Foto KlikTimes
BeritaDaerahPendidikan

24 Santri MTs Kyai Mudrikah Ikuti I’lan Al-Qur’an, Achmad Muhlis Tekankan Hafalan Harus Tercermin dalam Akhlak

704
×

24 Santri MTs Kyai Mudrikah Ikuti I’lan Al-Qur’an, Achmad Muhlis Tekankan Hafalan Harus Tercermin dalam Akhlak

Sebarkan artikel ini
24 santri MTs Kyai Mudrikah Kembang Kuning mengikuti I’lan al-Qur’an dan munaqasah tajwid tingkat lanjutan di halaman Gedung Utama IBS PKMKK. Foto/Ist.

PAMEKASAN, KLIKTIMES.ID – Sebanyak 24 santri MTs Kyai Mudrikah Kembang Kuning mengikuti I’lan al-Qur’an dengan capaian hafalan mulai dari satu hingga 12 juz. Dalam kegiatan yang sama, dua santri lainnya mengikuti munaqasah tajwid tingkat lanjutan untuk menguji kemampuan membaca Al-Qur’an sesuai kaidah tajwid.

Kegiatan tersebut berlangsung di halaman Gedung Utama Islamic Boarding School Padepokan Kyai Mudrikah Kembang Kuning (IBS PKMKK), Sabtu (31/10/2026), mulai pukul 19.00 hingga 22.00 WIB.

Direktur Utama IBS PKMKK, Prof. Dr. KH. Achmad Muhlis, M.A., mengatakan, kemampuan menghafal Al-Qur’an tidak cukup menjadi tolok ukur keberhasilan seorang santri. Menurut dia, hafalan harus diikuti pemahaman dan pengamalan nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.

Guru Besar UIN Madura tersebut menegaskan, hafalan Al-Qur’an merupakan amanah spiritual yang harus tercermin dalam kepribadian, pola pikir, dan perilaku penghafalnya.

“Hafalan Al-Qur’an merupakan kemuliaan, tetapi sekaligus amanah besar. Jangan sampai Al-Qur’an hanya tersimpan kuat dalam ingatan, sementara nilai-nilai yang dikandungnya tidak tercermin dalam sikap dan perilaku kita,” tegas Achmad Muhlis.

Ia menjelaskan, penghafal Al-Qur’an memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga kehormatan kitab suci melalui sikap jujur, disiplin, rendah hati, penuh kasih sayang, serta memiliki integritas.

“Kebanggaan yang sesungguhnya bukan sekadar mampu menghafal banyak juz, melainkan ketika hafalan itu mengubah diri menjadi pribadi yang lebih baik. Al-Qur’an harus hidup dalam hati, pikiran, ucapan, dan tindakan,” ujarnya.

Achmad Muhlis juga mengingatkan pentingnya keseimbangan antara semangat keberagamaan dan kedalaman ilmu pengetahuan. Menurut dia, kesalehan harus dibangun berdasarkan pemahaman agama yang benar agar tidak melahirkan cara pandang yang keliru.

Karena itu, pendidikan tahfiz diharapkan tidak hanya menghasilkan santri yang unggul dalam hafalan, tetapi juga memiliki wawasan luas, pemahaman agama yang mendalam, dan kematangan moral.

“Ilmu dan akhlak tidak boleh dipisahkan. Hafalan tanpa pengamalan akan kehilangan makna, sementara semangat beragama tanpa ilmu dapat melahirkan pemahaman yang keliru. Keduanya harus berjalan beriringan,” katanya.

Dalam kesempatan tersebut, Achmad Muhlis turut mengapresiasi ketekunan 24 santri yang mengikuti I’lan al-Qur’an. Ia menilai capaian hafalan mereka merupakan hasil dari kedisiplinan, kesabaran, dan kesungguhan dalam membagi waktu antara pendidikan formal dan pembelajaran Al-Qur’an.

Menurut dia, proses menghafal dan menjaga hafalan membutuhkan komitmen serta istiqamah. Karena itu, capaian yang diperoleh para santri diharapkan menjadi motivasi untuk terus meningkatkan kemampuan, bukan alasan untuk berpuas diri.

“Saya memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada anak-anak yang malam ini mengikuti I’lan al-Qur’an. Ini bukan perjalanan mudah. Dibutuhkan kesabaran, kedisiplinan, pengorbanan, dan istiqamah untuk menjaga hafalan,” tuturnya.

Ia juga berpesan agar para santri terus menambah hafalan, memperbaiki bacaan, memperdalam pemahaman, dan mengamalkan kandungan Al-Qur’an.

“Jadikan capaian ini sebagai motivasi untuk terus belajar, bukan alasan untuk merasa puas. Jangan berhenti pada jumlah juz yang sudah dihafalkan. Teruslah menambah hafalan, memperbaiki bacaan, memperdalam pemahaman, dan yang paling penting mengamalkan isi Al-Qur’an,” pesannya.

Achmad Muhlis menambahkan, keberhasilan pendidikan Al-Qur’an juga perlu dilihat dari pembentukan karakter santri. Hal itu tercermin melalui sikap berbakti kepada orang tua, menghormati guru, serta memberikan manfaat bagi lingkungan dan masyarakat.

Selain menguji capaian hafalan, kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya MTs Kyai Mudrikah Kembang Kuning meningkatkan kualitas pembelajaran Al-Qur’an, terutama dalam penguasaan ilmu tajwid.

Adapun munaqasah tajwid tingkat lanjutan menguji kemampuan santri dalam memahami dan menerapkan kaidah bacaan Al-Qur’an, mulai dari makharijul huruf, sifat-sifat huruf, hukum bacaan, hingga ketepatan penerapannya dalam tilawah.

Proses pembinaan dan pengujian tersebut dibimbing oleh Dr. KH. Mohammad Holis, M.Si., Ust. Abd. Qadir Maliki, M.Ag., dan Ust. Naufal Maulana, M.H.I.

Achmad Muhlis berharap kegiatan tersebut dapat memperkuat tradisi pendidikan Al-Qur’an sekaligus melahirkan generasi yang memiliki keseimbangan antara kemampuan menghafal, penguasaan ilmu, dan pembentukan akhlak.

“Kita ingin anak-anak tidak hanya mampu membaca dan menghafal Al-Qur’an, tetapi juga memahami kedudukannya sebagai pedoman kehidupan. Pendidikan Al-Qur’an harus melahirkan manusia yang berilmu, berintegritas, dan memiliki kepedulian sosial,” jelasnya.

Ia menegaskan, keberhasilan pendidikan Al-Qur’an tidak semata-mata ditentukan oleh jumlah juz yang dikuasai, tetapi juga sejauh mana nilai-nilainya diterapkan dalam kehidupan.

“Kita ingin melahirkan generasi yang menjaga Al-Qur’an dalam dada dan menghadirkan kemuliaannya dalam perilaku,” pungkas Achmad Muhlis.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *