KLIKTIMES.ID – Nama Khofifah Indar Parawansa telah lama menjadi bagian dari perjalanan politik Indonesia. Perempuan kelahiran Surabaya, 19 Mei 1965 itu bukan hanya dikenal sebagai politisi, tetapi juga tokoh organisasi keagamaan yang mampu mempertahankan pengaruhnya lintas generasi dan lintas pemerintahan.
Perjalanan karier Khofifah terbilang lengkap. Ia pernah berada di ruang aktivisme kampus, parlemen, kabinet pemerintahan, organisasi kemasyarakatan, hingga akhirnya memimpin Jawa Timur selama dua periode.
Konsistensi itulah yang menjadikan Khofifah sebagai salah satu figur perempuan paling berpengaruh di Indonesia saat ini.
Berawal dari Dunia Kampus
Khofifah menempuh pendidikan Sarjana Ilmu Politik di Universitas Airlangga (Unair), Surabaya. Setelah itu, ia melanjutkan pendidikan magister di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia.
Sejak masih menjadi mahasiswa, Khofifah aktif dalam berbagai kegiatan organisasi dan sosial. Aktivisme tersebut menjadi fondasi yang mengantarkannya memasuki dunia politik nasional pada usia yang relatif muda.
Di tengah kesibukannya sebagai aktivis dan politisi, Khofifah juga menjalani kehidupan keluarga bersama suaminya, Indar Parawansa, serta membesarkan empat orang anak.
Meniti Karier dari Parlemen
Langkah politik Khofifah dimulai melalui Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Pada Pemilu 1992, ia terpilih sebagai anggota DPR RI dari daerah pemilihan Jawa Timur.
Kariernya di parlemen berkembang cukup pesat. Pada periode 1995–1997, ia dipercaya menjadi pimpinan Komisi VIII DPR RI yang membidangi urusan agama dan sosial. Kemudian pada 1997–1998, ia menjadi anggota Komisi II DPR RI.
Memasuki era reformasi, Khofifah ikut terlibat dalam proses lahirnya Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), partai yang memiliki kedekatan historis dengan Nahdlatul Ulama (NU).
Di PKB, Khofifah dipercaya menjadi Wakil Ketua DPR RI Fraksi PKB pada 1999. Karier legislatifnya terus berlanjut hingga menjabat Ketua Komisi VIII DPR RI pada periode 2004–2006.
Mengakar Kuat di Lingkungan NU
Selain dikenal sebagai politisi, Khofifah juga memiliki rekam jejak panjang di lingkungan Nahdlatul Ulama.
Sejak tahun 2000, ia dipercaya memimpin Pimpinan Pusat Muslimat NU dan bertahan hingga lima periode kepengurusan. Posisi tersebut menjadikannya salah satu tokoh perempuan paling berpengaruh di tubuh organisasi Islam terbesar di Indonesia itu.
Perannya tidak berhenti di sana. Pada periode 2018–2022, Khofifah menjabat Ketua Umum Ikatan Alumni Universitas Airlangga. Sementara sejak 2022 hingga 2027, ia dipercaya sebagai Wakil Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).
Kombinasi pengalaman di organisasi keagamaan dan dunia politik membuat jaringan serta pengaruh Khofifah menjangkau berbagai lapisan masyarakat, mulai dari akar rumput hingga tingkat nasional.
Dipercaya Menjadi Menteri di Dua Era
Pengalaman Khofifah tidak hanya terbatas di legislatif. Ia juga menorehkan jejak penting di pemerintahan.
Pada era Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Khofifah dipercaya menjabat Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan sekaligus Kepala BKKBN periode 1999–2001.
Saat itu, ia menjadi salah satu menteri perempuan yang menonjol dalam kabinet reformasi.
Lebih dari satu dekade kemudian, Khofifah kembali mendapat kepercayaan masuk kabinet. Presiden Joko Widodo menunjuknya sebagai Menteri Sosial Republik Indonesia pada periode 2014–2018.
Selama menjabat, Khofifah terlibat dalam berbagai program perlindungan sosial, penanggulangan kemiskinan, serta pemberdayaan masyarakat rentan di berbagai daerah.
Dua Kali Gagal, Dua Kali Bangkit
Perjalanan menuju kursi Gubernur Jawa Timur tidak diraih Khofifah secara instan.
Pada Pilkada Jawa Timur 2008, ia harus menerima kekalahan dari Soekarwo. Lima tahun kemudian, pada Pilkada 2013, Khofifah kembali maju dan kembali harus mengakui keunggulan lawannya.
Namun dua kegagalan tersebut tidak menghentikan langkah politiknya.
Kesabaran dan konsistensi akhirnya membuahkan hasil pada Pilkada Jawa Timur 2018. Berpasangan dengan Emil Elestianto Dardak, Khofifah berhasil memenangkan kontestasi dan mencatat sejarah sebagai gubernur perempuan pertama Jawa Timur yang terpilih melalui pemilihan langsung.
Kepercayaan publik kembali menguat pada Pilkada 2024. Berduet lagi dengan Emil Dardak, Khofifah sukses mempertahankan kursinya dengan raihan sekitar 58,8 persen suara.
Ia kemudian dilantik pada 20 Februari 2025 untuk memimpin Jawa Timur periode kedua hingga tahun 2030.
Potret Karier yang Komplet
Jika ditarik dalam satu garis besar, perjalanan Khofifah menggambarkan proses panjang yang tidak selalu mulus.
Ia memulai langkah sebagai aktivis mahasiswa, kemudian menjadi anggota DPR RI dari PPP, ikut membidani lahirnya PKB, menduduki berbagai posisi strategis di parlemen, dipercaya menjadi menteri pada era Gus Dur dan Jokowi, memimpin Muslimat NU selama lima periode, hingga akhirnya memimpin Jawa Timur selama dua periode.
Pengalaman yang mencakup dunia legislatif, eksekutif, organisasi kemasyarakatan, dan politik elektoral membuat Khofifah menjadi salah satu politisi perempuan dengan rekam jejak paling lengkap di Indonesia.
Jejak kariernya menunjukkan bahwa kepemimpinan tidak selalu dibangun melalui kemenangan yang datang dengan cepat. Dalam perjalanan Khofifah, dua kekalahan dalam Pilkada justru menjadi bagian penting dari proses panjang yang mengantarkannya ke puncak kepemimpinan di Jawa Timur.
Kini, setelah lebih dari tiga dekade berkiprah di ruang publik, Khofifah Indar Parawansa tidak hanya dikenal sebagai seorang politisi, tetapi juga sebagai simbol konsistensi, ketekunan, dan daya tahan dalam menghadapi dinamika politik Indonesia yang terus berubah.












