BeritaDaerah

Mega Remmeng Kembali Menggema, Legenda Tong-Tong Legung Timur Siap Guncang Festival Sumenep 2025

84
×

Mega Remmeng Kembali Menggema, Legenda Tong-Tong Legung Timur Siap Guncang Festival Sumenep 2025

Sebarkan artikel ini
Grup musik tong-tong legendaris Mega Remmeng asal Legung Timur, Batang-Batang, menampilkan dekorasi khas bernuansa putih dan hitam bergambar “Kuda Terbang Arya Joko Tole”.Foto/Klik Times.

SUMENEP | KLIKTIMES.ID – Setelah lebih dari satu dekade vakum, grup musik tong-tong legendaris asal pesisir Legung Timur, Kecamatan Batang-Batang, Mega Remmeng, akhirnya akan kembali menyapa publik Sumenep.

Penampilan bersejarah itu dijadwalkan berlangsung pada Sabtu malam, 18 Oktober 2025, dan menjadi salah satu momen paling dinantikan dalam kalender kesenian daerah.

Dalam kebangkitannya kali ini, Mega Remmeng kembali mengusung simbol kejayaan masa lalunya, “Kuda Terbang Arya Joko Tole” atau dikenal juga dengan Arya Kuda Panoleh, sosok legendaris Madura yang sarat makna kepahlawanan.

Sosok ini akan menjadi ikon utama dalam pertunjukan, dipadukan dengan tata warna, aransemen musik, serta tata cahaya khas yang telah lama menjadi ciri Mega Remmeng.

Menariknya, grup musik ini tetap mempertahankan warna putih sebagai dasar identitas visualnya. Warna tersebut dimaknai sebagai simbol kesucian awal manusia saat lahir, sekaligus pengingat bahwa setiap insan membawa fitrah bersih sebelum menapaki perjalanan hidup yang penuh warna.

Sejak didirikan pada 2006, Mega Remmeng menjadi kebanggaan masyarakat pesisir utara Sumenep. Ciri khas mereka terletak pada kemampuannya memadukan irama musik tradisional Madura dengan semangat perjuangan dan filosofi hidup orang pesisir.

Namun, sejak 2013 hingga 2024, Mega Remmeng sempat absen dari panggung utama Festival Musik Tong-Tong Sumenep maupun ajang serupa di Madura. Meski begitu, semangat seni para personelnya tak pernah benar-benar padam. Di balik layar, mereka terus berkarya lewat pertunjukan lokal dengan nama lain, seperti Kirmata, bahkan menorehkan sejumlah prestasi di berbagai daerah.

Setelah lebih dari sepuluh tahun beristirahat dari sorotan publik, Mega Remmeng kini kembali dengan formasi baru yang didominasi generasi muda Legung Timur. Kehadiran mereka menandai fase baru dalam perjalanan seni Madura bahwa tradisi tidak hanya diwariskan, tetapi juga diperbarui oleh semangat muda yang segar.

“Kemunculan Mega Remmeng ini untuk membangkitkan kembali jiwa seni anak muda pesisir. Kami ingin menunjukkan bahwa seni adalah bagian dari kehidupan, bukan sekadar hiburan,” kata Huri, Ketua Mega Remmeng, dalam keterangan nya, Sabtu (18/10/2025).

Dalam kiprahnya di dunia kesenian, Mega Remmeng telah mencatat sederet prestasi yang mengukuhkan posisinya sebagai salah satu ikon tong-tong Madura:

2008: Dekorasi Terbaik dan Aransemen Terbaik

2009: Juara Umum Festival Tong-Tong

2010: Aransemen Terbaik

2011: Dekorasi Terbaik (Bintang Tamu)

2012: Mewakili Kabupaten Sumenep dalam lomba tari dan musik di Kota Malang dengan lagu ciptaan sendiri

2013: Menolak tampil di Festival Tong-Tong Sumenep karena jadwal bentrok dengan event Pencak Silat Perisai Putih Jawa Timur, namun tetap mewakili Sumenep dalam acara kabupaten di Tuban.

Selepas masa vakum, Mega Remmeng tetap aktif di panggung rakyat melalui grup Kirmata, bahkan sempat menjuarai kompetisi musik lokal di Kecamatan Saronggi. Tahun 2024 lalu, mereka kembali menorehkan prestasi dengan meraih Juara III di ajang PR Jawara Internasional Djaya, Pamekasan.

Selain dikenal dengan musikalitasnya yang enerjik, Mega Remmeng juga konsisten menghadirkan dekorasi bernilai filosofis. Kombinasi warna hitam dan putih menggambarkan perjalanan manusia dari kesucian menuju ujian kehidupan, lalu kembali bersih di akhir hayat.

Sementara itu, mahkota berbentuk cakra di bagian depan dan belakang dekorasi melambangkan kekuatan dan kendali diri, mencerminkan cita-cita luhur agar manusia senantiasa memiliki kebijaksanaan dalam bertindak.

Nama Mega Remmeng sendiri diambil dari kuda perang legendaris Joko Tole, pahlawan Madura yang dikenal karena keberaniannya menjinakkan kuda liar milik Majapahit. Filosofi keberanian, pengendalian diri, dan kebijaksanaan itulah yang dihidupkan dalam setiap irama tong-tong mereka.

“Nama Mega Remmeng memiliki sejarah kuat yang tak lepas dari Kabupaten Sumenep. Dari sinilah akar kesenian Madura tumbuh dan berkembang,” tutur H. Supyadi, Owner Makayasa, yang turut hadir meninjau persiapan dekorasi Mega Remmeng.

Menurut Supyadi, grup ini sudah lama tak muncul dalam acara resmi pemerintah. Karena itu, kembalinya Mega Remmeng menjadi penanda penting kebangkitan seni daerah.

“Mega Remmeng adalah ikon yang tak boleh hilang dari sejarah kesenian Sumenep,” ujarnya.

Kehadiran kembali grup legendaris ini disambut hangat oleh masyarakat. Pantauan Klik Times menunjukkan, warga berbondong-bondong datang ke lokasi dekorasi Mega Remmeng, sebagian besar ingin mengabadikan momen penting dari “sang legenda yang bangkit dari timur daya”.

Mereka menyebut kembalinya Mega Remmeng sebagai simbol kebangkitan semangat seni tradisional Madura dari pesisir Legung Timur hingga jantung Kota Sumenep.

Dentuman khas tong-tong Mega Remmeng diyakini akan kembali menggema di langit Sumenep, menandai babak baru perjalanan kesenian Madura di tahun 2025 dan membuktikan bahwa tradisi tak pernah benar-benar hilang, hanya menunggu waktu untuk bersuara kembali.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *