BeritaDaerah

SMSI Sumenep Bekali Guru Melek Media dan AI, Waspadai Informasi Palsu di Era Digital

259
×

SMSI Sumenep Bekali Guru Melek Media dan AI, Waspadai Informasi Palsu di Era Digital

Sebarkan artikel ini
SMSI Sumenep menggelar Sekolah Melek Media bagi guru SDN se-Gugus 02 Kalianget di SDN Kalimook II, Sabtu (26/9/2026). Foto/Ist.

SUMENEP, KLIKTIMES.ID – Derasnya arus informasi digital membuat kemampuan memilah dan memverifikasi informasi semakin penting, terutama di lingkungan pendidikan. Menjawab tantangan tersebut, Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Kabupaten Sumenep menggelar Sekolah Melek Media bagi para guru SDN se-Gugus 02 Kalianget, Sabtu (26/9/2026).

Kegiatan yang berlangsung di SDN Kalimook II, Kecamatan Kalianget, tersebut tidak hanya membahas dasar-dasar jurnalistik, tetapi juga literasi media dan pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).

Mengusung tema “Menggali Lokalitas dan Pemanfaatan AI bagi Guru se-Kecamatan Kalianget”, kegiatan diikuti dua utusan dari setiap SDN yang tergabung dalam Gugus 02 Kalianget.

Dua jurnalis sekaligus pemimpin redaksi media siber menjadi pemateri, yakni Moh. Sumardono alias Mazdon, Pemimpin Redaksi dimadura.id, dan Prengky Wirananda, Pemimpin Redaksi Klikmadura.com.

Ketua SMSI Kabupaten Sumenep Wahyudi mengatakan, sekolah memiliki posisi strategis dalam membangun budaya literasi informasi. Sebab, guru berhadapan langsung dengan generasi yang setiap hari bersentuhan dengan media sosial.

“Sekolah harus bisa melek informasi. Kita harus bisa membedakan informasi yang berasal dari media mainstream atau media arus utama dengan informasi yang beredar di media sosial,” tegas Wahyudi.

Menurutnya, kecepatan informasi beredar di media sosial tidak selalu berbanding lurus dengan kebenarannya. Karena itu, masyarakat perlu membiasakan diri memeriksa sumber, memahami konteks, dan melakukan verifikasi sebelum mempercayai maupun menyebarkan sebuah informasi.

Kemampuan membedakan produk jurnalistik dengan unggahan media sosial juga dinilai penting agar guru dapat menjadi bagian dari mata rantai literasi informasi bagi siswa.

Dalam sesi jurnalistik, Mazdon mengajak para guru mengenal proses kerja jurnalistik dari dasar, mulai menentukan angle, menyusun lead, membuat headline, hingga memahami struktur berita.

Dia juga memaparkan berbagai produk jurnalistik, di antaranya hard news, straight news, feature, berita analisis, investigatif, berita foto, hingga berita video.

Menurutnya, setiap jenis berita memiliki karakter dan pendekatan berbeda. Karena itu, wartawan dituntut mampu menentukan sudut pandang yang tepat dengan tetap berpegang pada fakta dan kepentingan publik.

Mazdon juga membagikan pengalaman selama menjalani profesi wartawan. Dia mengaku pernah berada pada titik ingin meninggalkan dunia jurnalistik lantaran ulah oknum yang mencoreng nama baik profesi tersebut.

“Sempat mau berhenti jadi wartawan, karena nama baik profesi wartawan di masyarakat ikut tercoreng dengan perbuatan oknum yang melakukan pemerasan ke sejumlah lembaga dengan mengatasnamakan wartawan atau dari media,” katanya.

Namun, nasihat seorang guru membuatnya kembali menekuni profesi tersebut. Mazdon kemudian menegaskan bahwa pekerjaan jurnalistik harus dijalankan dengan berpegang pada fakta, etika, dan kepentingan masyarakat.

Sementara itu, Prengky Wirananda menyampaikan materi “Melek Media”. Dia mengajak para guru memahami karakter media sekaligus mengenali praktik yang dapat merusak kepercayaan publik terhadap profesi wartawan.

Prengky secara khusus mengingatkan para guru agar tidak memberikan uang kepada oknum yang mengaku wartawan dan menggunakan profesinya untuk menekan atau menakut-nakuti narasumber.

“Jika ada oknum yang mengatasnamakan wartawan, bentak-bentak seperti penyidik, lalu ujung-ujungnya minta duit, mohon agar tidak dikasi. Karena itu akan menular kepada teman-teman mereka yang lain,” ujarnya.

Menurutnya, kegiatan tersebut juga menjadi ruang untuk meluruskan pemahaman masyarakat mengenai kerja pers.

“Visi misi kami hadir bersama para guru di sini, selain untuk berbagi wawasan terkait literasi dan jurnalisme, adalah untuk meluruskan isu-isu miring itu, bahwa wartawan tidak demikian. Kita datang menemui narasumber tidak lain semata untuk melakukan wawancara atau konfirmasi, tidak lebih dari itu,” katanya.

Prengky juga menjelaskan tugas pers, kode etik jurnalistik, serta pentingnya menjaga sopan santun ketika melakukan peliputan dan wawancara.

Pengawas Sekolah Wilayah Kerja Kalianget, H. Abd. Aziz, M.Pd., mendorong para peserta mengikuti pelatihan dengan serius. Menurutnya, guru tidak seharusnya hanya menjadi konsumen informasi, tetapi juga dapat berperan sebagai produsen informasi yang positif dan edukatif.

“Ikuti kegiatan ini dengan baik. Guru bisa belajar menulis dan membuat informasi dari para jurnalis,” ujarnya.

Dia menilai kemampuan menulis dapat menjadi bekal bagi guru untuk mendokumentasikan berbagai aktivitas dan prestasi sekolah sekaligus memperkuat budaya literasi di lingkungan pendidikan.

Ketua Gugus 02 Kalianget A. Yudhi turut hadir bersama para peserta dari sejumlah SDN di wilayah Gugus Kalianget.

Kegiatan yang berlangsung di ruang kelas SDN Kalimook II tersebut berjalan lancar. Para peserta mendapatkan materi mengenai dasar jurnalistik, literasi media, kode etik pers, hingga pemanfaatan AI dalam mendukung aktivitas guru di tengah perkembangan teknologi digital.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *