BeritaDaerah

Dr. Naghfir: Mahasiswa Harus Jadi Lokomotif Organisasi di Tengah Disrupsi Teknologi

1037
×

Dr. Naghfir: Mahasiswa Harus Jadi Lokomotif Organisasi di Tengah Disrupsi Teknologi

Sebarkan artikel ini
Dr. Naghfir menerima cenderamata dari pihak Uniba usai menjadi pemateri Orientasi Mahasiswa Baru. Foto/Ist.

SUMENEP, KLIKTIMES.ID – Direktur Naghfir’s Institute, Dr. Naghfir, S.HI., S.H., M.Kn., C.PM., CH., CWC., C.HT., mendorong mahasiswa untuk tidak sekadar menjadi pengguna teknologi, tetapi mampu membaca perubahan dan tampil sebagai penggerak organisasi serta perubahan sosial.

Pesan itu disampaikan Dr. Naghfir saat menjadi pemateri dalam kegiatan Orientasi Mahasiswa Baru Universitas Bahauddin Mudhary Madura (Uniba). Ia membawakan materi ke-4 bertajuk “Human Centered Leadership: Menempatkan Manusia sebagai Pusat Organisasi di Tengah Disrupsi Teknologi”.

Menurut Dr. Naghfir, perkembangan teknologi yang semakin pesat tidak boleh membuat mahasiswa kehilangan arah. Teknologi hanyalah instrumen, sedangkan manusia tetap menjadi penentu arah perubahan melalui karakter, kecerdasan, keberanian, dan kepedulian sosial.

“Mahasiswa harus peka terhadap perubahan sosial, ekonomi, dan politik. Jangan sampai mahasiswa hanya menjadi penonton ketika perubahan terjadi di depan mata. Mahasiswa harus mampu membaca perubahan dan menentukan sikap,” kata Dr. Naghfir.

Ia menilai mahasiswa memiliki posisi strategis sebagai kelompok intelektual muda. Karena itu, kehidupan kampus tidak seharusnya hanya berorientasi pada pencapaian akademik dan perolehan gelar.

“Mahasiswa harus menjadi lokomotif organisasi. Jangan hanya menjadi penumpang. Jadilah orang yang mampu menggerakkan organisasi, melahirkan gagasan, dan mengajak orang lain bergerak menuju perubahan yang lebih baik,” ujarnya.

Bagi Dr. Naghfir, organisasi merupakan laboratorium kepemimpinan bagi mahasiswa. Melalui organisasi, mahasiswa dapat mengasah kemampuan berkomunikasi, membangun kerja sama, mengelola perbedaan, mengambil keputusan, sekaligus belajar bertanggung jawab.

Ia menegaskan, kepemimpinan tidak semata-mata berkaitan dengan jabatan, kekuasaan, ataupun kemampuan memberikan instruksi. Konsep Human Centered Leadership menempatkan manusia sebagai pusat kepemimpinan.

“Kepemimpinan bukan hanya tentang siapa yang memimpin dan siapa yang dipimpin. Kepemimpinan adalah bagaimana kita memahami manusia, membangun kepercayaan, menghargai perbedaan, dan menciptakan lingkungan yang membuat setiap orang bisa berkembang,” paparnya.

Di tengah disrupsi teknologi, prinsip tersebut dinilai semakin penting. Menurutnya, kecanggihan teknologi tidak akan berarti tanpa kualitas manusia yang mampu menggunakannya secara bijak.

“Teknologi boleh berkembang luar biasa cepat, tetapi manusia tidak boleh kehilangan nilai kemanusiaannya. Pemimpin masa depan adalah mereka yang mampu menggunakan teknologi sekaligus tetap mampu memahami, menghargai, dan menggerakkan manusia,” jelasnya.

Dr. Naghfir juga mengingatkan mahasiswa agar tidak membiarkan teknologi mengendalikan pola pikir. Kemampuan beradaptasi dengan perkembangan digital harus berjalan seiring dengan penguatan karakter dan kepedulian terhadap lingkungan sosial.

“Jangan sampai teknologi justru mengendalikan cara berpikir kita. Kitalah yang harus mengendalikan teknologi dan menggunakannya untuk membangun diri,” tegasnya.

Selain kepemimpinan, Dr. Naghfir menyoroti kebiasaan mahasiswa dalam mengonsumsi informasi di era digital. Menurutnya, derasnya arus informasi melalui media sosial menuntut mahasiswa memiliki kemampuan menyaring dan memilih informasi.

“Kurangi mengonsumsi berita yang negatif. Bukan berarti kita harus menutup mata terhadap persoalan yang terjadi, tetapi jangan sampai pikiran kita setiap hari dipenuhi informasi yang hanya membuat kita pesimis,” imbuhnya.

Ia mendorong mahasiswa memperbanyak informasi edukatif, inspiratif, dan membangun kapasitas diri. Teknologi dan media digital, kata dia, seharusnya dimanfaatkan untuk memperluas wawasan, memperkuat kompetensi, serta membuka peluang.

“Gunakan teknologi untuk membangun diri. Cari informasi yang menambah wawasan, memperkuat kompetensi, dan membuka peluang,” katanya.

Dr. Naghfir berharap mahasiswa baru Uniba tidak menjadikan perkuliahan sekadar jalan untuk memperoleh gelar akademik. Masa kuliah harus dimanfaatkan untuk membangun karakter, memperluas wawasan, mengasah kepemimpinan, dan mempersiapkan diri agar mampu memberikan kontribusi bagi masyarakat.

“Mahasiswa harus keluar dari kampus bukan hanya dengan ijazah, tetapi dengan karakter, kapasitas, keberanian, dan kemampuan untuk menjadi bagian dari solusi,” tegasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *