BeritaNasionalPolitik

SMRC: Elektabilitas Gerindra Melorot dari 29,3 Persen ke 16,9 Persen, Seiring Merosotnya Penilaian terhadap Kinerja Prabowo

1026
×

SMRC: Elektabilitas Gerindra Melorot dari 29,3 Persen ke 16,9 Persen, Seiring Merosotnya Penilaian terhadap Kinerja Prabowo

Sebarkan artikel ini
SMRC: Elektabilitas Gerindra melorot dari 29,3 persen menjadi 16,9 persen. Foto/Kliktimes.

JAKARTA, KLIKTIMES.ID – Peta kekuatan partai politik nasional mulai mengalami pergeseran. Meski masih memimpin sebagai teratas, elektabilitas Partai Gerindra tercatat mengalami penurunan tajam dalam survei terbaru Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC).

Temuan itu terungkap dalam survei bertajuk “Elektabilitas Partai” yang digelar pada 5–19 Juli 2026. Dalam simulasi semi terbuka, Gerindra memperoleh 16,9 persen suara atau turun menjadi partai dengan tingkat keterpilihan tertinggi.

Namun, capaian tersebut menurun cukup signifikan dibandingkan hasil survei sebelumnya dan sebelumnya yang sempat menempatkan Gerindra di atas 29 persen.

Direktur Eksekutif SMRC, Deni Irvani, mengatakan penurunan tersebut menjadi salah satu temuan penting dalam survei kali ini.

“Terjadi survei Juli 2026, elektabilitas Gerindra turun cukup tajam menjadi 16,9 persen,” ujar Deni dalam pemaparan melalui kanal YouTube SMRC TV, Kamis (30/7/2026).

Di bawah Gerindra, PDI Perjuangan berada di posisi kedua dengan 11,7 persen suara. Selanjutnya Partai Golkar memperoleh 9,6 persen, disusul Partai Demokrat dengan 8,1 persen.

Sementara itu, PKB meraih 5,4 persen, disusul PKS sebesar 4,4 persen. Adapun PSI memiliki elektabilitas sebesar 4,1 persen.

Partai-partai lainnya berada di bawah tiga persen. Sebanyak 25,9 persen responden mengaku belum menentukan pilihan atau tidak memberikan jawaban.

Penurunan Sejalan dengan Evaluasi terhadap Pemerintah

Menurut Deni, melemahnya elektabilitas Gerindra berjalan seiring dengan menurunnya penilaian publik terhadap kinerja pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

“Penurunan elektabilitas Gerindra itu sistem paralel dengan turunnya evaluasi positif publik terhadap kinerja Presiden Prabowo,” jelasnya.

Ia menambahkan, perubahan preferensi politik masyarakat dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari kondisi ekonomi, dinamika politik, hingga penegakan hukum.

“Sentimen terhadap kondisi ekonomi, politik, penegakan hukum, serta program-program pemerintah itu berkorelasi dengan perubahan pilihan politik,” imbuh Deni.

Dari Puncak 29,3 Persen Kini Turun ke 16,9 Persen

Secara historis, Gerindra sempat meraih lonjakan elektabilitas setelah Pemilu 2024. Saat itu partai besutan Prabowo Subianto tersebut memperoleh 13,2 persen suara.

Angka itu kemudian meningkat menjadi 23,3 persen pada November 2025, bahkan mencapai 29,3 persen pada periode Februari–Maret 2026.

Namun, tren tersebut berbalik pada survei Juli 2026. Dalam simulasi semi terbuka, elektabilitas Gerindra turun menjadi 16,9 persen.

Penurunan juga dialami PDI Perjuangan, yang merosot dari 17,4 persen pada Februari 2026 menjadi 11,7 persen. Sementara Partai Demokrat justru mengalami kenaikan dari 7,4 persen menjadi 8,1 persen.

Sementara itu, PKB, PKS, NasDem, dan PAN mengalami fluktuasi, meski secara umum tren dukungan terhadap partai-partai tersebut relatif stabil.

SMRC menyebut metode survei menggunakan pengambilan sampel secara acak dengan 1.220 responden, diwawancarai melalui telepon dan tatap muka. Survei memiliki margin of error ±2,9 persen dengan tingkat kepercayaan 95 persen.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *