BeritaDaerahPendidikan

34 Santri IBS PKMKK Perdengarkan Hafalan 1-6 Juz Al-Qur’an

679
×

34 Santri IBS PKMKK Perdengarkan Hafalan 1-6 Juz Al-Qur’an

Sebarkan artikel ini
Direktur IBS PKMKK Prof. Dr. Achmad Muhlis, MA, foto bersama para santri usai kegiatan I’lan Tasmi’ al-Qur’an. Foto/Ist.

PAMEKASAN, KLIKTIMES.ID – Islamic Boarding School Padepokan Kyai Mudrikah Kembang Kuning (IBS PKMKK) kembali menggelar I’lan Tasmi’ al-Qur’an, sebagai agenda rutin setiap akhir bulan.

Kegiatan yang berlangsung pukul 19.00–21.00 WIB tersebut diikuti 34 santri tingkat MTs dan MA Kyai Mudrikah Kembang Kuning. Para santri memperdengarkan hafalan Al-Qur’an dengan capaian antara 1 hingga 6 juz.

Selain itu, sebanyak sembilan santri mengikuti Munaqasah Tajwid Marhalah Ula dan Marhalah Tsaniyah sebagai bagian dari penguatan kemampuan membaca Al-Qur’an secara benar, tertib, dan bertanggung jawab.

Direktur Utama IBS PKMKK, Prof. Dr. Achmad Muhlis, MA, mengatakan I’lan Tasmi’ al-Qur’an tidak semata-mata menjadi kegiatan untuk mengukur kemampuan hafalan santri. Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi bagian dari proses pendidikan untuk membentuk karakter dan kepribadian.

Menurutnya, hafalan Al-Qur’an harus ditempatkan sebagai proses yang menyatukan kemampuan intelektual dan spiritual. Santri tidak cukup hanya mampu mengingat dan melafalkan ayat, tetapi juga perlu memahami bahwa hafalan tersebut membawa tanggung jawab moral.

“Al-Qur’an tidak cukup berhenti pada hafalan, tetapi harus bertransformasi menjadi cara berpikir, cara berbicara, dan cara berperilaku yang berlandaskan nilai-nilai Al-Qur’an,” kata Prof. Achmad Muhlis.

Ia menilai setiap ayat yang berhasil dihafalkan santri merupakan amanah yang harus dijaga. Karena itu, proses menghafal membutuhkan ketekunan, konsistensi, kedisiplinan, sekaligus kesungguhan dalam mengamalkannya.

“Setiap ayat yang dihafal merupakan amanah moral yang semestinya menghadirkan perubahan dalam diri,” ujarnya.

Prof Achmad Muhlis menegaskan, keberhasilan pendidikan Al-Qur’an tidak hanya dapat dilihat dari bertambahnya jumlah hafalan. Menurutnya, nilai yang lebih penting adalah bagaimana ayat-ayat yang dihafalkan tersebut kemudian tercermin dalam kehidupan sehari-hari.

“Al-Qur’an tidak hanya tersimpan dalam ingatan, tetapi juga harus tercermin dalam akhlak dan kehidupan sehari-hari,” tuturnya.

Karena itu, ia mengapresiasi para santri MTs dan MA yang telah mengikuti I’lan Tasmi’ al-Qur’an. Menurutnya, keberanian memperdengarkan hafalan di hadapan pembimbing maupun lingkungan akademik merupakan bagian dari proses pembentukan tanggung jawab dan kepercayaan diri santri.

Ia juga mengapresiasi para pembimbing yang secara konsisten mendampingi santri dalam menjaga dan meningkatkan hafalan Al-Qur’an.

Program I’lan Tasmi’ al-Qur’an sendiri merupakan implementasi salah satu pilar pendidikan IBS PKMKK, yakni One Day One Ayat, di bawah bimbingan Ny. Hj. Nurul Umayah dan Ustaz Abdul Qadir Maliki, M.Ag.

“Tradisi seperti ini perlu dijaga kesinambungannya. Harapannya, dari waktu ke waktu semakin banyak santri yang mampu meningkatkan kualitas dan kuantitas hafalannya,” kata Prof Achmad Muhlis.

Ekosistem pembelajaran Al-Qur’an di IBS PKMKK juga diperkuat melalui Munaqasah Tajwid yang dilaksanakan setiap bulan untuk Marhalah Ula, Tsaniyah, dan Tsalisah.Program tersebut merupakan implementasi pilar One Week One Theme di bawah bimbingan KH Dr. Mohammad Holis, M.Si.

Selain itu, terdapat Munaqasah Kitab Kuning dengan Metode Al-Fatih yang dilaksanakan setiap dua bulan untuk kitab Safinatun Najah dan Fathol Qarib. Program tersebut merupakan implementasi pilar One Week Three Fashal dengan bimbingan KH Dr. Moch. Cholid Wardi, M.H.I.

Menurut Prof Achmad Muhlis, rangkaian program tersebut menjadi bagian dari upaya membangun kultur pendidikan yang tidak memisahkan hafalan dari pemahaman dan pembentukan karakter.

“Pembelajaran Al-Qur’an harus menghubungkan hafalan, pemahaman, keberanian, kedisiplinan, dan akhlak,” jelasnya.

Tradisi akademik-keagamaan tersebut juga diperkuat melalui program One Hadith One Presentation. Dalam kegiatan yang dilaksanakan setiap satu atau dua minggu, santri mempresentasikan lima hadis yang telah dipelajari, terutama saat momentum kunjungan orang tua dan santri.

Program tersebut dibimbing Ny. Hj. Wiqayah Hilmi, S.S. Selain memperkuat pemahaman hadis, kegiatan itu menjadi ruang bagi santri untuk melatih keberanian berkomunikasi dan tanggung jawab intelektual di hadapan orang tua maupun lingkungan akademiknya.

Prof Achmad Muhlis berharap seluruh rangkaian kegiatan tersebut terus berkembang dan menjadi tradisi yang melekat dalam kehidupan pendidikan di IBS PKMKK.

Ia menekankan bahwa tujuan akhirnya bukan sekadar melahirkan santri yang memiliki hafalan banyak, melainkan santri yang mampu menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman dalam bersikap dan menjalani kehidupan.

“Ukuran kemuliaan seorang penghafal Al-Qur’an tidak berhenti pada banyaknya ayat yang tersimpan dalam ingatan, tetapi pada sejauh mana ayat-ayat itu membentuk cara ia memandang, berbicara, bersikap, dan menjalani kehidupan,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *