SURABAYA, KLIKTIMES.ID – Peringatan Hari Sumpah Pemuda yang digelar Polda Jawa Timur menuai kritik dari Badan Koordinasi Himpunan Mahasiswa Islam (BADKO HMI) Jawa Timur.
Kegiatan yang melibatkan elemen mahasiswa, pemuda, dan santri tersebut dinilai lebih menonjolkan hiburan seremonial ketimbang penguatan semangat kritis, nilai kebangsaan, dan moralitas generasi muda.
Kritik tersebut disampaikan M. Shohir, Ketua Bidang Perguruan Tinggi, Kemahasiswaan, dan Pemuda (PTKP) BADKO HMI Jawa Timur.
Ia menilai, peringatan Sumpah Pemuda semestinya menjadi ruang refleksi perjuangan, konsolidasi gagasan, serta penguatan peran pemuda dalam menjawab persoalan bangsa.
“Di saat pemuda di Ibu Kota Jakarta turun ke jalan menyuarakan aspirasi dan substansi kebangsaan, Polda Jawa Timur justru menyuguhkan hiburan seremonial yang berpotensi mengikis nilai moral pemuda dan santri,” ujar Shohir.
Menurut dia, kritik tersebut bukan semata-mata penolakan terhadap hiburan, melainkan bentuk keprihatinan atas pergeseran makna peringatan Sumpah Pemuda. Momentum bersejarah itu, kata dia, seharusnya diisi dengan kegiatan yang mendorong pemikiran kritis, kepedulian sosial, serta kontribusi nyata bagi masyarakat.
Shohir juga menyoroti perbedaan respons pemuda di sejumlah daerah dalam memperingati momentum tersebut. Ia membandingkan gerakan mahasiswa dan pemuda di Jakarta yang menyampaikan aspirasi serta kritik terhadap kebijakan dengan kegiatan di Jawa Timur yang dinilainya lebih berorientasi pada hiburan.
“Kami melihat kontras respons pemuda antardaerah. Ketika elemen gerakan mahasiswa dan pemuda di Jakarta konsisten menyampaikan gagasan, kritik kebijakan, serta isu-isu kebangsaan, Polda Jawa Timur justru terkesan meninabobokan pemuda dengan hura-hura dan goyang-goyang yang tidak memberikan dampak substantif bagi kemajuan daerah,” katanya.
Selain persoalan substansi kebangsaan, Shohir turut menyoroti keterlibatan kalangan santri dalam kegiatan tersebut.
Ia menilai, penyajian hiburan yang tidak bernuansa religi perlu menjadi perhatian karena berpotensi berbenturan dengan nilai-nilai moral yang selama ini ditanamkan oleh ulama, kiai, dan tokoh agama di Jawa Timur.
Menurutnya, institusi kepolisian semestinya turut mengambil peran dalam memperkuat pendidikan publik, membangun karakter generasi muda, dan menjaga ruang pembinaan moral.
Kendati begitu, Ia berharap kegiatan yang membawa nama peringatan Sumpah Pemuda tidak berhenti pada kemeriahan acara, tetapi juga menghadirkan manfaat edukatif.
“Sesi goyang-goyang dengan lagu yang tidak bernuansa religi sangat berpotensi merusak fondasi nilai moralitas yang sudah ditanamkan oleh ulama, kiai, dan tokoh agama di Jawa Timur,” ucapnya.
Shohir menegaskan, peringatan Sumpah Pemuda perlu dikembalikan pada esensi historisnya sebagai momentum memperkuat persatuan, membangun kepemimpinan, dan mendorong keterlibatan aktif generasi muda dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
“Peringatan Hari Sumpah Pemuda seharusnya dikembalikan pada ruh aslinya: wadah konsolidasi ide, penguatan kepemimpinan, dan dorongan aksi nyata untuk kemajuan bangsa, bukan sekadar acara seremonial dan panggung hiburan yang mendegradasi moralitas santri dan kesadaran kritis pemuda,” pungkasnya.
















