Bappeda
DKPP
RSUD
TANI
BeritaNasional

Lima Kali Jadi Simpul Jaringan Terbaik Nasional, Jatim Kembali Raih Empat Penghargaan Kearsipan

1043
×

Lima Kali Jadi Simpul Jaringan Terbaik Nasional, Jatim Kembali Raih Empat Penghargaan Kearsipan

Sebarkan artikel ini
Pemprov Jawa Timur meraih empat penghargaan nasional pada Hari Kearsipan Nasional ke-55, termasuk Simpul Jaringan Terbaik Nasional dan Predikat AA Pengawasan Kearsipan. Foto/Ist.

JAKARTA, KLIKTIMES.ID – Pemerintah Provinsi Jawa Timur kembali menorehkan prestasi di tingkat nasional dengan meraih empat penghargaan pada puncak peringatan Hari Kearsipan Nasional ke-55 yang digelar di Kantor Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI), Jakarta Selatan.

Empat penghargaan yang diraih meliputi Simpul Jaringan Terbaik Nasional Tahun 2026, Simpul Jaringan Terbaik Nasional Lima Tahun Berturut-turut, Pengawasan Kearsipan dengan Predikat AA (Sangat Memuaskan), serta Anugerah Memori Kolektif Bangsa (MKB) untuk arsip Majelis Agung Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) periode 1931–1995.

Khusus untuk penghargaan Simpul Jaringan Terbaik Nasional, capaian tahun ini menjadi yang kelima bagi Jawa Timur setelah sebelumnya diraih pada 2021, 2022, 2024, dan 2025.

Penghargaan tersebut diterima Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa yang diwakili Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur, Tiat S. Suwardi. Sementara penghargaan Anugerah Memori Kolektif Bangsa diterima Ketua Umum Mahkamah Agung GKJW, Pdt. Natael Hermawan Prianto. Seluruh penghargaan diserahkan langsung oleh Kepala ANRI, Mego Pinandito.

Gubernur Khofifah mengatakan, capaian tersebut merupakan hasil kerja bersama berbagai pihak yang selama ini berkomitmen membangun tata kelola kearsipan yang kuat, modern, dan berkelanjutan di Jawa Timur.

“Penghargaan ini tidak diraih sendiri. Ini merupakan hasil sinergi perangkat daerah, para arsiparis, serta berbagai mitra strategis yang terus menguatkan tata kelola kearsipan di Jawa Timur,” kata Khofifah.

Menurutnya, keberhasilan mempertahankan penghargaan Simpul Jaringan Terbaik Nasional selama lima kali menunjukkan bahwa sistem kearsipan Jawa Timur mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan di era digital.

Khofifah menegaskan, arsip saat ini tidak lagi dipandang sekadar sebagai dokumen yang disimpan, melainkan telah menjadi sumber informasi strategis yang dapat mendukung pelayanan publik dan perumusan kebijakan.

“Di era digital, arsip bukan lagi sekadar tumpukan dokumen. Arsip harus menjadi sumber data dan referensi yang dapat mendukung pelayanan publik, keterbukaan informasi, hingga perumusan kebijakan yang tepat,” ujarnya.

Untuk memperkuat tata kelola kearsipan, Pemprov Jawa Timur terus melakukan berbagai langkah strategis, mulai dari digitalisasi arsip melalui aplikasi Sistem Informasi Kearsipan Dinamis Terintegrasi (SRIKANDI) dan Tata Naskah Dinas Elektronik (TNDE), hingga peningkatan kapasitas sumber daya manusia di bidang kearsipan.

Upaya tersebut turut mengantarkan Jawa Timur kembali mempertahankan predikat AA, yang merupakan nilai tertinggi dalam pengawasan kearsipan nasional oleh ANRI.

Khofifah menilai, konsistensi mempertahankan predikat tertinggi menjadi bukti bahwa pengelolaan arsip di Jawa Timur dijalankan secara serius, profesional, dan berkelanjutan.

“Mempertahankan predikat terbaik tingkat nasional selama bertahun-tahun tentu bukan hal mudah. Ini lahir dari komitmen bersama, penguatan SDM kearsipan, serta inovasi yang terus dijaga secara konsisten,” ungkapnya.

Selain penghargaan di bidang tata kelola kearsipan, Jawa Timur juga memperoleh pengakuan atas upaya pelestarian sejarah melalui Anugerah Memori Kolektif Bangsa.

Penghargaan tersebut diberikan atas keberhasilan pengusulan dan penyelamatan khazanah arsip Majelis Agung Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) periode 1931–1995 yang dilakukan melalui kolaborasi antara Pemprov Jawa Timur dan GKJW.

Khofifah menjelaskan, arsip tersebut memiliki nilai sejarah yang penting karena merekam perjalanan kehidupan keagamaan sekaligus dinamika sosial masyarakat Jawa Timur sejak masa kolonial hingga era pembangunan nasional.

Menurutnya, arsip GKJW juga menjadi bagian dari jejak toleransi, akulturasi budaya, serta kontribusi masyarakat dalam bidang pendidikan, kesehatan, dan gerakan sosial.

“Arsip GKJW menjadi bagian penting dari jejak toleransi, akulturasi budaya, serta kontribusi masyarakat dalam bidang pendidikan, kesehatan, dan pergerakan sosial,” tuturnya.

Khofifah berharap berbagai penghargaan yang diraih Jawa Timur menjadi momentum untuk terus memperkuat transformasi kearsipan sejalan dengan tema Hari Kearsipan Nasional tahun ini, yakni Empowering the Future: Kearsipan untuk Memberdayakan Masa Depan Menuju Indonesia Emas 2045.

“Penghargaan ini bukan akhir, melainkan pengingat bahwa kerja besar menjaga memori dan sejarah bangsa harus terus dilakukan bersama-sama. Dari arsip yang terjaga dengan baik, fondasi menuju Indonesia Emas 2045 dibangun,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *