BeritaDaerahNasional

Kementan dan TNI Percepat Cetak 7.000 Hektare Sawah Baru di OKI, Swasembada Pangan Digenjot

882
×

Kementan dan TNI Percepat Cetak 7.000 Hektare Sawah Baru di OKI, Swasembada Pangan Digenjot

Sebarkan artikel ini

OGAN KOMERING ILIR, KLIKTIMES.ID – Kementerian Pertanian (Kementan) bersama TNI mempercepat program cetak sawah baru seluas 7.000 hektare di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan. Program strategis nasional tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah meningkatkan produksi pangan sekaligus memperkuat target swasembada pangan.

Percepatan pekerjaan di lapangan menunjukkan hasil yang menggembirakan. Dalam waktu sekitar 20 hari sejak dimulai pada awal Juli 2026, lebih dari 130 hektare lahan berhasil dibuka di salah satu kawasan prioritas pengembangan sawah baru nasional.

Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa program cetak sawah bukan sekadar membuka lahan baru, tetapi merupakan investasi jangka panjang untuk memperkuat ketahanan pangan Indonesia di tengah tantangan perubahan iklim dan meningkatnya kebutuhan pangan.

“Kita harus menambah luas tanam dan meningkatkan produktivitas. Itu kunci menuju swasembada pangan,” tegas Amran.

Sebagai bentuk pengawalan program, Kementan melalui Direktorat Jenderal Lahan dan Irigasi Pertanian (LIP) bersama Inspektorat Jenderal melakukan supervisi dan monitoring langsung di lokasi proyek cetak sawah di Desa Tanjung Baru, Kabupaten OKI, Sumatera Selatan, Selasa (21/7/2026).

Direktur Jenderal Lahan dan Irigasi Pertanian, Hermanto, menjelaskan Sumatera Selatan mendapat target perluasan sawah baru seluas 13.000 hektare. Dari jumlah tersebut, sebanyak 7.000 hektare berada di Kabupaten OKI.

Sementara itu, di Desa Tanjung Baru, lahan yang tengah dikerjakan mencapai 230 hektare dengan tahapan pekerjaan meliputi land clearing, land leveling, hingga pengolahan tanah siap tanam.

“Kegiatan konstruksi dimulai awal Juli dengan target penyelesaian selama 90 hari. Namun dalam waktu sekitar 20 hari, lebih dari 130 hektare lahan telah berhasil dibuka dan sekitar 30 hektare sudah memasuki tahap pengolahan tanah. Progres ini sesuai dengan harapan,” ujar Hermanto.

Selain mengawal percepatan pembangunan fisik, Kementan juga memastikan seluruh proses administrasi berjalan transparan dan akuntabel.

Inspektur Jenderal Kementan, Letjen TNI (Purn) Irham Waroihan, mengatakan pelaksanaan program swakelola hingga kini berjalan sesuai ketentuan tanpa ditemukan penyimpangan administrasi.

“Semua berjalan sesuai jadwal dan secara administrasi tidak ada yang menyimpang. Kami mengapresiasi jajaran Kopassus yang sejak tahap persiapan langsung menurunkan alat berat dan bekerja cepat di lapangan,” katanya.

Sinergi antara Kementan dan TNI dinilai menjadi faktor penting dalam mempercepat pembukaan lahan, terutama di kawasan yang memiliki tantangan teknis cukup tinggi.

Mewakili pelaksana teknis, Kolonel TNI Damai Laksmono menjelaskan pihaknya memanfaatkan kondisi cuaca yang mendukung untuk mempercepat pengerjaan agar target penyelesaian dapat tercapai.

“Kami memaksimalkan momentum cuaca dengan segera mengerahkan alat berat. Bersamaan dengan itu, kami menyinkronkan pekerjaan bersama Brigade Pangan sehingga setelah lahan selesai diolah, pupuk dan benih sudah tersedia dan petani bisa langsung melakukan penanaman,” jelasnya.

Program tersebut juga mendapat dukungan penuh dari masyarakat setempat. Kepala Desa Tanjung Baru, Abu Bakar, berharap lahan yang selama ini terbengkalai dapat segera menjadi areal pertanian produktif yang mampu meningkatkan kesejahteraan warga.

“Atas nama masyarakat Desa Tanjung Baru kami mengucapkan terima kasih. Semoga lahan yang selama ini belum dimanfaatkan bisa menjadi sawah produktif dan membawa kesejahteraan bagi masyarakat,” ujarnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *