Opini

Menjaga Kehormatan Kemerdekaan: Refleksi Etika dan Nilai Keagamaan dalam Peringatan Agustusan

1111
×

Menjaga Kehormatan Kemerdekaan: Refleksi Etika dan Nilai Keagamaan dalam Peringatan Agustusan

Sebarkan artikel ini
Fathorrahman, Mustahiq Ma’had Aly Al-Karimiyah, Prodi Tafsir wa Ulumuhu, Awardee LPPD Jatim 2020 (STITA) & 2025 (Universitas Annuqayah). Foto/Ist.

SECARA esensial, kemerdekaan dan persatuan adalah dua nikmat terbesar yang dilimpahkan Allah SWT kepada bangsa Indonesia. Kemerdekaan melahirkan ruang aman yang menjadi fondasi utama bagi seluruh aspek kehidupan, mulai dari keberlangsungan ibadah yang tenang, stabilitas ekonomi, hingga keharmonisan keluarga.

Kondisi ini berbanding terbalik dengan realitas memprihatinkan yang dialami saudara-saudara kita di wilayah konflik seperti Palestina, di mana ketiadaan rasa aman mengancam kebebasan beribadah dan pemenuhan kebutuhan hidup dasar.

Begitu krusialnya nilai sebuah keamanan, hingga Nabi Ibrahim AS menempatkan permohonan rasa aman sebagai prioritas utama dalam doanya, sebelum memohon pemeliharaan iman dan kelimpahan rezeki. Hal ini terekam jelas dalam Al-Qur’an:

Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berdoa, ‘Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini (Makkah) negeri yang aman dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku dari penyembahan terhadap berhala-berhala.’” (QS. Ibrahim [14]: 35).

Pesan senada termaktub dalam QS. Al-Baqarah [2]: 126, di mana keamanan ditempatkan sebagai salah satu prasyarat bagi kesejahteraan ekonomi suatu bangsa.

Di sisi lain, nikmat persatuan menjadi pilar penyokong integrasi nasional. Allah SWT secara tegas melarang perpecahan dan memerintahkan umat untuk berpegang teguh pada nilai-nilai keilahian (QS. Ali ‘Imran [3]: 103).

Persatuan bukan sekadar kondisi sosiologis, melainkan karunia yang menyelamatkan masyarakat dari jurang kehancuran.

Makna Hakiki Peringatan Kemerdekaan

Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia sejatinya merupakan manifestasi rasa syukur atas nikmat keamanan dan persatuan tersebut.

Dalam doktrin Islam, wujud syukur kepada Tuhan tidak dapat dipisahkan dari sikap penghormatan dan penghargaan terhadap jasa sesama manusia. Rasulullah SAW bersabda:

Tidak dianggap bersyukur kepada Allah orang yang tidak menghargai dan berterima kasih atas jasa manusia.” (HR. Abu Dawud). 

Atas dasar itu, para pahlawan dan syuhada yang telah mengorbankan harta serta nyawa demi memerdekakan bangsa ini patut mendapat tempat terhormat melalui doa dan penghormatan moral.

Fenomena Desakralisasi dan Tantangan Moral

Sayangnya, dalam realitas di lapangan, perayaan Peringatan Hari Besar Nasional (PHBN) kerap mengalami pergeseran nilai. Kegiatan hiburan masyarakat yang diselenggarakan sering kali justru diwarnai oleh tindakan yang bertentangan dengan norma etika dan keagamaan.

Beberapa hal krusial yang perlu menjadi perhatian bersama meliputi:

1. Menodai Nilai Perjuangan Syuhada

Menyisipkan hiburan berbau kemaksiatan, seperti pertunjukan erotis dan tarian yang mengeksploitasi sensualisme, termasuk penggunaan kostum atau aksi yang bertentangan dengan norma kesopanan, dalam agenda “Agustusan” dapat dipandang sebagai bentuk pendangkalan terhadap nilai perjuangan para pahlawan.

2. Dampak Edukasi Negatif pada Generasi Muda

Mempertontonkan hiburan yang melanggar norma sosial dan agama di ruang publik berpotensi merekam pola perilaku destruktif dalam memori kolektif anak-anak. Jika dibiarkan, hal tersebut dapat memberikan pengaruh terhadap pembentukan karakter mereka di masa depan.

Rasulullah SAW juga telah memberikan peringatan moral mengenai degradasi etika dan kesopanan dalam ruang publik melalui hadis tentang ancaman bagi golongan yang mengabaikan nilai-nilai kesopanan dan syariat dalam berbusana serta berperilaku.

Ada dua golongan penduduk neraka yang keduanya belum pernah aku lihat (di masa Rasulullah). Wanita-wanita berpakaian, tetapi mirip bertelanjang (karena pakaian terlalu tipis, terlalu ketat atau sangat minim), berjalan dengan berlenggak-lenggok, mudah dirayu atau suka merayu, rambut mereka (disasak) bagaikan punuk unta. Wanita-wanita tersebut tidak dapat masuk surga, bahkan tidak dapat mencium bau surga, padahal bau surga bisa tercium dari begini dan begini.” (Shahih Muslim No. 3971).

Mengembalikan Ruh Perayaan Kemerdekaan

Perayaan kemerdekaan hendaknya dijadikan momentum untuk memperkuat nilai karakter bangsa, bukan panggung bagi tindakan yang mereduksi nilai-nilai luhur agama dan budaya.

Memelihara keadaban publik (public morality) dalam setiap perayaan kemerdekaan merupakan salah satu bentuk penghormatan nyata terhadap pengorbanan dan darah para pahlawan.

Mari kita menjaga diri, keluarga, dan lingkungan dari pengaruh perayaan yang destruktif. Semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan perlindungan, menjaga persatuan, serta membimbing bangsa Indonesia agar menjadi negeri yang senantiasa bersyukur, aman, damai, dan bermartabat.

*) Penulis: Fathorrahman, Mustahiq Ma’had Aly Al-Karimiyah, Prodi Tafsir wa Ulumuhu, Awardee LPPD Jatim 2020 (STITA) & 2025 (Universitas Annuqayah).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *