OPINI | KLIKTIMES.ID – Program Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) merupakan salah satu tahapan penting dalam proses pendidikan calon guru. Melalui kegiatan ini, mahasiswa diberi kesempatan untuk mengimplementasikan berbagai teori pedagogik yang telah dipelajari selama perkuliahan ke dalam praktik pembelajaran nyata di sekolah. Selain menjalankan praktik mengajar, mahasiswa juga diwajibkan menyusun laporan akhir sebagai bentuk refleksi akademik terhadap pengalaman pembelajaran di lapangan.
Di Universitas PGRI Sumenep, pelaksanaan PPL berada di bawah koordinasi Unit Praktik Pengalaman Lapangan. Sebagai unit pelaksana, UPPL memiliki tanggung jawab penting dalam mengelola berbagai aspek kegiatan PPL, mulai dari penempatan mahasiswa di sekolah mitra hingga pengaturan administrasi akademik yang menyertai program tersebut.
Namun demikian, dalam praktik administrasinya muncul kebijakan yang memunculkan kritik dari kalangan mahasiswa, khususnya terkait mekanisme pengumpulan laporan akhir PPL. Mahasiswa diwajibkan menyerahkan laporan dalam dua bentuk sekaligus, yakni hard copy dan soft copy yang disimpan dalam flashdisk. Dalam perspektif dokumentasi, kebijakan ini mungkin dimaksudkan untuk menjaga keamanan arsip laporan mahasiswa. Akan tetapi, jika dilihat dalam konteks perkembangan teknologi informasi pada tahun 2026, mekanisme tersebut terasa kurang relevan dan bahkan terkesan jadul serta kolot.
Transformasi digital telah mengubah cara dunia akademik mengelola dokumen. Saat ini, berbagai perguruan tinggi telah memanfaatkan sistem cloud storage sebagai sarana penyimpanan dan distribusi dokumen akademik. Dengan platform seperti Google Drive atau sistem penyimpanan daring lainnya, laporan dapat dikumpulkan secara lebih efisien melalui tautan digital tanpa harus menggunakan perangkat penyimpanan fisik seperti flashdisk.
Persoalan ini menjadi semakin menarik ketika dikaitkan dengan jumlah kelompok PPL yang ada. Berdasarkan Surat Edaran Nomor: 005/SUM/B.2/UPPL/UPI-PGRI/I/2026 tentang Pemetaan dan Penempatan Kelompok Praktik Pengalaman Lapangan (PPL), tercatat bahwa pelaksanaan PPL tahun ini terdiri dari 66 kelompok mahasiswa. Artinya, dengan kebijakan pengumpulan soft copy menggunakan flashdisk, secara otomatis akan terkumpul 66 flashdisk hanya untuk menyimpan file laporan yang sebenarnya dapat dihimpun dalam satu folder digital bersama.
Situasi ini memunculkan ironi administratif yang cukup mencolok. Pengumpulan laporan akademik yang seharusnya dapat dilakukan secara sederhana melalui sistem digital justru berubah menjadi akumulasi perangkat penyimpanan fisik. Dalam nada kritik yang sedikit satir, kondisi tersebut bahkan dapat menimbulkan kesan seolah proses pengumpulan laporan lebih menyerupai “ladang pengumpulan flashdisk” daripada mekanisme administrasi akademik yang efisien dan modern.
Fenomena ini juga memperlihatkan adanya ketidaksinkronan antara semangat inovasi pendidikan dengan praktik birokrasi akademik yang masih mempertahankan metode lama. Perguruan tinggi sering mendorong mahasiswa untuk berpikir kreatif, adaptif terhadap teknologi, serta mampu memanfaatkan media digital dalam proses pembelajaran. Namun di sisi lain, ketika mekanisme administrasi akademiknya masih menggunakan pendekatan yang terasa konvensional, jadul, dan kurang progresif, maka muncul kesan bahwa transformasi digital belum sepenuhnya terinternalisasi dalam tata kelola institusi.
Selain persoalan efisiensi, penggunaan flashdisk dalam jumlah besar juga kurang sejalan dengan prinsip keberlanjutan lingkungan. Media penyimpanan fisik memiliki keterbatasan usia pakai dan berpotensi menjadi limbah elektronik di masa depan. Sebaliknya, sistem penyimpanan berbasis cloud justru lebih mendukung praktik administrasi yang efisien, ramah lingkungan, serta memudahkan pengelolaan arsip digital dalam jangka panjang.
Dalam kerangka akademik, yang seharusnya menjadi fokus utama dalam laporan PPL adalah substansi ilmiahnya, yakni kualitas refleksi mahasiswa terhadap praktik pembelajaran di sekolah, analisis terhadap dinamika pendidikan di lapangan, serta kontribusi pemikiran terhadap pengembangan proses pembelajaran. Ketika perhatian mahasiswa justru tersita oleh mekanisme administratif yang kurang relevan secara teknologi, maka esensi ilmiah dari laporan tersebut berpotensi tereduksi.
Oleh karena itu, kritik terhadap mekanisme ini seharusnya dipahami sebagai bagian dari refleksi konstruktif terhadap sistem pengelolaan PPL. Sebagai unit yang bertanggung jawab terhadap pelaksanaan program tersebut, Unit Praktik Pengalaman Lapangan memiliki peluang untuk melakukan inovasi dalam sistem administrasi yang lebih adaptif terhadap perkembangan teknologi. Pengumpulan laporan melalui tautan digital atau repository daring bukan hanya lebih efisien, tetapi juga mencerminkan komitmen institusi dalam membangun ekosistem kampus yang modern dan progresif.
Pada akhirnya, di tengah perkembangan teknologi yang begitu pesat, mempertahankan mekanisme pengumpulan puluhan flashdisk untuk satu kegiatan akademik terasa seperti kebijakan administratif yang masih terpaku pada cara lama—jadul, kolot, dan kurang selaras dengan semangat era cloud yang serba digital. Perguruan tinggi seharusnya tidak hanya mengajarkan mahasiswa untuk berpikir maju, tetapi juga menunjukkan praktik kelembagaan yang benar-benar mengikuti perkembangan zaman.
*) Oleh : SUBAYDI Mahasiswa Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas PGRI Sumenep.












