BeritaDaerah

Mengenal Sosok Hairul Anam, Dari Santri Annuqayah hingga Menjadi Jurnalis, Akademisi, dan Penggerak Literasi

905
×

Mengenal Sosok Hairul Anam, Dari Santri Annuqayah hingga Menjadi Jurnalis, Akademisi, dan Penggerak Literasi

Sebarkan artikel ini
Hairul Anam. Foto/Ist.

SUMENEP, KLIKTIMES.ID – Di balik kiprahnya di dunia jurnalistik, akademik, literasi, hingga industri media, tersimpan perjalanan panjang seorang Hairul Anam. Lahir di Pamekasan pada 4 Mei 1989, Anam tumbuh dari lingkungan pendidikan dan pesantren yang kemudian menjadi akar penting dalam perjalanan intelektualnya.

Anam menempuh pendidikan dasar hingga menengah atas di Yayasan Sosial dan Pendidikan Islam Miftahul Ulum (Yaspimu), Desa Kertagena Tengah, Kecamatan Kadur, Pamekasan.

Langkahnya kemudian berlanjut ke Pondok Pesantren Annuqayah, Guluk-Guluk, Sumenep. Pada rentang 2007 hingga 2012, ia tidak hanya menempuh pendidikan perguruan tinggi, tetapi juga menjalani kehidupan sebagai santri.

Dari Pesantren Menempa Kata

Masa-masa di Annuqayah menjadi salah satu fase penting dalam pembentukan karakter intelektual Anam. Di lingkungan pesantren itulah minatnya terhadap dunia tulis-menulis semakin terasah, baik melalui karya fiksi maupun karya ilmiah.

Produktivitas tersebut kemudian berbuah prestasi. Anam pernah meraih juara dalam Lomba Karya Tulis Ilmiah (LKTI) tingkat nasional, bersaing dengan mahasiswa dari sejumlah perguruan tinggi ternama, di antaranya Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Universitas Airlangga (Unair).

Semasa kuliah, ia juga aktif dalam dunia riset dan pers kampus. Anam pernah menjadi kontributor Harian Surya, mengelola Majalah Fajar, sekaligus menginisiasi lahirnya Majalah Hijrah.

Dari sana, dunia kata tidak lagi sekadar menjadi ruang ekspresi. Tulisan perlahan menjadi jalan pengabdian sekaligus cara Anam membaca zaman.

Dari Ruang Kampus Menuju Dunia Jurnalistik

Setelah menyelesaikan masa studinya di Annuqayah, Anam resmi bergabung dengan Harian Pagi Kabar Madura pada 10 Juni 2012.

Di tengah kesibukannya sebagai jurnalis, ia tetap melanjutkan pendidikan ke jenjang Pascasarjana UIN Madura.

Meski memiliki latar belakang Pendidikan Agama Islam, cakrawala baca Anam berkembang jauh melampaui disiplin akademiknya. Ia tekun mendalami filsafat, sejarah, sastra, hingga metafisika.

Perjalanan jurnalistiknya pun berkembang. Pada 2013, Anam terpilih mewakili wartawan se-Indonesia untuk meliput proyek perluasan Masjidil Haram di Makkah.

Tidak berhenti pada isu keagamaan dan peristiwa besar, selama berada di Madinah, ia juga aktif menyajikan laporan mendalam mengenai perkembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Menulis, Mengajar, dan Menghidupkan Literasi

Dunia jurnalistik tidak membuat Anam meninggalkan dunia akademik dan literasi. Justru keduanya berjalan beriringan.

Dalam rentang 2013 hingga 2020, ia menerbitkan empat buku yang mendapat pembiayaan dari Kementerian Agama Republik Indonesia.

Pada 2026, karya terbarunya kembali hadir. Bersama Miftahur Rozaq, Anam menerbitkan buku berjudul Di Balik Layar Demokrasi.

Jejak pengabdiannya di dunia pendidikan juga semakin panjang.

Pada 2020, ia terpilih sebagai Dosen Praktisi Kemendikbudristek RI dan ditugaskan mengajar di Universitas Madura.

Setahun kemudian, pada 2021, Anam dipercaya menjadi pembicara Gerakan Literasi Digital yang dikontrak oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) RI.

Memasuki 2026, ia bergabung sebagai dosen FIKOM UNIBA Madura dengan mengampu mata kuliah Creative Writing dan Mass Communication.

Menjaga Marwah Profesi Wartawan

Di tengah perjalanan panjangnya sebagai jurnalis, Anam juga aktif dalam organisasi profesi dan pengembangan kompetensi kewartawanan.

Pada 2025, ia terpilih sebagai Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Pamekasan sekaligus menjadi pengurus Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Jawa Timur.

Pada tahun yang sama, ia dinyatakan lulus Uji Kompetensi Wartawan (UKW) tingkat Utama Dewan Pers.

Setahun kemudian, pada 2026, Anam kembali menorehkan capaian dengan lulus sebagai Asesor UKW Dewan Pers. Ia disebut menjadi asesor UKW Dewan Pers pertama dan satu-satunya yang berasal dari Pulau Madura.

Dari Media hingga Dunia Usaha

Kiprah Anam tidak hanya berhenti di ruang redaksi dan kampus. Ia juga mengembangkan diri di sektor kewirausahaan, antara lain melalui bisnis kelapa sawit di Kalimantan, industri rokok, serta usaha Tok Patok.

Di industri media massa, ia dipercaya memegang sejumlah posisi strategis, yakni:

1. Direktur Utama Kabar Madura;

2. Direktur Utama K-TV;

3. Komisaris Utama Media Jatim;

4. Founder kabarjatim.co;

5. Founder kabaranyar.com.

Rangkaian perjalanan tersebut memperlihatkan sosok Anam yang tidak memilih satu jalan untuk ditempuh. Pesantren memberinya akar, kampus memperluas cakrawala, jurnalistik mengajarinya membaca realitas, sementara literasi memberinya ruang untuk terus menyalakan gagasan.

Bagi Anam, perjalanan hidup bukan semata tentang seberapa jauh seseorang telah melangkah, tetapi tentang keberanian untuk terus mengetuk pintu kemungkinan.

Prinsip itu ia pegang erat:

“Satu-satunya kegagalan di dunia ini adalah kegagalan untuk mencoba.”

Kalimat tersebut seolah menjadi benang merah perjalanan Hairul Anam: berangkat dari ruang sederhana seorang santri, tumbuh melalui kata dan pengetahuan, lalu perlahan menjelma menjadi jurnalis, akademisi, penulis, penggerak literasi, organisator, sekaligus pemimpin di industri media.

Sebab pada akhirnya, perjalanan panjang tidak selalu dimulai dari langkah yang besar. Kadang, ia bermula dari keberanian kecil untuk mencoba lalu terus berjalan, meski jalan di depan belum sepenuhnya terang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *