BeritaDaerahPolitik

Nama Achmad Fauzi Menguat Di Pilgub Jatim 2029, Survei Arci Baca Munculnya Poros Politik Madura

246
×

Nama Achmad Fauzi Menguat Di Pilgub Jatim 2029, Survei Arci Baca Munculnya Poros Politik Madura

Sebarkan artikel ini
Bupati Sumenep Achmad Fauzi Wongsojudo masuk empat besar elektabilitas Pilgub Jatim 2029 versi survei ARCI, memperkuat sinyal menguatnya poros politik Madura. Foto/Kliktimes.

SURABAYA, KLIKTIMES.ID – Nama Bupati Sumenep Achmad Fauzi Wongsojudo mulai masuk dalam peta persaingan menuju Pemilihan Gubernur (Pilgub) Jawa Timur 2029.

Berdasarkan hasil survei Accurate Research and Consulting Indonesia (ARCI), Fauzi menempati posisi keempat dalam tingkat keterpilihan (elektabilitas) di kalangan pemilih muda dengan raihan 7,7 persen.

Capaian tersebut dinilai menjadi sinyal mulai menguatnya poros politik Madura dalam kontestasi politik tingkat provinsi. Meski masih berada di bawah Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak, yang memimpin survei dengan elektabilitas 32,1 persen, kehadiran Achmad Fauzi di jajaran papan atas menjadi salah satu temuan yang mendapat perhatian ARCI.

Survei dilaksanakan pada 25 Juni hingga 5 Juli 2026 dengan melibatkan 1.200 responden berusia 17 hingga 40 tahun yang tersebar di 38 kabupaten/kota di Jawa Timur. Pengambilan sampel menggunakan metode Stratified Multistage Random Sampling dengan tingkat kepercayaan 95 persen dan margin of error sekitar ±2,8 persen.

Direktur ARCI, Nanang Haromain, mengatakan survei tersebut secara khusus memotret preferensi politik generasi muda, bukan keseluruhan pemilih di Jawa Timur. Menurutnya, kelompok usia produktif diperkirakan akan menjadi salah satu penentu utama dalam kontestasi Pilgub Jatim 2029.

“Hasil survei menunjukkan Emil Dardak memperoleh elektabilitas sebesar 32,1 persen. Di posisi berikutnya ada Lia Istifhama dengan 17,5 persen, kemudian Eri Cahyadi 10,3 persen, dan disusul Bupati Sumenep Achmad Fauzi Wongsojudo sebesar 7,7 persen,” kata Nanang dalam keterangan tertulis, Jumat (25/7/2026).

Selain empat nama tersebut, survei juga mencatat Muhammad Fawait memperoleh elektabilitas 5,8 persen, Muhammad Nur Arifin 5,2 persen, Yuhronur Efendi 4,1 persen, Aditya Halindra Faridzky 3,9 Persen, Serta Hanindhito Himawan Pratama 2,1 Persen.

Sementara itu, sebanyak 7,1 persen responden memilih tokoh lain, sedangkan 4,2 persen mengaku belum menentukan pilihan.

Menurut Nanang, keunggulan Emil Dardak menunjukkan tingginya tingkat pengenalan sekaligus penerimaan di kalangan generasi muda. Kendati demikian, ia menegaskan bahwa peta persaingan menuju Pilgub Jatim 2029 masih sangat terbuka.

“Emil memang unggul cukup jauh dibanding kandidat lain. Tetapi angka itu juga menunjukkan mayoritas responden masih belum berada dalam basis dukungannya, sehingga ruang kompetisi masih sangat terbuka,” ujarnya.

ARCI juga menyoroti posisi Lia Istifhama yang menempati peringkat kedua. Capaian tersebut dinilai menunjukkan mulai terbentuknya basis dukungan di kalangan pemilih muda, meski Lia bukan kepala daerah aktif.

Nanang menilai intensitas komunikasi publik, keterlibatan dalam berbagai organisasi, serta kedekatan dengan generasi muda menjadi faktor yang mendorong peningkatan elektabilitas Lia.

Di sisi lain, elektabilitas Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi sebesar 10,3 persen menunjukkan bahwa popularitas di tingkat daerah belum tentu berbanding lurus dengan dukungan pada level provinsi.

Sementara itu, masuknya nama Achmad Fauzi Wongsojudo di posisi keempat menjadi salah satu sorotan utama survei. Menurut ARCI, capaian tersebut mengindikasikan mulai munculnya kekuatan politik baru dari Madura yang berpotensi menjadi faktor penting dalam kontestasi Pilgub Jawa Timur 2029.

Meski demikian, ARCI mengingatkan agar selisih elektabilitas di kelompok kandidat papan tengah disikapi secara cermat karena masih berada dalam rentang Margin Of Error. Artinya, posisi para kandidat masih sangat mungkin berubah seiring meningkatnya dinamika politik menjelang Pilgub Jatim.

Selain itu, total responden yang memilih tokoh di luar daftar maupun yang belum menentukan pilihan mencapai 11,3 persen. Angka tersebut menunjukkan preferensi politik generasi muda di Jawa Timur masih cukup dinamis dan peta persaingan belum sepenuhnya terbentuk.

“Generasi muda mulai membentuk pilihan politik jauh sebelum tahapan Pilgub dimulai. Mereka tidak hanya melihat popularitas, tetapi juga mempertimbangkan rekam jejak, kedekatan dengan masyarakat, serta kemampuan figur membangun komunikasi,” pungkas Nanang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *