BeritaBisnis

Bukan Sultan Dadakan! Pengusaha Rokok Ini Utamakan Sistem, Bukan Gaya Hidup

939
×

Bukan Sultan Dadakan! Pengusaha Rokok Ini Utamakan Sistem, Bukan Gaya Hidup

Sebarkan artikel ini
H. Supriyadi (kanan) bersama Bupati Sumenep Achmad Fauzi Wongsojudo saat bertemu di Sumenep. Foto/Ist.

SUMENEP | KLIKTIMES.ID – Di tengah pesatnya pertumbuhan industri rokok lokal, sosok H. Supriyadi atau yang akrab disapa H. Adi mencuri perhatian. Di balik kesuksesannya meraup omzet miliaran rupiah per bulan, ia justru memilih tetap hidup sederhana dan menjauh dari gaya hidup glamor.

Alih-alih tampil layaknya “sultan dadakan”, H. Adi justru menempatkan fondasi bisnis sebagai prioritas utama. Prinsip itulah yang ia pegang sejak awal membangun usaha Rokok Makayasa di bawah naungan perusahaannya.

Untuk aktivitas sehari-hari, H. Adi masih menggunakan sepeda motor lama jenis Vario. Bahkan, ia mengaku belum memiliki kendaraan pribadi mewah seperti mobil. Saat bepergian ke luar kota, ia lebih memilih transportasi umum seperti travel dan bus.

“Pebisnis sejati bukan yang baru bangun usaha langsung hidup glamor seperti sultan dadakan,” ujar H. Adi, Rabu (1/4/2026).

Menurutnya, kesuksesan bisnis tidak dibangun dari penampilan luar, melainkan dari sistem dan manajemen yang kuat. Ia menegaskan, seorang pengusaha harus lebih dulu memastikan usahanya mampu bertahan dan berkembang secara sehat.

“Yang penting itu membangun sistem, manajemen, dan bisa memberi kehidupan layak bagi banyak orang terlebih dahulu, baru menikmati hasilnya,” katanya.

H. Adi diketahui memulai usaha Rokok Makayasa sejak 13 Desember 2023. Dalam waktu relatif singkat, bisnis tersebut berkembang pesat dan kini telah menyerap sekitar 180 tenaga kerja, mulai dari bagian produksi hingga pemasaran.

Ia menyebut, laba bersih yang diperoleh saat ini telah mencapai miliaran rupiah per bulan. Namun, capaian tersebut tidak lantas mengubah gaya hidupnya.

Bagi H. Adi, ukuran keberhasilan seorang pengusaha bukan pada kemewahan yang ditampilkan, melainkan pada sejauh mana usahanya mampu memberi manfaat bagi orang lain.

“Pengusaha sejati itu mampu memberikan dampak dan manfaat bagi orang lain terlebih dahulu,” tegasnya.

Ke depan, ia membawa visi besar melalui konsep Social Impact System yang berorientasi pada kesejahteraan masyarakat. Dalam tiga tahun mendatang, H. Adi menargetkan mampu menghidupi hingga 6.000 karyawan.

Selain itu, ia juga berkomitmen membantu 6.000 anak yatim dan 6.000 dhuafa, serta membiayai pendidikan 6.000 santri melalui program sosial yang terintegrasi dengan bisnisnya.

Dengan komitmen tersebut, H. Adi berharap bisnis yang dibangunnya tidak hanya tumbuh secara finansial, tetapi juga menjadi kekuatan sosial yang memberi dampak luas bagi masyarakat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *