BeritaDaerah

Lesbumi Sumenep Gelar Diskusi Buku Masalembu, Bongkar Stigma dan Persoalan Kepulauan

904
×

Lesbumi Sumenep Gelar Diskusi Buku Masalembu, Bongkar Stigma dan Persoalan Kepulauan

Sebarkan artikel ini
Diskusi buku “Masalembu: Suara dari Laut Seberang” menghadirkan Mahéng, A. Dadiri Zubairi, Iskandar Dzulkarnain, dan Ummul Hasanah di Sumenep. Foto/Ist.

SUMENEP, KLIKTIMES.ID – Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (LESBUMI) PCNU Sumenep bersama Penerbit Literatus menggelar diskusi buku bertajuk “Masalembu: Suara dari Laut Seberang”, Sabtu (22/8/2026).

Diskusi tersebut menghadirkan Mahéng selaku penulis buku, A. Dadiri Zubairi sebagai penanggap I, Iskandar Dzulkarnain sebagai penanggap II, serta Ummul Hasanah sebagai moderator.

Tak sekadar membedah proses kreatif penulisan buku, forum tersebut berkembang menjadi ruang diskusi mengenai Masalembu, identitas Madura, stereotip terhadap masyarakat kepulauan, hingga persoalan pembangunan di wilayah kepulauan Sumenep.

Mahéng mengatakan, penulisan buku tersebut awalnya tidak direncanakan. Ide itu muncul dari cerita masyarakat dan pengalaman perjalanannya ketika berinteraksi dengan warga Masalembu.

Dari perjalanan tersebut, dia menemukan banyak kisah menarik yang selama ini tertutup oleh stigma negatif tentang Masalembu.

“Sejelek-jeleknya tulisan adalah sekuat-kuatnya ingatan,” ungkap Mahéng dalam diskusi tersebut.

Menurut dia, buku itu menjadi upaya untuk merekam pengalaman sekaligus menghadirkan narasi lain tentang Masalembu. Selama ini, wilayah tersebut kerap digambarkan sebagai daerah berbahaya, bahkan dikaitkan dengan istilah “Segitiga Bermuda”.

Mahéng menggunakan pendekatan journalism feature dalam menulis buku tersebut. Ia mengangkat kehidupan masyarakat Masalembu yang terdiri dari berbagai kelompok etnis, di antaranya Madura, Bugis, dan Mandar.

Menurutnya, keberadaan laut tidak semestinya dipandang sebagai pemisah antarmasyarakat.

Sebaliknya, laut justru menjadi jembatan yang mempertemukan berbagai kebudayaan dan membentuk peradaban.

Sementara itu, penanggap II Iskandar Dzulkarnain menilai buku “Masalembu: Suara dari Laut Seberang” penting untuk menantang stereotip lama terhadap masyarakat Madura.

Menurutnya, gambaran tentang masyarakat Madura selama ini tidak jarang dibentuk melalui perspektif kolonial yang kemudian diwariskan dan berkembang menjadi stigma.

Padahal, kata Iskandar, kebudayaan Madura sejak dahulu bersifat terbuka dan mengalami persilangan dengan berbagai kebudayaan lain.

“Identitas Madura tidak lahir dalam ruang yang tertutup. Ada banyak perjumpaan budaya yang membentuk masyarakat Madura,” ujarnya.

Selain persoalan identitas dan budaya, Iskandar juga menyoroti pembangunan wilayah kepulauan yang dinilai masih terlalu berorientasi pada daratan.

Sejumlah persoalan seperti akses layanan kesehatan, ketersediaan listrik, lingkungan, hingga kebijakan pengelolaan sumber daya laut dinilai membutuhkan perhatian lebih serius.

Menurutnya, pembangunan kepulauan tidak bisa disamakan begitu saja dengan pembangunan wilayah daratan. Karakter geografis dan sosial masyarakat kepulauan membutuhkan kebijakan yang lebih kontekstual.

Diskusi tersebut sekaligus menjadi ruang untuk melihat Masalembu dari perspektif masyarakat yang tinggal di dalamnya, bukan semata-mata berdasarkan cerita atau stigma yang berkembang dari luar.

Mahéng pun mengajak masyarakat untuk datang dan melihat langsung kehidupan di Masalembu.

“Datang dan lihat sendiri. Jangan hanya berdasarkan katanya,” pesannya.

Diskusi yang digelar LESBUMI PCNU Sumenep dan Penerbit Literatus itu diharapkan dapat membuka perspektif baru, khususnya bagi generasi muda, untuk mengenali kembali wilayah kepulauan Sumenep sebagai bagian penting dari kekayaan budaya dan peradaban Madura.

Masalembu tidak hanya tentang laut dan jarak. Di balik bentang kepulauannya terdapat masyarakat, kebudayaan, sejarah, serta cerita yang layak didengar dan dituliskan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *