Berita

JSI Sumenep Ngulik Pengetahuan Jurnalistik bersama Ahmadi Neja, Administrator UKW Unitomo Surabaya

63
×

JSI Sumenep Ngulik Pengetahuan Jurnalistik bersama Ahmadi Neja, Administrator UKW Unitomo Surabaya

Sebarkan artikel ini
JSI Sumenep berdiskusi dan ngulik pengetahuan jurnalistik bersama Ahmadi Neja, Administrator UKW Unitomo Surabaya. Foto/Klik Times.

SURABAYA | KLIKTIMES.ID – Usai menuntaskan Rapat Kerja (Raker), Jurnalis Sumenep Independen (JSI) memanfaatkan momen untuk ngopi santai sambil ngulik pengetahuan jurnalistik bersama Ahmadi Neja, Administrator Uji Kompetensi Wartawan (UKW) sekaligus Dosen Universitas Dr. Soetomo (Unitomo) Surabaya.

Diskusi yang berlangsung di De Coffee Surabaya itu terasa ringan, tapi sarat makna. Dari kode etik jurnalistik, pedoman penulisan, Ejaan Yang Disempurnakan (EYD), hingga laporan yang masuk ke meja Dewan Pers, semua dibedah dengan lugas.

Ahmadi menegaskan, kompetensi wartawan bukan sesuatu yang bisa ditukar atau dibeli. Baginya, profesi jurnalis adalah pilar demokrasi yang memikul tanggung jawab besar terhadap publik.

“Jurnalis itu bukan sekadar profesi, tapi amanah. Maka kompetensinya tidak bisa dibeli,” tegasnya.

Ahmadi juga menyoroti fenomena wartawan yang merangkap aktivis Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). Jika terbukti melanggar ketentuan Dewan Pers, konsekuensinya serius.

“Kalau ada laporan dan terbukti melanggar, bisa ditindak. Bahkan sampai pemblokiran atau pembekuan,” ujarnya.

Tidak berhenti di situ, Ahmadi membeberkan rencana integrasi verifikasi administrasi media melalui sistem E-Katalog. Skema ini bertujuan menutup jalan bagi media abal-abal yang muncul tanpa standar profesional. Nantinya, media tidak bisa langsung bekerja sama dengan pemerintah sebelum melewati proses verifikasi resmi.

Diskusi santai ini sekaligus menjadi pengingat bagi anggota JSI untuk terus menjaga kualitas karya jurnalistik yang sehat, berimbang, dan bertanggung jawab.

Ahmadi juga mengulas klasifikasi media, dari media siber, online, massa, hingga mainstream, sambil menekankan bahwa konten media sosial tidak bisa disamakan dengan media siber.

“Informasi belum tentu berita, tapi berita pasti merupakan informasi,” katanya.

Ia menyoroti masih banyak wartawan yang belum menguasai teknik penulisan, kode etik, pedoman penulisan, hingga EYD. Di tengah pesatnya teknologi, keterampilan meramu berita justru semakin penting.

Menariknya, Ahmadi juga membahas peran kecerdasan buatan (AI) seperti Gemini atau ChatGPT dalam dunia jurnalistik. AI bisa menjadi alat bantu positif jika digunakan dengan tepat.

“Satu rilis bisa jadi lima berita berbeda, asal tahu cara memaksimalkannya. AI itu seperti bayi, harus dilatih. Kalau dilatih dengan baik, hasilnya juga akan baik,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua JSI Sumenep, Igusty, menyampaikan apresiasi kepada Ahmadi Neja atas waktu dan ilmunya. Ia menegaskan pentingnya koordinasi agar karya jurnalistik anggota tetap sesuai pedoman dan kode etik sesuai Undang-Undang Pers Nomor 40 Tahun 1999.

“Itu penting agar rekan-rekan benar-benar paham tanggung jawab profesinya,” pungkas Igusty.

Di akhir pertemuan, Igusty meminta Ahmadi Neja bersedia menjadi pembina JSI, agar para jurnalis Sumenep terus mendapat arahan dan penguatan profesionalisme ke depan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *