SUMENEP | KLIKTIMES.ID – Momentum kedatangan kapal pesiar yang mestinya jadi panggung emas promosi pariwisata Sumenep justru memantik kritik. Duta wisata Kacong Cebing Sumenep disorot lantaran tak tampak satu pun saat wisatawan mancanegara bersandar.
Aktivis muda Sumenep, Ridha Halil, menyebut absennya Kacong Cebing bukan sekadar soal teknis, melainkan cermin gagalnya komunikasi dan lemahnya daya tangkap promosi.
“Saat kapal pesiar sandar, seharusnya Kacong Cebing berada di garda terdepan. Faktanya, tidak terlihat satu pun yang bertugas. Ini bukan kelalaian kecil, tapi kegagalan membaca momentum,” tegas Ridha, Jum’at (23/1/2026).
Menurut Ridha, kehadiran kapal pesiar merupakan peluang langka yang tak datang setiap waktu. Ia menilai momen tersebut semestinya dimanfaatkan untuk menunjukkan wajah keramahan dan kekayaan budaya Sumenep kepada dunia.
“Ini peluang promosi berskala internasional. Tapi justru dibiarkan lewat begitu saja tanpa kesan apa pun,” ujarnya.
Ridha pun mempertanyakan efektivitas penyelenggaraan ajang Kacong Cebing yang rutin digelar setiap tahun. Ia menilai, jika pada momen paling strategis para duta wisata tak diberdayakan, maka ajang tersebut berpotensi hanya menjadi seremoni belaka.
“Lalu apa urgensinya tiap tahun menggelar Kacong Cebing, menghabiskan anggaran dan energi, kalau saat momentum besar mereka tidak digunakan?” sindirnya.
“Jangan sampai ini hanya berhenti di panggung, selempang, dan foto-foto, tapi nol dampak bagi promosi daerah,” lanjut Ridha.
Tak hanya itu, Ridha juga menyoroti kepemimpinan internal Kacong Cebing Sumenep. Ia menilai, absennya para duta wisata menandakan lemahnya komunikasi dan koordinasi internal.
“Ini menunjukkan ketua Kacong Cebing gagal membangun komunikasi dan menggerakkan anggotanya. Kalau kepemimpinan berjalan baik, seharusnya anggota siap siaga, bukan justru menghilang saat momentum besar datang,” katanya.
Menanggapi kritik tersebut, Ketua Duta Wisata Sumenep, Khairil Anwar, angkat bicara. Ia menegaskan, absennya Kacong Cebing bukan karena sikap pasif, melainkan karena tidak adanya informasi dan penugasan resmi dari pemerintah daerah.
“Saya sebagai Ketua Duta Wisata tidak pernah menerima informasi dari Disbudporapar terkait kedatangan kapal pesiar itu,” kata Khairil.
“Tidak ada surat, tidak ada pemberitahuan, dan tidak ada penugasan resmi kepada kami,” sambungnya.
Khairil menegaskan, secara prinsip Kacong Cebing selalu siap dilibatkan dalam agenda promosi daerah, terlebih pada momen strategis seperti kunjungan wisatawan mancanegara.
“Kalau ada instruksi resmi, kami siap. Kacong Cebing pada dasarnya selalu siap ditugaskan untuk mendukung promosi pariwisata Sumenep,” tegasnya.
Ia berharap ke depan komunikasi lintas pihak, khususnya dengan Disbudporapar, bisa diperbaiki agar peluang besar promosi daerah tidak kembali terlewatkan.
“Momentum seperti ini seharusnya disiapkan bersama. Jangan sampai peluang besar datang, tapi koordinasi justru tertinggal,” pungkas Khairil.












