BeritaPolitik

Peta Politik Jatim Mulai Mengerucut, Emil Dardak Pimpin Survei ARCI untuk Pilgub 2029

192
×

Peta Politik Jatim Mulai Mengerucut, Emil Dardak Pimpin Survei ARCI untuk Pilgub 2029

Sebarkan artikel ini
Emil Elestianto Dardak menjadi figur dengan elektabilitas tertinggi dalam survei ARCI terkait Pilgub Jawa Timur 2029. Foto/Ist.

SURABAYA, KLIKTIMES.ID – Peta politik menuju Pemilihan Gubernur (Pilgub) Jawa Timur 2029 mulai menunjukkan arah. Berdasarkan survei terbaru Accurate Research and Consulting Indonesia (ARCI), Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak menjadi figur dengan tingkat keterpilihan (elektabilitas) tertinggi di kalangan pemilih muda.

Survei yang digelar pada 25 Juni hingga 5 Juli 2026 itu melibatkan 1.200 responden berusia 17–40 tahun yang tersebar di 38 kabupaten/kota di Jawa Timur. Pengambilan sampel menggunakan metode Stratified Multistage Random Sampling dengan tingkat kepercayaan 95 persen dan margin of error sekitar ±2,8 persen.

Direktur ARCI, Nanang Haromain, mengatakan survei tersebut secara khusus memotret preferensi politik generasi muda, bukan keseluruhan pemilih di Jawa Timur. Menurutnya, kelompok usia produktif diperkirakan akan menjadi salah satu penentu utama dalam kontestasi Pilgub Jatim 2029.

“Hasil survei menunjukkan Emil Dardak memperoleh elektabilitas sebesar 32,1 persen. Di posisi berikutnya ada Lia Istifhama dengan 17,5 persen, kemudian Eri Cahyadi 10,3 persen, dan disusul Bupati Sumenep Achmad Fauzi Wongsojudo sebesar 7,7 persen,” kata Nanang dalam keterangan tertulis, Jumat (25/7/2026).

Selain empat nama tersebut, survei mencatat Muhammad Fawait meraih elektabilitas 5,8 persen, Muhammad Nur Arifin 5,2 persen, Yuhronur Efendi 4,1 persen, Aditya Halindra Faridzky 3,9 persen, serta Hanindhito Himawan Pratama 2,1 persen.

Adapun 7,1 persen responden memilih tokoh lain, sementara 4,2 persen menyatakan belum menentukan pilihan.

Nanang menilai keunggulan Emil Dardak mencerminkan tingginya tingkat pengenalan sekaligus penerimaan di kalangan generasi muda. Meski demikian, ia menegaskan bahwa persaingan menuju Pilgub Jatim 2029 masih sangat dinamis.

“Emil memang unggul cukup jauh dibanding kandidat lain. Tetapi angka itu juga menunjukkan mayoritas responden masih belum berada dalam basis dukungannya, sehingga ruang kompetisi masih sangat terbuka,” ujarnya.

ARCI juga mencatat munculnya nama Lia Istifhama di posisi kedua sebagai salah satu temuan menarik. Menurut Nanang, capaian tersebut menunjukkan mulai terbentuknya basis dukungan di kalangan pemilih muda, meskipun Lia bukan kepala daerah aktif.

Ia menilai intensitas komunikasi publik, keterlibatan dalam berbagai organisasi, serta kedekatan dengan generasi muda menjadi faktor yang turut mendongkrak elektabilitas Lia.

Sementara itu, elektabilitas Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi yang berada di angka 10,3 persen menunjukkan bahwa kuatnya popularitas di tingkat daerah belum tentu berbanding lurus dengan dukungan pada level provinsi.

Di sisi lain, masuknya nama Bupati Sumenep Achmad Fauzi Wongsojudo di posisi keempat dengan elektabilitas 7,7 persen menjadi sorotan tersendiri. Capaian tersebut dinilai sebagai sinyal mulai menguatnya kekuatan politik dari wilayah Madura yang berpotensi tampil lebih kompetitif pada Pilgub Jawa Timur mendatang.

Meski demikian, ARCI mengingatkan agar selisih elektabilitas pada kelompok kandidat papan tengah dibaca secara hati-hati karena masih berada dalam rentang margin of error. Dengan demikian, posisi sejumlah tokoh masih sangat mungkin berubah seiring meningkatnya aktivitas politik menjelang Pilgub Jatim 2029.

Selain itu, total responden yang memilih tokoh di luar daftar maupun yang belum menentukan pilihan mencapai 11,3 persen. Angka tersebut menunjukkan preferensi politik generasi muda di Jawa Timur masih cukup cair dan peta persaingan belum sepenuhnya terbentuk.

“Generasi muda mulai membentuk pilihan politik jauh sebelum tahapan Pilgub dimulai. Mereka tidak hanya melihat popularitas, tetapi juga mempertimbangkan rekam jejak, kedekatan dengan masyarakat, serta kemampuan figur membangun komunikasi,” pungkas Nanang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *