BeritaNasionalPendidikan

Institut Kapal Perempuan Dorong Penghapusan Kekerasan Berbasis Gender Lewat Pelatihan Transformatif

15
×

Institut Kapal Perempuan Dorong Penghapusan Kekerasan Berbasis Gender Lewat Pelatihan Transformatif

Sebarkan artikel ini
Peserta dan narasumber pelatihan transformatif Institut Kapal Perempuan berfoto bersama usai kegiatan di Hotel Aloft Wahid Hasyim, Jakarta. Foto/Kliktimes.

JAKARTA | KLIKTIMES.ID – Di tengah meningkatnya kasus kekerasan berbasis gender yang masih kerap dibarengi stigma dan praktik menyalahkan korban, Institut Kapal Perempuan memilih mengambil jalur berbeda. Bukan sekadar respons sesaat, melainkan mendorong perubahan cara pandang yang lebih mendasar.

Langkah itu diwujudkan melalui pelatihan transformatif yang digelar pada 6–10 April 2026 di Hotel Aloft Wahid Hasyim, Jakarta. Kegiatan ini menjadi ruang untuk membangun perspektif baru dalam menangani sekaligus mencegah kekerasan berbasis gender.

Direktur Institut Kapal Perempuan, Budhis Utami, menilai pendekatan selama ini masih cenderung reaktif dan belum menyentuh akar persoalan.

“Selama ini, penanganan kekerasan sering berhenti di permukaan. Fokusnya lebih banyak pada kasus, bukan pada perubahan sistem dan cara pandang. Ini yang membuat kekerasan terus berulang,” ujar Budhis.

Menurutnya, tanpa perubahan perspektif, upaya penghapusan kekerasan berbasis gender hanya akan menjadi siklus yang berulang tanpa solusi jangka panjang.

“Kalau cara pandangnya tidak berubah, maka pola penanganannya juga tidak akan berubah. Kita akan terus sibuk memadamkan api tanpa pernah mencegah sumber apinya,” tegasnya.

Pelatihan ini diikuti peserta dari berbagai latar belakang, mulai dari akademisi, jurnalis, hingga pekerja sosial. Dari ratusan pendaftar, hanya 35 orang yang terpilih untuk mengikuti program ini secara intensif.

Budhis menekankan bahwa pelatihan ini bukan sekadar transfer pengetahuan, tetapi juga ruang refleksi.

“Kami ingin peserta tidak hanya paham secara teori, tetapi juga mampu melihat ulang praktik yang selama ini dijalankan. Apakah sudah benar-benar berpihak pada korban atau justru tanpa sadar masih menyisakan bias,” katanya.

Didukung oleh Plan International dan European Union, pelatihan ini juga mengusung perspektif Gender Equality, Disability, and Social Inclusion (GEDSI). Pendekatan ini dinilai penting untuk memahami kompleksitas kekerasan, terutama terhadap kelompok rentan seperti penyandang disabilitas.

“Kekerasan itu tidak berdiri sendiri. Ada relasi kuasa, ada kerentanan, ada faktor sosial yang saling berkaitan. Itu yang harus dipahami secara utuh,” jelas Budhis.

Ia juga menyoroti satu aspek yang kerap terabaikan, yakni kondisi para pendamping korban. Menurutnya, banyak pendamping bekerja dalam tekanan emosional tinggi tanpa dukungan yang memadai.

“Pendamping sering dituntut kuat, tapi lupa bahwa mereka juga manusia. Kalau mereka tidak dalam kondisi baik, bagaimana bisa memberikan pendampingan yang aman dan berkelanjutan,” ujarnya.

Lebih jauh, Budhis melihat bahwa perubahan tidak bisa dilakukan secara individual, melainkan harus dibangun melalui kolaborasi.

“Yang kami bangun di sini adalah ruang yang setara. Tidak ada yang merasa paling tahu. Semua belajar, semua mendengar. Dari situ lahir perspektif baru yang lebih kuat,” katanya.

Ia berharap, para peserta yang telah mengikuti pelatihan ini dapat menjadi agen perubahan di daerah masing-masing.

“Kami tidak ingin ini berhenti sebagai kegiatan pelatihan. Harus ada dampak lanjutan. Peserta harus membawa cara pandang ini ke komunitasnya, ke institusinya, bahkan ke kebijakan,” tegas Budhis.

Menurutnya, penghapusan kekerasan berbasis gender tidak bisa lagi dilakukan secara sporadis. Diperlukan gerakan yang terhubung, sistematis, dan berkelanjutan.

“Kalau masih berjalan sendiri-sendiri, dampaknya akan terbatas. Tapi kalau terhubung, ini bisa menjadi kekuatan besar untuk mendorong perubahan,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *