SUMENEP, KLIKTIMES.ID – Kelompok Posko 12 Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Annuqayah (UA) Sumenep menggelar penyuluhan lingkungan bertema “Pengembangan Ekonomi Sirkular dalam Pengelolaan Lingkungan Hidup” di Pondok Pesantren (PP) Raudlatul Amal, Desa Gadu Timur, Kecamatan Ganding, Kabupaten Sumenep, Selasa (8/9/2026).
Kegiatan tersebut menghadirkan Imranto, S.Si., dari Dinas Lingkungan Hidup sebagai narasumber utama. Penyuluhan ini menjadi ruang edukasi bagi peserta untuk memahami pentingnya pengelolaan lingkungan yang tidak hanya berorientasi pada pengurangan pencemaran, tetapi juga mampu menciptakan nilai ekonomi dari berbagai material yang selama ini dianggap sebagai limbah.
Sekitar 43 peserta yang terdiri dari siswa SMP Islam (SMPI) dan Madrasah Aliyah (MA) Raudlatul Amal serta para guru mengikuti kegiatan tersebut. Peserta terlihat antusias menyimak materi dan aktif mengikuti sesi diskusi.
Dalam pemaparannya, Imranto menjelaskan bahwa ekonomi sirkular merupakan pendekatan pengelolaan sumber daya secara efisien dan berkelanjutan.
Menurutnya, konsep tersebut berbeda dengan pola ekonomi linear yang menggunakan sumber daya, menghasilkan produk, kemudian membuang sisa yang tidak digunakan. Dalam ekonomi sirkular, nilai barang atau material dipertahankan selama mungkin melalui berbagai upaya seperti mengurangi penggunaan, memakai kembali, memperbaiki, memanfaatkan, hingga mendaur ulang.
“Ekonomi sirkular tidak hanya berbicara tentang sampah, tetapi bagaimana kita mempertahankan nilai suatu barang agar tetap bermanfaat selama mungkin,” jelasnya.
Konsep tersebut dinilai semakin relevan di tengah persoalan sampah dan tekanan terhadap sumber daya alam yang terus meningkat. Karena itu, pengelolaan lingkungan perlu menjadi bagian dari upaya membangun kehidupan masyarakat yang lebih berkelanjutan.
Antusiasme peserta semakin terlihat saat sesi diskusi. Sejumlah pertanyaan disampaikan terkait pengelolaan sampah di lingkungan sekitar, pemanfaatan teknologi tepat guna, hingga strategi meningkatkan kesadaran masyarakat agar lebih peduli terhadap lingkungan.
Pengasuh PP Raudlatul Amal, K. Abdul Wahed Ghufron, turut mengajukan pertanyaan kepada pemateri mengenai strategi membangun kesadaran masyarakat dalam menjaga dan mengelola lingkungan hidup.
Ia menyoroti pentingnya pendidikan dan keteladanan dalam mendorong perubahan perilaku masyarakat, khususnya terkait pengelolaan sampah dan penerapan prinsip ekonomi sirkular.
Diskusi kemudian berkembang pada pentingnya menanamkan kesadaran lingkungan sejak dini melalui lembaga pendidikan dan pesantren. Dengan demikian, kepedulian terhadap lingkungan tidak berhenti pada pemahaman teori, tetapi dapat diwujudkan melalui kebiasaan dan tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Kegiatan tersebut juga menunjukkan besarnya potensi pesantren sebagai ruang untuk mengembangkan kesadaran ekologis sekaligus mengenalkan praktik ekonomi sirkular.
Pengelolaan sampah, pemanfaatan kembali barang yang masih bernilai, serta penggunaan teknologi sederhana sesuai kebutuhan masyarakat dapat menjadi langkah awal dalam membangun budaya pengelolaan lingkungan yang lebih bertanggung jawab.
Jika dilakukan secara konsisten dan berkelanjutan, penerapan prinsip ekonomi sirkular tidak hanya membantu mengurangi beban lingkungan, tetapi juga berpotensi melahirkan kegiatan produktif yang memiliki nilai ekonomi bagi masyarakat.
Melalui kegiatan ini, PP Raudlatul Amal diharapkan dapat terus menjadi bagian dari gerakan pendidikan lingkungan yang mendorong lahirnya generasi muda dengan pengetahuan, kepedulian, dan tanggung jawab ekologis.
Sinergi antara pesantren, lembaga pendidikan, masyarakat, mahasiswa KKN, dan Dinas Lingkungan Hidup dinilai menjadi modal penting dalam membangun pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan.
Ekonomi sirkular pada akhirnya bukan sekadar konsep mengenai cara mengelola sampah, tetapi juga cara pandang bahwa sesuatu yang dianggap tidak berguna masih dapat memiliki nilai apabila dikelola secara tepat.
















