pesimisme.

Sebagai pemuda, kami percaya bahwa bangsa ini tidak kekurangan orang pintar. Indonesia hanya membutuhkan lebih banyak orang yang jujur, berintegritas, dan memiliki keberanian moral untuk menjaga cita-cita kebangsaan.

Kebangkitan sejati bukan hanya soal pertumbuhan ekonomi atau pembangunan fisik, melainkan kebangkitan cara berpikir bangsa. Bangkitnya kesadaran bahwa Indonesia tidak boleh dibangun hanya oleh elite, tetapi oleh seluruh rakyat yang memiliki rasa tanggung jawab terhadap masa depan negeri ini.

Harkitnas dan Reformasi harus menjadi pengingat bahwa sejarah besar bangsa ini lahir dari keberanian melawan pesimisme. Dan selama semangat itu masih hidup, Indonesia akan selalu memiliki harapan untuk menjadi bangsa yang maju, adil, dan bermartabat.

*) Oleh: Junaidi, Ketua Aliansi BEM Pamekasan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Opini

Dan mungkin di situlah letak kekuatannya.

Ia memahami bahwa keamanan bukan hanya soal senjata, tetapi juga soal perut rakyat, ketahanan sosial, pertanian, ekonomi desa, hingga rasa percaya masyarakat kepada negara.

Opini

Saya tidak sedang menyalahkan semua. Bagi saya “Itu Oknum”. Tidak adil kalau kita pukul rata. Karena kita tahu, masih banyak LSM yang benar-benar bekerja: mendampingi masyarakat, melawan ketidakadilan, bahkan sering berdiri paling depan saat negara datang terlambat.