BeritaDaerahEkonomi

Achsanul Qosasi Soroti Dana Bank Rp2.548 Triliun Belum Tersalurkan Usai Destry Jadi Gubernur BI

890
×

Achsanul Qosasi Soroti Dana Bank Rp2.548 Triliun Belum Tersalurkan Usai Destry Jadi Gubernur BI

Sebarkan artikel ini
Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga (FEB UNAIR), Achsanul Qosasi. Foto/Ist.

SUMENEP, KLIKTIMES.ID – Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga (FEB UNAIR), Achsanul Qosasi (AQ), menyoroti tantangan yang akan dihadapi Destry Damayanti setelah ditetapkan sebagai Gubernur Bank Indonesia (BI) periode 2026–2031.

Menurut AQ, kepemimpinan baru BI tidak cukup hanya berfokus pada menjaga stabilitas moneter. Bank sentral juga perlu memperkuat bauran kebijakan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi sekaligus menggerakkan sektor riil.

Pernyataan itu disampaikan AQ merespons keputusan DPR RI yang menyetujui Destry Damayanti sebagai Gubernur BI dalam Rapat Paripurna DPR RI yang dipimpin Ketua DPR RI Puan Maharani, Selasa (1/9/2026).

Selain Destry, DPR RI menetapkan Aida S. Budiman sebagai Deputi Gubernur Senior BI dan Solikin M. Juhro sebagai Deputi Gubernur. Ketiganya sebelumnya menjalani uji kelayakan dan kepatutan atau fit and proper test pada 26–27 Agustus 2026.

AQ menilai penetapan Destry bukan hanya menarik karena dia menjadi perempuan pertama yang memimpin bank sentral Indonesia. Menurutnya, ada sejumlah gagasan ekonomi yang disampaikan Destry yang penting untuk menjawab persoalan struktural perekonomian nasional.

“Menjaga stabilitas saja belum cukup. Bank sentral perlu memperkuat bauran kebijakan agar mampu mendukung pertumbuhan ekonomi berkelanjutan,” ujar AQ, mengutip salah satu gagasan utama yang disampaikan Destry saat menjalani uji kelayakan.

AQ kemudian menyoroti data dana perbankan yang belum tersalurkan. Dalam uji kelayakan tersebut, kata AQ, terungkap dana perbankan yang belum tersalurkan mencapai Rp2.548 triliun atau sekitar 21,8 persen dari total plafon kredit.

Menurut AQ, besarnya dana yang belum mengalir ke sektor produktif menunjukkan masih ada ruang besar untuk memperkuat fungsi intermediasi perbankan.

“Ini menjadi tantangan sekaligus peluang besar bagi Bank Indonesia,” katanya.

AQ menilai penguatan inklusi keuangan dan peningkatan penyaluran kredit, terutama kepada pelaku usaha kecil, dapat menjadi salah satu kunci untuk menggerakkan sektor riil.

Menurutnya, pertumbuhan ekonomi tidak cukup hanya ditopang stabilitas makroekonomi. Perputaran kredit ke sektor produktif juga diperlukan agar aktivitas usaha, investasi, dan konsumsi masyarakat ikut bergerak.

AQ menyebut optimalisasi dana perbankan yang selama ini belum tersalurkan, khususnya melalui penguatan akses pembiayaan bagi sektor usaha kecil, berpotensi menjadi game changer bagi perekonomian Indonesia.

Jika kebijakan tersebut berjalan efektif, kata AQ, dampaknya tidak hanya dirasakan industri perbankan, tetapi juga pelaku usaha dan masyarakat secara luas.

“Penguatan inklusi keuangan serta dorongan terhadap penyaluran kredit kecil akan menjadi game changer yang krusial untuk menggerakkan sektor riil,” ujarnya.

AQ menilai kebijakan tersebut juga relevan dengan target pemerintah mendorong pertumbuhan ekonomi nasional hingga mencapai 8 persen.

Karena itu, dia berharap kepemimpinan Destry di BI mampu menerjemahkan gagasan tersebut ke dalam bauran kebijakan yang tidak hanya menjaga stabilitas ekonomi, tetapi juga semakin kuat dalam mendorong pertumbuhan.

“Tantangan BI ke depan bukan sekadar menjaga ekonomi tetap stabil. Lebih dari itu, likuiditas dan sumber pembiayaan harus benar-benar mengalir ke sektor-sektor produktif yang dapat menciptakan aktivitas ekonomi baru,” tegasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *