SUMENEP, KLIKTIMES.ID – Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Komisariat Lancaran Cabang Sumenep menggelar Sekolah Kewirausahaan Chapter I sebagai bagian dari upaya membangun karakter kader yang mandiri dan berjiwa wirausaha.
Kegiatan yang berlangsung pada Kamis (2/7/2026) itu mengusung tema “Membumikan Mindset Kewirausahaan: Menumbuhkan Jiwa Entrepreneurship yang Inovatif, Kreatif, dan Resisten.”
Melalui kegiatan tersebut, peserta dibekali pemahaman mengenai pentingnya membangun pola pikir entrepreneur sebagai bekal menghadapi tantangan dunia usaha sekaligus menciptakan peluang ekonomi di tengah perubahan zaman.
H. Ahmad Ramdan yang hadir sebagai pemateri menegaskan bahwa keberhasilan membangun usaha tidak hanya ditentukan oleh besarnya modal.
Menurutnya, fondasi utama seorang pengusaha terletak pada pola pikir, karakter, dan mentalitas yang tangguh dalam menghadapi setiap tantangan.
“Jangan hanya berpikir bagaimana mendapatkan keuntungan hari ini. Seorang entrepreneur harus mampu membangun usaha yang berkelanjutan, memiliki sistem yang kuat, dan mampu menghadapi perubahan zaman,” ujarnya.
Alumnus HMI Universitas Muhammadiyah Malang itu menjelaskan, perbedaan mendasar antara pedagang dan entrepreneur terletak pada orientasi dalam menjalankan usaha.
Pedagang umumnya, sambung dia, hanya berfokus pada keuntungan jangka pendek, sedangkan entrepreneur membangun nilai, menciptakan inovasi, serta menyiapkan sistem usaha agar terus berkembang dalam jangka panjang.
Menurut H. Ramdan, setiap pelaku usaha juga harus memiliki survivor mindset, yakni kemampuan untuk bertahan dan bangkit ketika menghadapi kegagalan. Baginya, kegagalan bukanlah akhir dari perjalanan bisnis, melainkan bagian dari proses belajar untuk memperbaiki strategi dan meningkatkan kualitas usaha.
“Kegagalan bukan akhir dari perjalanan. Justru dari kegagalan itulah seorang pengusaha belajar memperbaiki strategi, mengevaluasi kekurangan, dan bangkit menjadi lebih kuat,” katanya.
Selain mentalitas, H. Ramdan menilai kemampuan membangun relasi menjadi faktor penting dalam mengembangkan bisnis. Seorang entrepreneur dituntut memiliki kemampuan networking dan lobbying untuk membangun kemitraan, memperluas pasar, serta membuka peluang kerja sama dengan berbagai pihak.
Owner PR Putera Sejahtera Abadi itu juga menepis anggapan bahwa keterbatasan modal menjadi hambatan utama dalam memulai usaha. Menurutnya, investor lebih mempertimbangkan kapasitas pelaku usaha, kelayakan konsep bisnis, serta komitmen dalam menjalankan dan mengembangkan usaha.
“Investor tidak hanya melihat besar kecilnya modal yang dimiliki. Mereka melihat kapasitas orang yang menjalankan usaha, ide bisnis yang ditawarkan, serta komitmen dalam mengembangkan usaha tersebut,” jelasnya.
Ia pun mendorong para peserta agar berani menangkap peluang di berbagai sektor, mulai dari perdagangan, industri, hingga jasa. Menurutnya, peluang usaha akan selalu terbuka bagi mereka yang mampu berinovasi, konsisten, dan peka terhadap kebutuhan pasar.
“Jangan menunggu peluang datang. Ciptakan peluang dengan keberanian memulai, terus berinovasi, dan membangun jejaring yang kuat. Dunia usaha akan selalu memberikan ruang bagi mereka yang mau belajar, beradaptasi, dan tidak mudah menyerah,” katanya.
Sementara itu, kegiatan berlangsung secara interaktif. Para peserta tampak antusias mengikuti setiap sesi dengan mengajukan berbagai pertanyaan seputar strategi membangun usaha, memperluas jaringan bisnis, hingga menghadapi tantangan sebagai wirausahawan muda.
Terpisah, Salah seorang peserta, Achmad Fatoni, mengaku kegiatan tersebut memberinya wawasan baru tentang pentingnya membangun pola pikir kewirausahaan sejak dini.
“Materi yang disampaikan membuka wawasan saya bahwa membangun usaha tidak hanya soal modal, tetapi juga membutuhkan mental yang kuat dan kemauan untuk terus belajar. Saya berharap kegiatan seperti ini terus berlanjut agar semakin banyak kader HMI siap menjadi entrepreneur,” ungkapnya kepada Kliktimes.
Fatoni menilai Sekolah Kewirausahaan menjadi bekal bagi kader HMI untuk membangun pola pikir entrepreneur, berani memulai usaha, dan mampu melihat peluang di tengah tantangan ekonomi.
“Harapannya, kegiatan ini terus berlanjut dengan pelatihan yang lebih aplikatif agar kader HMI tidak hanya memahami teori kewirausahaan, tetapi juga mampu menerapkannya dalam dunia usaha,” harapnya.
















