PERTANIAN Indonesia sesungguhnya tidak kekurangan program. Yang masih dibutuhkan adalah hadirnya kader-kader yang benar-benar hidup bersama petani, memahami persoalan mereka, dan bersedia menjadi bagian dari solusi. Sebab, sehebat apa pun sebuah program, tidak akan berarti apabila berhenti sebagai agenda seremonial tanpa dampak nyata di lapangan.
Karena itu, Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) Tani Merdeka III yang diselenggarakan di Kota Batu, Jawa Timur, patut dimaknai lebih dari sekadar agenda rutin organisasi. Diklat bukan hanya ruang untuk menambah pengetahuan, tetapi juga tempat menempa karakter, membangun integritas, dan meneguhkan komitmen pengabdian kepada petani.
Militansi yang dibangun dalam proses diklat bukanlah tentang sikap keras atau semangat yang menggebu sesaat. Militansi adalah keteguhan untuk tetap hadir ketika petani menghadapi kesulitan. Ia tercermin dari keberanian mendengar keluhan, memahami kebutuhan, serta bersama-sama mencari jalan keluar atas persoalan yang dihadapi.
Tantangan yang dihadapi petani hari ini tidaklah sederhana. Kelangkaan pupuk, fluktuasi harga hasil panen, perubahan iklim, keterbatasan akses permodalan, hingga minimnya pendampingan masih menjadi persoalan yang terus membayangi sektor pertanian.
Dalam situasi seperti itu, organisasi tidak cukup hanya menyampaikan kritik atau menyusun program di atas kertas. Organisasi harus melahirkan kader yang hadir di tengah masyarakat, bekerja bersama petani, mendampingi mereka, dan menjadi jembatan antara kebutuhan di lapangan dengan kebijakan pemerintah.
Saya meyakini bahwa keberhasilan sebuah organisasi tidak diukur dari banyaknya kegiatan yang diselenggarakan, melainkan dari sejauh mana kehadirannya mampu memberi manfaat bagi masyarakat. Kader Tani Merdeka harus menjadi penghubung antara petani dan pemerintah, menjadi mitra dalam menyelesaikan persoalan, sekaligus menjadi motor lahirnya inovasi di sektor pertanian.
Bagi saya pribadi, mengikuti Diklat Tani Merdeka III memberikan pelajaran penting bahwa perjuangan sesungguhnya tidak berhenti ketika pelatihan selesai. Justru setelah kembali ke daerah, tanggung jawab itu dimulai. Ilmu, pengalaman, dan semangat yang diperoleh selama diklat harus diwujudkan dalam kerja nyata yang mampu memperkuat kemandirian petani.
Kabupaten Sumenep memiliki potensi pertanian yang besar. Namun, potensi itu hanya akan berkembang apabila didukung oleh sumber daya manusia yang memiliki kepedulian, integritas, kompetensi, dan kemauan untuk terus bekerja bersama petani. Di sinilah kader Tani Merdeka memiliki peran strategis, bukan sekadar menjadi penonton, tetapi menjadi bagian dari solusi.
Diklat telah usai. Namun, tugas pengabdian baru saja dimulai. Kini saatnya membuktikan bahwa semangat yang ditempa selama tiga hari di Kota Batu tidak berhenti sebagai cerita atau sertifikat semata, melainkan menjelma menjadi kerja nyata di sawah, di ladang, dan di setiap ruang tempat petani membutuhkan pendampingan.
Sebab pada akhirnya, sebuah organisasi tidak akan dikenang karena banyaknya slogan yang disampaikan atau banyaknya kegiatan yang digelar. Organisasi akan dikenang karena mampu menghadirkan perubahan, menumbuhkan harapan, dan memberi manfaat nyata bagi kehidupan petani.
*) Penulis: Muhsi Ramadhani, Wakil Ketua DPD Tani Merdeka Kabupaten Sumenep.
















