PAMEKASAN | KLIKTIMES.ID – Fenomena perundungan, roasting, hingga candaan yang merendahkan martabat orang lain masih kerap terjadi di lingkungan pendidikan maupun pergaulan. Praktik tersebut sering dibungkus humor sehingga dianggap wajar, padahal memiliki dampak psikologis dan sosial yang serius.
Guru Besar Sosiologi Pendidikan Islam UIN Madura, KH. Achmad Muhlis, menilai persoalan ini tidak cukup diselesaikan dengan pendekatan sanksi atau larangan. Ia menekankan perlunya perubahan cara pandang dalam membangun relasi sosial.
Menurutnya, dibutuhkan rekonstruksi etika relasional melalui konsep “kurikulum cinta” yang bertumpu pada nilai al-maḥabbah (kasih sayang) dan al-muwaḥḥid (kesadaran ketauhidan), serta ditopang kepemimpinan profetik.
Muhlis menjelaskan, perundungan tidak hanya berbentuk verbal, tetapi juga hadir melalui simbol, gestur, dan candaan yang membentuk relasi kuasa. Dalam pola ini, sebagian individu menjadi objek ejekan, sementara yang lain berada pada posisi dominan.
Ia mengacu pada teori kekerasan simbolik Pierre Bourdieu yang menjelaskan bagaimana praktik dominasi dapat berlangsung halus dan dianggap normal, termasuk dalam bentuk roasting yang dikemas sebagai hiburan.
“Candaan yang tidak terarah bisa mengaburkan batas antara keakraban dan pelecehan, bahkan menjadi alat normalisasi ketimpangan martabat,” ujarnya.
Muhlis juga menilai perilaku perundungan kerap dipicu kebutuhan akan pengakuan diri, rasa tidak aman, hingga pengalaman emosional yang belum selesai. Dalam kondisi tersebut, ejekan menjadi cara instan untuk merasa lebih unggul.
Melalui konsep “kurikulum cinta”, ia menekankan pentingnya pembentukan karakter yang berlandaskan kesadaran batin, bukan sekadar aturan formal. Pendekatan ini menempatkan setiap manusia sebagai subjek bermartabat dan menciptakan rasa aman dalam interaksi sosial.
Selain itu, ia menegaskan pentingnya keteladanan atau kepemimpinan profetik. Menurutnya, nilai-nilai tersebut hanya efektif jika dicontohkan langsung oleh guru, pemimpin, dan tokoh masyarakat.
“Keteladanan menjadi kunci. Tanpa itu, nilai hanya akan berhenti sebagai wacana,” tegasnya.
Ia menambahkan, pendekatan ini tidak bertujuan menghilangkan ruang humor, tetapi mengarahkannya agar lebih sehat, reflektif, dan tidak merendahkan orang lain.
“Dengan pembiasaan bahasa santun dan ruang aman berekspresi, budaya perundungan diyakini dapat ditekan secara bertahap, ” tandasnya.












