BeritaDaerahEkonomi

Investasi China di Bangkalan, Akademisi Dorong Hotel dan Kuliner Lokal Ikut Tumbuh

192
×

Investasi China di Bangkalan, Akademisi Dorong Hotel dan Kuliner Lokal Ikut Tumbuh

Sebarkan artikel ini
Akademisi asal Sumenep sekaligus Dosen Pariwisata Universitas Terbuka (UT) Surabaya, Sucipto. Foto/Ist.

SURABAYA, KLIKTIMES.ID – Rencana sejumlah pabrik asal China merelokasi kegiatan industrinya ke Kawasan Industri Wiraraja Madura di Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur, dinilai bakal membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat Madura.

Akademisi asal Sumenep sekaligus Dosen Pariwisata Universitas Terbuka (UT) Surabaya, Sucipto, menilai dampak investasi tersebut tidak hanya akan dirasakan sektor industri. Sektor perhotelan dan kuliner lokal juga dinilai berpeluang ikut tumbuh.

Rencana relokasi pabrik tersebut merupakan bagian dari kerja sama antara Wiraraja Madura Industrial Estate dan Guangdong Fenyong ASEAN Industrial Park melalui skema Two Countries Twin Parks (TCTP) Indonesia-China.

Sucipto menyambut positif rencana investasi tersebut. Menurutnya, masuknya investasi China ke Madura berpotensi menciptakan efek berganda (multiplier effect) bagi perekonomian daerah.

Namun, ia mengingatkan agar masyarakat lokal tidak hanya menjadi penonton. Salah satu hal yang harus dikawal adalah penyerapan tenaga kerja lokal.

“Adanya investasi, apalagi dari China terhadap pembangunan di Madura, pasti akan ada dampak atau multiplier effect-nya sangat besar,” kata Sucipto, Senin (6/10/2026).

Menurutnya, pemerintah dan pemangku kepentingan perlu menyiapkan masyarakat agar memiliki kompetensi sesuai kebutuhan industri.

“Yang perlu dikawal nanti adalah serapan tenaga kerja dari masyarakat lokal. Sehingga masyarakat langsung bisa mendapatkan dampak dari keberadaan industri tersebut,” ujarnya.

Ia menilai peningkatan kualitas sumber daya manusia harus dilakukan sejak awal. Dengan begitu, kebutuhan tenaga kerja industri dapat dipenuhi masyarakat sekitar.

“Memang harus dibarengi dengan kompetensi yang harus dimiliki oleh masyarakat setempat, sehingga kompetensi itu benar-benar mendukung keberadaan industri tersebut,” jelasnya.

Sucipto juga meminta pemerintah melibatkan masyarakat dan tokoh-tokoh setempat sejak tahap awal. Menurutnya, komunikasi antara pemerintah, investor, masyarakat, dan pemangku kepentingan penting untuk menyamakan pemahaman sekaligus mencegah potensi konflik.

“Harus duduk bersama semua stakeholder, termasuk masyarakat melalui tokoh-tokoh sentral di masyarakat, sehingga semuanya memiliki pemahaman yang sama,” katanya.

Ia berharap industrialisasi di Bangkalan benar-benar berdampak terhadap peningkatan ekonomi masyarakat sekitar.

“Jangan sampai nanti ada konflik, apalagi itu yang tidak kita harapkan. Investasi dalam bentuk industri di Bangkalan harus memang untuk meningkatkan perekonomian, khususnya masyarakat sekitar,” imbuhnya.

Menurut Sucipto, efek industrialisasi nantinya tidak hanya dirasakan perusahaan dan pekerja. Mobilitas tamu, pelaku usaha, lembaga, hingga mitra bisnis juga diperkirakan meningkat.

Karena itu, ia mendorong pemerintah daerah menyiapkan sektor pendukung, terutama perhotelan.

Sucipto menilai Bangkalan perlu memiliki hotel yang layak dan memadai agar tamu maupun pelaku kegiatan industri tidak harus bermalam di Surabaya.

“Hotel-hotel yang layak agar orang bisa tinggal lebih lama di Bangkalan. Jangan sampai keberadaan industri itu justru yang mendapatkan keuntungan adalah Surabaya,” ujarnya.

Ia mencontohkan sejumlah kegiatan lembaga yang digelar di Bangkalan, tetapi pesertanya memilih menginap di Surabaya. Kondisi tersebut, kata dia, merupakan leakage atau kebocoran ekonomi.

“Contohnya, sekarang banyak lembaga berkegiatan di Bangkalan, tetapi menginapnya di Surabaya. Dalam bisnis itu leakage, kebocoran, yang seharusnya bisa dinikmati Bangkalan,” jelasnya.

Menurutnya, semakin banyak tamu yang tinggal di Bangkalan, semakin besar pula peluang uang berputar di daerah tersebut. Karena itu, investasi perhotelan perlu dipersiapkan seiring dengan masuknya industri.

Selain hotel, sektor kuliner juga dinilai memiliki peluang besar.

Sucipto menyebut Bangkalan sejak lama memiliki potensi kuliner yang kuat. Potensi tersebut perlu dikembangkan agar mampu menjadi bagian dari rantai ekonomi baru yang tumbuh akibat industrialisasi.

“Yang kedua, sebelum ada industrialisasi, Bangkalan sudah terkenal dari sisi kuliner. Saya rasa kuliner-kuliner yang lain juga harus tumbuh dan ada penyeragaman agar tidak terjadi persaingan yang tidak sehat,” katanya.

Ia juga mengingatkan pelaku usaha kuliner untuk memperhatikan standar kebersihan dan higienitas. Hal itu dinilai penting, terutama bagi rumah makan yang menyajikan kuliner khas berbahan dasar bebek.

“Terutama perlu diatur tentang higienitas, kebersihan di setiap rumah makan, terutama yang berbasis bebek,” lanjutnya.

Sucipto menilai perhotelan dan kuliner merupakan dua sektor yang berpotensi besar ikut menikmati pertumbuhan ekonomi akibat industrialisasi Bangkalan.

Ia membandingkannya dengan Pamekasan dan Sumenep yang dinilai telah memiliki fasilitas perhotelan untuk mendukung berbagai kegiatan lembaga maupun masyarakat.

Menurutnya, ketersediaan akomodasi menjadi salah satu faktor penting agar kegiatan ekonomi tidak hanya berlangsung di suatu daerah, tetapi manfaatnya juga berputar di daerah tersebut.

Sucipto juga mencontohkan Kediri. Menurutnya, perkembangan investasi dan industri di daerah itu ikut mendorong tumbuhnya infrastruktur pendukung, termasuk Bandara Dhoho.

Karena itu, ia menilai rencana industrialisasi Bangkalan perlu dipersiapkan secara menyeluruh. Pemerintah daerah, investor, masyarakat, dan pelaku usaha lokal perlu duduk bersama agar manfaat investasi tidak berhenti pada kawasan industri.

“Ini peluang yang bagus untuk ditangkap. Tentu dengan kajian yang komprehensif oleh semua stakeholder, tetapi tetap peran utamanya adalah pemerintah daerah,” tegas Sucipto.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *