OPINI | KLIKTIMES.ID – Tembakau bukan sekadar tanaman musiman di Madura. Ia adalah denyut ekonomi, napas harapan, sekaligus penopang hidup ribuan keluarga. Menjelang musim tanam, perbincangan tentang tembakau tak pernah benar-benar berhenti—ia hidup di setiap obrolan warung, di ladang, hingga di pikiran para petani.
Harapan masyarakat selalu sama: hasil panen melimpah dan harga yang berpihak. Bahkan bagi banyak keluarga, tembakau bukan hanya komoditas, tapi “jalan keluar”—alat untuk membayar utang, menyekolahkan anak, hingga menyambung hidup ke musim berikutnya.
Namun, realitasnya penuh ketidakpastian. Harga masih jadi misteri, permainan pasar sering tak berpihak, dan nasib petani bergantung pada bandol serta pemilik gudang. Di sisi lain, faktor cuaca terutama kesempurnaan musim kemarau menjadi penentu kualitas yang tidak bisa dikendalikan petani.
Di titik ini, tembakau bukan hanya soal pertanian, tapi soal keadilan ekonomi.
Optimalisasi penyerapan hasil tembakau harus menjadi prioritas. Rantai pasok tembakau Madura bukan sekadar alur distribusi, tapi penentu langsung apakah rakyat hidup layak atau justru terjerat kemiskinan. Sejarah sudah membuktikan, ketika terjadi “musim simin” (gagal panen secara menyeluruh), pilihan terakhir masyarakat adalah merantau—meninggalkan tanahnya sendiri demi bertahan hidup.
Ini alarm keras.
Artinya, negara tidak boleh setengah hadir. Pemerintah daerah hingga pusat harus benar-benar memastikan:
• harga yang adil bagi petani
• kepastian serapan hasil panen
• perlindungan dari permainan tengkulak
• serta dukungan teknis menghadapi risiko iklim
Tanpa itu semua, tembakau hanya akan terus menjadi siklus harapan dan kekecewaan.
Madura tidak kekurangan potensi. Yang kurang adalah keberpihakan yang nyata.
Kalau tembakau adalah pondasi ekonomi Madura, maka memperkuatnya bukan pilihan melainkan kewajiban.
*) Muhsi Ramadhani, Aktivis Muda Sumenep.













