KUALA LUMPUR | KLIKTIMES.ID – Badan Koordinasi Himpunan Mahasiswa Islam (BADKO HMI) Jawa Timur bersama HMI Cabang Istimewa Malaysia menggelar silaturahmi strategis di Kuala Lumpur, Rabu (30/4/2026). Kegiatan ini bertepatan dengan agenda Misi Dagang Pemerintah Provinsi Jawa Timur di Malaysia.
Pertemuan tersebut menjadi langkah konkret dalam mempererat hubungan kelembagaan sekaligus memperkuat sinergi lintas negara, khususnya di bidang kaderisasi dan pengembangan ekonomi kepemudaan.
Diskusi berlangsung dalam suasana hangat dan penuh semangat intelektual. Kedua pihak sepakat mendorong kolaborasi yang lebih konkret, terukur, dan berkelanjutan sebagai respons atas tantangan global yang semakin kompleks.
Ketua Umum BADKO HMI Jawa Timur, Yusfan Firdaus, menegaskan bahwa agenda tersebut tidak sekadar menjadi ajang silaturahmi seremonial, melainkan bagian dari strategi peningkatan kualitas kader.
“Kolaborasi ini menjadi ruang bersama untuk bertukar gagasan, pengalaman, dan model kaderisasi yang adaptif terhadap perkembangan zaman. Kita ingin kader HMI mampu bersaing secara global tanpa kehilangan identitas keislaman dan keindonesiaannya,” ujar Yusfan.
Sementara itu, Ketua Umum HMI Cabang Istimewa Malaysia, Sayyid Sanjaya, menekankan bahwa perluasan jejaring internasional merupakan kebutuhan mendesak dalam memperkuat kapasitas kader di tengah dinamika global.
Menurut dia, perubahan ekonomi dan sosial di kawasan regional menuntut kader HMI untuk tidak hanya adaptif, tetapi juga memiliki perspektif yang lebih terbuka dan berorientasi global.
“Jejaring internasional bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan. Kader HMI harus mampu membaca peluang lintas negara, memahami dinamika regional, serta tetap membawa identitas keislaman dan keindonesiaan dalam setiap langkahnya,” kata Sanjaya.
Ia menambahkan, penguatan kader tidak cukup dilakukan melalui proses internal organisasi, tetapi juga perlu ditopang oleh pengalaman dan interaksi global yang konkret.
Dalam konteks tersebut, Sanjaya menilai kolaborasi dengan BADKO HMI Jawa Timur dapat menjadi pintu masuk strategis untuk mengembangkan program lintas negara yang lebih aplikatif.
Selain kaderisasi, pertemuan ini juga membahas peluang kerja sama di sektor ekonomi kepemudaan. Sanjaya menyoroti pentingnya mendorong kemandirian ekonomi kader sebagai bagian dari penguatan organisasi.
“Ke depan, kita ingin menghadirkan program nyata, seperti penguatan kewirausahaan kader, pengembangan bisnis berbasis komunitas, hingga membuka akses jejaring ekonomi lintas negara. Ini penting agar kader tidak hanya kuat secara intelektual, tetapi juga mandiri secara ekonomi,” ujarnya.
Melalui agenda ini, kedua pihak berharap sinergi yang terbangun tidak berhenti pada tataran wacana, melainkan mampu melahirkan langkah-langkah strategis yang berdampak langsung bagi kader maupun masyarakat luas.
“Yang terpenting adalah tindak lanjut. Kita ingin hasil pertemuan ini diterjemahkan dalam program kolaboratif yang berkelanjutan dan terukur,” kata Sanjaya.












