Bappeda
DKPP
RSUD
TANI
Opini

Lelaki yang Berkurban: Ketika Melepaskan Menjadi Bentuk Keberanian

42
×

Lelaki yang Berkurban: Ketika Melepaskan Menjadi Bentuk Keberanian

Sebarkan artikel ini
Foto Ilustrasi.

OPINI, KLIKTIMES.ID – Selama ini, kata “kurban” sering dipahami sebatas tindakan besar yang tampak di mata banyak orang. Ada yang memaknainya sebagai bentuk pengabdian, pengorbanan harta, tenaga, bahkan waktu.

Namun dalam kehidupan sehari-hari, ada bentuk pengorbanan lain yang sering luput dibicarakan: pengorbanan dalam urusan perasaan. Ia tidak terlihat, tidak dirayakan, dan sering kali dipendam sendirian. Tetapi justru di situlah letak beratnya.

Tidak sedikit lelaki yang pada akhirnya harus sampai pada satu fase yang melelahkan: mencintai seseorang dengan sungguh-sungguh, lalu perlahan menyadari bahwa hubungan itu sudah tidak lagi layak diperjuangkan. Rasa sayang mungkin masih ada, bahkan masih besar.

Akan tetapi, hubungan tidak selalu cukup dipertahankan hanya dengan rasa cinta. Ada hubungan yang kehilangan arah, kehilangan timbal balik, dan berjalan hanya karena satu pihak terus berusaha menjaga semuanya agar tetap utuh.

Di titik seperti itu, seseorang biasanya mulai berhadapan dengan dirinya sendiri. Bertahan atau pergi. Melanjutkan harapan atau menerima kenyataan. Dan sering kali, pilihan yang paling benar justru menjadi pilihan yang paling menyakitkan.

Masalahnya, banyak lelaki tumbuh dengan pemahaman bahwa menyerah adalah kelemahan. Mereka diajarkan untuk kuat, untuk tahan menghadapi apa pun, termasuk luka dalam hubungan.

Akibatnya, tidak sedikit yang memaksa dirinya tetap bertahan meski sudah lelah secara emosional. Mereka takut dianggap gagal mempertahankan cinta. Padahal, ada perbedaan besar antara memperjuangkan hubungan dan memaksakan diri tinggal di dalam hubungan yang perlahan menghancurkan diri sendiri.

Dalam kaidah fikih dikenal ungkapan:

دَرْءُ الْمَفَاسِدِ مُقَدَّمٌ عَلَى جَلْبِ الْمَصَالِحِ

Menolak kerusakan harus didahulukan daripada mengambil kemaslahatan.

Kaidah ini memang lahir dalam konteks hukum Islam, tetapi nilai yang dikandungnya sangat relevan dalam kehidupan manusia, termasuk dalam hubungan personal.

Ketika sebuah hubungan lebih banyak menghadirkan luka, ketidakjelasan, dan kelelahan batin dibanding ketenangan, maka menjaga diri dari kerusakan emosional menjadi sesuatu yang penting. Sebab tidak semua yang dipertahankan akan membawa kebaikan.

Sering kali orang mengira melepaskan berarti sudah tidak cinta lagi. Padahal kenyataannya tidak sesederhana itu. Ada orang yang pergi justru karena terlalu lama bertahan. Ada yang memilih mengikhlaskan bukan karena perasaannya hilang, tetapi karena ia sadar bahwa cintanya tidak lagi menemukan tempat yang sehat untuk tumbuh.

Di situlah “kurban” seorang lelaki sebenarnya terjadi.

Ia mengorbankan harapan yang pernah dibangun diam-diam. Mengubur rencana masa depan yang dulu terasa begitu dekat. Menahan diri untuk tidak kembali, meski hati kecilnya masih ingin tinggal. Hal-hal semacam ini mungkin tidak terlihat dari luar, tetapi bagi seseorang yang menjalaninya, itu adalah pertarungan yang tidak ringan.

Guy Winch dalam Emotional First Aid menjelaskan bahwa luka emosional yang terus dipelihara tanpa penyelesaian sehat dapat berdampak serius terhadap kondisi psikologis seseorang.

Hubungan yang dipenuhi ketidakpastian dan luka berulang perlahan bisa mengikis harga diri, membuat seseorang lelah secara mental, bahkan kehilangan kemampuan mempercayai hubungan yang sehat di masa depan. Karena itu, keputusan untuk pergi terkadang bukan bentuk kekalahan, melainkan cara menyelamatkan diri.

Hal yang serupa juga dapat ditemukan dalam pandangan Erich Fromm melalui The Art of Loving. Fromm melihat cinta bukan sekadar keinginan untuk memiliki seseorang, tetapi kemampuan menghadirkan perhatian, tanggung jawab, penghormatan, dan kedewasaan emosional. Ketika sebuah hubungan hanya menyisakan rasa sakit dan pengabaian, mempertahankannya atas nama cinta justru bisa bertentangan dengan makna cinta itu sendiri.

Sayangnya, banyak lelaki memilih diam saat terluka. Mereka terbiasa menyembunyikan kecewa di balik sikap tenang. Tetap tertawa, tetap terlihat biasa, seolah tidak terjadi apa-apa. Padahal di dalam dirinya ada banyak hal yang sedang runtuh perlahan. Budaya sering membentuk lelaki untuk menahan emosi sendiri, sehingga kesedihan mereka jarang benar-benar mendapat ruang.

Karena itu, keputusan seorang lelaki untuk meninggalkan hubungan yang tidak lagi sehat seharusnya tidak selalu dipahami sebagai bentuk ketidaksetiaan atau kegagalan. Bisa jadi itu adalah bentuk penghormatan terakhir terhadap cinta yang pernah ia perjuangkan dengan tulus. Sebab cinta yang baik semestinya membuat seseorang bertumbuh, bukan kehilangan dirinya sendiri.

Dalam kaidah lain disebutkan:

لَا ضَرَرَ وَلَا ضِرَارَ

Tidak boleh membahayakan diri sendiri maupun orang lain.

Kadang manusia terlalu sibuk menjaga orang lain sampai lupa menjaga dirinya sendiri. Padahal mempertahankan hubungan yang terus melukai batin secara perlahan juga bisa menjadi bentuk menyakiti diri.

Pada akhirnya, hidup memang tidak selalu berjalan sesuai dengan apa yang diharapkan. Ada orang yang hanya datang untuk memberi pelajaran, bukan untuk menetap. Dan ada masa ketika seseorang harus belajar menerima bahwa mengikhlaskan adalah bagian dari kedewasaan.

Maka lelaki yang memilih “berkurban” dengan mengorbankan perasaannya bukan sedang menyerah pada cinta. Ia hanya mulai memahami bahwa ada perjuangan yang memang harus dihentikan, bukan karena tidak berharga, tetapi karena jika diteruskan yang tersisa hanyalah luka yang semakin dalam.

“Selamat berqurban atas setiap hal yang layak dikorbankan”

*) Penulis: Ach. Affandi. 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Opini

Dan mungkin di situlah letak kekuatannya.

Ia memahami bahwa keamanan bukan hanya soal senjata, tetapi juga soal perut rakyat, ketahanan sosial, pertanian, ekonomi desa, hingga rasa percaya masyarakat kepada negara.

Opini

Saya tidak sedang menyalahkan semua. Bagi saya “Itu Oknum”. Tidak adil kalau kita pukul rata. Karena kita tahu, masih banyak LSM yang benar-benar bekerja: mendampingi masyarakat, melawan ketidakadilan, bahkan sering berdiri paling depan saat negara datang terlambat.