BeritaDaerah

Bupati Nganjuk dan Kadin Jatim Bekali Kader GMNI soal Kritik Berbasis Data

893
×

Bupati Nganjuk dan Kadin Jatim Bekali Kader GMNI soal Kritik Berbasis Data

Sebarkan artikel ini

SURABAYA, KLIKTIMES.ID – Bupati Nganjuk H. Marhaen Djumadi dan Wakil Ketua Umum Bidang Migas Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jawa Timur Tri Prakoso mengingatkan kader Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) agar tidak asal melontarkan kritik tanpa didukung data dan fakta.

Keduanya menekankan pentingnya nalar kritis untuk menghadapi maraknya hoaks, framing, dan pembentukan opini di ruang publik. Kritik terhadap kebijakan harus disertai pemahaman persoalan secara utuh agar tidak berhenti pada penolakan semata.

Pesan tersebut disampaikan dalam Pelatihan Jurnalistik Batch #3 yang digelar DPC GMNI Surabaya Raya bersama Rumah Literasi Digital (RLD) di Hotel The Alana Surabaya, Jumat (16/10/2026).

Pelatihan bertema Merawat Nalar Kritis dalam Penulisan & Jurnalisme itu diikuti 28 peserta dari kalangan kader dan alumni GMNI. Kegiatan tersebut membekali peserta dengan keterampilan jurnalistik sekaligus memperkuat kemampuan memilah informasi dan menyampaikan pendapat secara bertanggung jawab.

Marhaen menilai, pembelajaran jurnalistik dapat memperluas wawasan kader GMNI yang selama ini juga mempelajari propaganda dan agitasi. Menurut dia, kecakapan literasi diperlukan agar mahasiswa tidak mudah terpengaruh informasi yang menyesatkan.

“Banyak informasi yang mengandung hoaks, framing, maupun informasi dengan tujuan yang tidak jelas. Jika tidak memiliki kecakapan literasi dan kemampuan menyampaikan opini secara kritis, kita bisa terjerumus pada hal-hal yang kurang baik,” kata Marhaen.

Dia juga mendorong agar pelatihan serupa terus berlanjut dengan melibatkan Persatuan Alumni (PA) GMNI. Keterlibatan alumni dinilai dapat membuka ruang pertukaran pengalaman, memperluas jejaring, dan membantu meningkatkan kapasitas kader.

Marhaen berharap hubungan kader dan alumni tidak hanya terjalin dalam kegiatan formal, tetapi juga berkembang menjadi kolaborasi yang mendukung proses kaderisasi dan pengembangan generasi muda.

Sementara itu, Tri Prakoso menegaskan bahwa jurnalistik bukan semata-mata keterampilan bagi wartawan. Prinsip jurnalistik juga dapat digunakan mahasiswa untuk menguji informasi, membaca situasi, dan memahami kepentingan di balik suatu peristiwa.

“Belajar jurnalistik tidak berarti kita harus menjadi wartawan. Lebih dari itu, jurnalistik merupakan sarana untuk melatih nalar kritis, membaca situasi, menguji informasi, dan memahami motif di balik sebuah peristiwa,” ujar Tri.

Dia menggambarkan kondisi saat ini sebagai perang pikiran, ketika informasi dapat digunakan untuk membentuk opini sekaligus memengaruhi cara pandang masyarakat.

Karena itu, Tri meminta kader gerakan mahasiswa membangun argumentasi berdasarkan data dan pemahaman yang memadai. Kritik terhadap kebijakan, misalnya, perlu menjelaskan persoalan yang terjadi, pihak yang memperoleh manfaat, hingga dampaknya bagi masyarakat.

Tri juga mendorong peserta memadukan keterampilan jurnalistik dengan analisis akademik agar gagasan yang disampaikan memiliki landasan intelektual dan bukti yang kuat.

“Tujuannya bukan membela kelompok tertentu, melainkan memperjuangkan keadilan agar kepentingan masyarakat dan pemerintah dapat ditempatkan secara proporsional,” katanya.

Dia berharap kader GMNI mampu mengurai persoalan, menelusuri kepentingan di balik kebijakan, dan menawarkan solusi berdasarkan fakta. Dengan demikian, jurnalistik dapat menjadi sarana membangun tradisi berpikir kritis, bukan sekadar keterampilan memproduksi berita.

Dalam pelatihan tersebut, peserta juga mendapatkan materi teknis yang disesuaikan dengan kebutuhan komunikasi di era digital. Materi meliputi penulisan artikel berbasis search engine optimization (SEO), foto jurnalistik, prinsip peliputan aman (safe reporting), serta pembuatan dan pengelolaan konten media sosial.

Lima pemateri yang terlibat yakni Koordinator Pewarta Foto Indonesia (PFI) Wilayah Indonesia Timur Ali Masduki, Direktur RLD Andika Ismawan, praktisi AI Filmmaker RLD Deni Edi Santoso, pegiat media sosial Eko Edi Rangkutih, dan pengembang web RLD Fatchur Rohman.

Selain Marhaen dan Tri Prakoso, kegiatan tersebut menghadirkan Koordinator Bidang Invensi dan Inovasi BRIDA Jawa Timur Himawan Estu Bagijo serta Ketua PGRI Jawa Timur H. Djoko Adi Waluyo sebagai pembicara utama.

Sekretaris Jenderal GMNI Surabaya Raya Alif Susilo Yusuf Hadiwijoyo mengapresiasi seluruh pihak yang mendukung pelaksanaan kegiatan. Dia bersyukur pelatihan berjalan lancar dan memberikan tambahan pengetahuan bagi 28 peserta.

“Saya bersyukur acara ini bisa berjalan dengan lancar dan 28 peserta mendapatkan tambahan ilmu serta wawasan baru. Saya juga mengapresiasi kehadiran tiga alumni yang berkenan hadir dan memberikan sambutan,” kata Alif.

Dia turut mengapresiasi dukungan Hotel The Alana Surabaya dalam penyelenggaraan kegiatan. Alif berharap kerja sama antara RLD, GMNI Surabaya Raya, dan The Alana Surabaya dapat berlanjut sehingga membuka lebih banyak ruang belajar dan pengembangan kapasitas kader.

Melalui pelatihan ini, GMNI Surabaya Raya dan RLD berharap kader mampu mengembangkan keterampilan jurnalistik sekaligus memperkuat nalar kritis.

Bekal tersebut diharapkan mendorong mahasiswa lebih cermat memverifikasi informasi, memahami persoalan sosial, serta menyampaikan kritik dan gagasan berdasarkan data dan fakta.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *